Bagikan:

Surabaya — Perguruan tinggi di Indonesia didorong untuk tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan formal dan penghasil lulusan akademik semata. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kampus dituntut menjadi pusat inovasi, laboratorium solusi, sekaligus benteng peradaban bangsa.

Pesan kuat itu mengemuka dalam Forum Diskusi Panel Festival Kebangsaan “GEMA KAMPUS” Seri 7 yang digelar di Gedung Rektorat Universitas Negeri Surabaya, Sabtu (9/5/2026). Forum yang merupakan bagian dari rangkaian Rector’s Expressions (REx) Chapter 3 Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia ini mempertemukan para rektor, pejabat pemerintah, akademisi, hingga pemangku kepentingan strategis untuk membahas masa depan perguruan tinggi dalam membangun peradaban bangsa.

Tema yang diangkat, “Sejarah dan Budaya sebagai Rute Peradaban dan Energi Potensial Bangsa”, tidak hanya berbicara mengenai identitas nasional, tetapi juga menyentuh isu strategis seperti inovasi teknologi, keamanan kampus, penguatan karakter kebangsaan, hingga keberlanjutan lingkungan.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, dalam paparannya menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi sentral dalam menentukan arah masa depan Indonesia melalui inovasi berbasis riset dan teknologi.

“Kampus tidak cukup hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi harus menjadi role model dalam menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat—baik dalam pengelolaan pangan, energi, maupun lingkungan berbasis teknologi,” ujarnya.

Menurutnya, kampus harus hadir sebagai penggerak solusi konkret terhadap berbagai persoalan strategis nasional, termasuk ketahanan pangan, energi, hingga pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Ia menilai, kekuatan riset di perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi harus mampu dihilirisasi menjadi inovasi yang memberi dampak ekonomi dan sosial nyata.

Ia juga menegaskan pentingnya kontribusi kampus dalam mendukung agenda strategis nasional, termasuk penguatan sistem pangan dan gizi melalui program SPPG MBG.

“Perguruan tinggi perlu menjadi role model dalam pengelolaan SPPG MBG terbaik yang dapat menjadi rujukan nasional. Ini adalah bagian dari kontribusi nyata kampus dalam mendukung program pemerintah sekaligus memastikan kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Brian memberikan apresiasi khusus kepada Universitas Negeri Surabaya yang dinilainya telah menunjukkan praktik nyata dalam inovasi pengelolaan lingkungan di tingkat kampus.

“UNESA menjadi kampus pertama yang mendeklarasikan pengelolaan sampah 100 persen secara mandiri di lingkungan kampus. Ini adalah contoh konkret bagaimana kampus dapat menjadi laboratorium solusi yang relevan dan berdampak. Praktik seperti ini perlu direplikasi secara nasional,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa penguatan riset dasar, publikasi ilmiah, inovasi, hingga hilirisasi industri tidak boleh dipertentangkan satu sama lain. Seluruh elemen tersebut, kata dia, harus berjalan beriringan sebagai ekosistem yang saling mendukung.

“Ia menegaskan bahwa antara riset, publikasi, inovasi dan hilirisasi jangan saling dipertentangkan, semuanya berjalin berkelindan satu sama lain. Penguatan riset dasar harus berjalan beriringan dengan hilirisasi, sehingga inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada publikasi, tetapi benar-benar memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat luas.”

“Inovasi berbasis riset harus menjadi fondasi utama dalam memperkuat daya saing bangsa di tingkat global. Kami berharap kampus terus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaulat,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia, Eduart Wolok, menekankan bahwa kampus sebagai ruang sosial yang dinamis membutuhkan tata kelola yang adaptif dan kolaboratif.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi faktor kunci agar kampus mampu menjalankan fungsi strategisnya sebagai mitra negara dalam membangun peradaban dan menjaga kohesi sosial bangsa.

Forum ini juga menyoroti keterkaitan erat antara penguatan literasi sejarah dan budaya dengan stabilitas nasional. Dalam diskusi tersebut ditegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mencegah disintegrasi sosial, radikalisme, serta berbagai bentuk konflik yang dapat mengganggu ketahanan nasional.

Karena itu, kampus dipandang tidak hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga benteng kultural yang menjaga persatuan bangsa melalui penguatan nilai kebangsaan dan karakter generasi muda.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Choiri Fauzi, dalam forum tersebut mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari pencapaian teknologi, tetapi juga dari kualitas penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

“Kampus bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan ‘laboratorium peradaban’, ruang lahirnya gagasan, nilai dan gerakan perubahan. Di sinilah karakter dan budaya bangsa dibentuk, mempersiapkan pemimpin masa depan yang memiliki empati, integritas, dan penghormatan terhadap sesama,” tandasnya.

Ia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi ruang yang aman dan inklusif bagi seluruh sivitas akademika.

“Kita tidak boleh mentolerir kekerasan dalam bentuk apa pun, karena dari kampuslah lahir pemimpin masa depan yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” tegasnya.

Arifah mengungkapkan bahwa tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia menjadi alarm serius yang harus mendapat perhatian semua pihak, termasuk institusi pendidikan tinggi.

Karena itu, ia mendorong penguatan implementasi regulasi, optimalisasi Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), serta penyediaan layanan perlindungan yang komprehensif bagi korban kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Diskusi panel juga memunculkan berbagai pandangan dari rektor dan pemangku kepentingan mengenai pentingnya pendekatan komprehensif dalam membangun kampus yang aman, inklusif, dan berkeadaban. Pendekatan tersebut mencakup penguatan literasi kewargaan, pendidikan karakter, hingga sinergi lintas kementerian dalam menangani kasus kekerasan di perguruan tinggi.

Selain itu, forum menegaskan bahwa perguruan tinggi harus terus memperkuat perannya sebagai pusat riset, inovasi, dan solusi kebangsaan berbasis ilmu pengetahuan. Kampus didorong menjadi pilot project dalam menjawab berbagai persoalan nasional melalui pendekatan data, riset, dan teknologi.

Melalui Forum Diskusi Panel Festival Kebangsaan “GEMA KAMPUS” Seri 7 ini, Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan perguruan tinggi dalam mengintegrasikan nilai-nilai peradaban dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kampus diharapkan mampu melahirkan generasi unggul yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, integritas tinggi, kepedulian sosial, serta kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan di tengah kompetisi global yang semakin ketat