JAKARTA - Harga minyak dunia kembali naik tajam pada Senin, setelah konflik di Timur Tengah meluas. Arab News dikutip Senin, 30 Maret melaporkan, kenaikan dipicu serangan pertama kelompok Houthi Yaman ke Israel pada akhir pekan, yang memperbesar dampak perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan menambah tekanan pada jalur pasok energi global.
Minyak mentah Brent naik US$2,43 atau 2,16 persen menjadi US$115 per barel pada pukul 06.42 waktu Arab Saudi. Sebelumnya, Brent sudah melonjak 4,2 persen pada Jumat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$1,86 atau 1,87 persen menjadi US$101,50 per barel, setelah sebelumnya menguat 5,5 persen.
Kenaikan ini mencerminkan pasar makin tidak yakin perang akan berakhir lewat negosiasi dalam waktu dekat. Pendiri Vanda Insights, Vandana Hari, mengatakan pasar praktis sudah mengabaikan peluang penyelesaian lewat perundingan dan kini bersiap menghadapi eskalasi militer yang lebih tajam. Situasi itu, kata Vandana Hari, menjadi sinyal positif bagi harga minyak, meski arah akhirnya masih penuh ketidakpastian.
Dilansir Arab News, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington dan Teheran masih bertemu secara langsung maupun tidak langsung, dan menyebut pemimpin baru Iran “sangat masuk akal”. Namun di saat yang sama, pasukan AS terus berdatangan ke kawasan, sementara militer Israel mengklaim menyerang infrastruktur pemerintahan Iran di Teheran.
BACA JUGA:
Brent tercatat telah melonjak 59 persen sepanjang bulan ini. Itu menjadi kenaikan bulanan paling tajam, bahkan melampaui lonjakan saat Perang Teluk 1990. Pemicu utamanya adalah terganggunya Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Perang yang dimulai pada 28 Februari lewat serangan AS dan Israel ke Iran kini melebar ke kawasan lain. Houthi yang bersekutu dengan Iran mulai menyerang Israel, memicu kekhawatiran baru terhadap jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab, Laut Merah, dan Bab el-Mandeb.
Arab News menyebut, analis JP Morgan menilai konflik kini tak lagi terkonsentrasi di Teluk Persia dan Selat Hormuz, tetapi sudah merembet ke Laut Merah dan Bab el-Mandeb, salah satu titik paling vital bagi aliran minyak mentah dan produk olahan dunia.
Data Kpler menunjukkan, ekspor minyak Saudi yang dialihkan dari Selat Hormuz ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah mencapai 4,658 juta barel per hari pekan lalu. Jika jalur itu ikut terganggu, Saudi disebut harus mengalihkan pasokan lewat pipa Suez-Mediterania milik Mesir.
Serangan pada akhir pekan juga dilaporkan merusak terminal Salalah di Oman, meski upaya membuka perundingan gencatan senjata mulai dilakukan. Iran menyatakan siap merespons jika AS melancarkan serangan darat. Sementara Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan pembicaraan juga menyentuh kemungkinan jalan untuk mengakhiri perang lebih cepat, termasuk peluang dialog AS-Iran di Islamabad.