JAKARTA - Sebuah fosil yang puluhan tahun tersimpan di laci museum membuat ilmuwan meninjau ulang salah satu teka-teki besar dalam sejarah kehidupan Bumi. Fosil berusia sekitar 500 juta tahun itu menunjukkan “Celah Furongian” mungkin bukan masa ketika kehidupan merosot tajam.
Menurut laporan The Independent dikutip Sabtu, 30 Mei, temuan ini berasal dari studi baru yang terbit di jurnal BMC Biology. Selama ini, para paleontolog menyebut periode samar dalam rekam fosil Kambrium itu sebagai “Celah Furongian”.
Paleontolog adalah ilmuwan yang mempelajari kehidupan purba melalui fosil. Adapun Periode Kambrium adalah masa sangat tua dalam sejarah Bumi, ketika banyak bentuk kehidupan awal mulai muncul.
Celah Furongian dianggap aneh karena rekam fosil menunjukkan ledakan keanekaragaman hayati tepat sebelum dan sesudah masa itu. Karena itu, sebagian ilmuwan menduga pernah terjadi krisis biologis, misalnya akibat perubahan lingkungan, kimia laut, pendinginan iklim, atau kurangnya oksigen di laut purba.
Namun studi baru ini menawarkan kemungkinan lain: Celah Furongian bisa jadi lebih berkaitan dengan lokasi pencarian fosil dan jenis batuan yang selama ini dipelajari, bukan semata bukti runtuhnya keanekaragaman hayati.
BACA JUGA:
Fosil yang diteliti berasal dari Quebec, Kanada. Hewan itu diberi nama Magnicornaspis garwoodi dan termasuk artropoda, yaitu kelompok hewan berkerangka luar seperti serangga, kepiting, laba-laba, dan kalajengking.
Magnicornaspis garwoodi masuk kelompok corcoraniid, artropoda purba yang sangat langka. Ciri tubuhnya berupa perisai kepala lebar, badan beruas, dan duri pertahanan.
Spesimen ini istimewa karena memiliki dua duri besar yang menonjol ke depan dari kepala. Duri itu membedakannya dari kerabat yang sudah dikenal dan menunjukkan kemampuan pertahanan dalam kelompok ini mungkin muncul lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
Fosil tersebut sebenarnya bukan temuan baru di lapangan. Spesimen itu dikumpulkan pada 1962 saat pemetaan geologi dekat Sainte-Anne-de-la-Pocatière, Quebec. Fosil berasal dari batu lumpur Formasi Rivière-du-Loup, yang terbentuk di lingkungan lereng laut dalam pada Kambrium akhir.
Batuan semacam itu berasal dari kondisi laut lepas yang relatif tenang, ketika lumpur halus mengendap perlahan. Selama ini, jenis batuan itu belum banyak mendapat perhatian dari paleontolog.
The Independent melaporkan, fosil tersebut lama tersimpan dalam koleksi Smithsonian National Museum of Natural History di Washington DC. Selama puluhan tahun, nilainya nyaris luput dari perhatian.
Kasus ini menunjukkan bahwa penemuan penting dalam paleontologi tidak selalu datang dari kerja lapangan baru. Koleksi museum yang sudah lama tersimpan juga bisa membuka informasi besar ketika diteliti ulang dengan teknik modern.
Temuan dari Quebec ini memperkuat bukti bahwa dunia Kambrium akhir tidak sepenuhnya miskin kehidupan. Studi dari China dan Swedia sebelumnya juga menemukan fosil terawetkan baik dari sekitar 497 juta hingga 485 juta tahun lalu.
Para peneliti menilai temuan-temuan itu menunjukkan ekosistem pada masa tersebut mungkin tetap beragam dan kompleks.
Fosil Quebec juga memperluas peta wilayah pelestarian fosil bertubuh lunak. Lokasinya berada di tepian Appalachia purba di Laurentia timur, benua purba yang dulu mencakup sebagian besar Amerika Utara dan Greenland saat ini.
Dengan temuan ini, “Celah Furongian” bisa jadi bukan bukti runtuhnya kehidupan, melainkan cermin dari keterbatasan pencarian manusia. Dalam istilah ilmiah, ini disebut bias antropogenik yaitu gambaran yang berubah karena manusia hanya meneliti tempat, batuan, atau koleksi tertentu.
Para peneliti menyebut masih banyak kelompok organisme, bahkan mungkin ekosistem utuh, yang belum ditemukan. Sebagiannya bisa berada di formasi batuan yang jarang diteliti atau dalam koleksi museum yang dikumpulkan puluhan tahun lalu.