JAKARTA – Pemerintah Korea Selatan dan Prancis menjalin kesepakatan baru pada Jumat, 3 April 2026. Keduanya berjanji untuk memperluas kerja sama di sektor sains, khususnya pada bidang Kecerdasan Buatan (AI).
Perjanjian penting ini disepakati saat Presiden Prancis, Emmanuel Macron, melakukan kunjungan kenegaraan. Pertemuan tersebut dilakukan di Seoul dan dihadiri oleh Menteri Sains, Bae Kyung-hoon, serta Philippe Baptiste, perwakilan dari Prancis.
BACA JUGA:
Dalam pertemuan komite gabungan tersebut, kedua pihak sepakat bahwa AI dan komputasi kuantum adalah pilar utama teknologi strategis. Mereka berkomitmen untuk menyelaraskan riset demi menghadapi persaingan teknologi yang semakin ketat di tingkat internasional.
Sejumlah lembaga pendidikan dan riset terkemuka seperti KAIST telah menandatangani nota kesepahaman dengan pihak Prancis. Kolaborasi ini bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran peneliti serta berbagi pengetahuan teknis secara berkala.
Kedua negara juga membahas strategi pengembangan industri AI untuk memperkuat ekonomi digital mereka. Institut Keamanan AI Korea Selatan mengusulkan pembentukan saluran komunikasi khusus dengan lembaga riset digital ternama milik Prancis.
"Korea Selatan akan bekerja sama erat dengan Prancis di era ilmu pengetahuan dan teknologi strategis untuk memimpin persaingan global," kata Kyung-hoon dalam sebuah pernyataan, dikutip melalui Yonhap News pada Kamis, 9 April.
Kunjungan Macron selama dua hari di Korea Selatan merupakan salah satu upaya untuk memperdalam hubungan bilateral kedua negara. Kemitraan jangka panjang keduanya, khususnya di bidang teknologi, diharapkan dapat melahirkan terobosan baru di masa depan.
Kerja sama Korea Selatan dan Prancis tidak hanya mencakup riset dasar, tetapi juga implementasi praktis teknologi kuantum dalam industri nyata. Mereka juga fokus pada keamanan AI agar pemanfaatan teknologi bisa berjalan secara bertanggung jawab dan aman.