Bagikan:

JAKARTA — Pemerintah Amerika Serikat memperingatkan lonjakan signifikan serangan siber yang diduga dilakukan oleh peretas Iran terhadap infrastruktur kritis nasional, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.

Dalam peringatan bersama, sejumlah lembaga termasuk Federal Bureau of Investigation, National Security Agency, serta Cybersecurity and Infrastructure Security Agency mengungkap bahwa kampanye peretasan kini menargetkan perangkat industri yang menjadi tulang punggung layanan publik.

Peretas disebut membidik sistem programmable logic controllers (PLC) dan supervisory control and data acquisition (SCADA), yang digunakan untuk mengoperasikan fasilitas penting seperti energi, air, dan layanan publik lainnya.

“Para pelaku berupaya menciptakan dampak disruptif di dalam Amerika Serikat. Dalam beberapa kasus, aktivitas ini telah menyebabkan gangguan operasional dan kerugian finansial,” demikian isi pernyataan resmi lembaga-lembaga tersebut.

Serangan tidak hanya bersifat infiltrasi, tetapi juga manipulatif. Peretas dilaporkan mengubah tampilan data pada sistem kontrol serta mengekstraksi data proyek dari perangkat yang disusupi—langkah yang bisa membuka pintu bagi sabotase lebih lanjut.

Target serangan mencakup organisasi di sektor layanan pemerintah, fasilitas umum, sistem air dan limbah, serta energi—semua kategori yang masuk dalam definisi infrastruktur kritis nasional.

Peringatan ini muncul di tengah retorika keras dari Presiden AS, Donald Trump, yang menyatakan bahwa “sebuah peradaban bisa mati malam ini” jika Iran gagal mencapai kesepakatan dengan Washington. Di sisi lain, Teheran mengisyaratkan potensi serangan tambahan terhadap target infrastruktur di kawasan Teluk.

Selain FBI, NSA, dan CISA, peringatan ini juga ditandatangani oleh Department of Energy, Environmental Protection Agency, serta unit siber militer Cyber National Mission Force.

Secara strategis, eskalasi ini menandai pergeseran konflik modern ke domain digital, di mana serangan tidak lagi terbatas pada medan fisik, melainkan juga pada sistem yang menopang kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dengan meningkatnya ketergantungan pada sistem otomatisasi industri, para analis menilai bahwa serangan terhadap PLC dan SCADA dapat berdampak luas—dari gangguan distribusi listrik hingga krisis air bersih—menjadikan keamanan siber sebagai garis depan baru dalam konflik global.

Ikuti Whatsapp Channel VOI