JAKARTA - Ekosistem blockchain terus berinovasi dengan menerapkan pembaruan. Baru-baru ini, jaringan blockchain terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, Ethereum, tengah mempersiapkan pembaruan signifikan yang disebut Pectra.
Pembaruan yang rencananya akan diterapkan pada Maret 2025, bakal mengusung sejumlah upgrade penting guna memperkuat posisi Ethereum di tengah ketatnya persaingan platform blockchain. Informasi ini diumumkan dalam pertemuan para pengembang inti Ethereum pada 16 Januari lalu.
Sebagai persiapan peluncuran Pectra, perangkat lunak atau software klien yang diperbarui akan dirilis pada Februari 2025. Proses ini akan diikuti dengan pengujian hard fork pada jaringan uji Sepolia dan Holesky. Jika tahapan pengujian berjalan lancar, pembaruan ini akan diimplementasikan pada jaringan utama Ethereum di bulan Maret mendatang.
Pembaruan Pectra awalnya direncanakan rilis pada akhir 2024. Namun, implementasinya ditunda untuk mengakomodasi sejumlah Proposal Peningkatan Ethereum (Ethereum Improvement Proposals/EIPs) tambahan.
Beberapa fitur utama dalam pembaruan ini antara lain penyederhanaan pengalaman pengguna dompet digital ( wallet), abstraksi akun, peningkatan batas staking validator dari 32 ETH menjadi 2.048 ETH, serta penyempurnaan mekanisme deposit dan penarikan.
Seluruh pembaruan ini bertujuan memperkokoh posisi Ethereum sebagai fondasi utama ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi). Melansir CoinSpeaker, sebagai langkah awal pengujian, jaringan uji sementara bernama Mekong telah diaktifkan sejak November 2024 untuk menguji peningkatan-peningkatan krusial ini.
BACA JUGA:
Rivalitas dengan Solana
Di tengah persiapan pembaruan Pectra, Ethereum harus bersaing dengan kompetitornya. Salah satunya adalah Solana. Meskipun Ethereum masih mendominasi dengan total nilai terkunci (TVL) lebih dari 68 miliar dollar AS (sekitar Rp1.101,6 triliun), rivalitas dengan Solana semakin menguat.
Solana mencatat pertumbuhan jumlah pengembang yang signifikan, yaitu 83%, dan untuk pertama kalinya sejak 2016, melampaui Ethereum dalam aspek ini. Meskipun TVL Solana lebih rendah, yaitu 9,6 miliar dollar AS (sekitar Rp155,5 triliun), efisiensi dan skalabilitasnya menjadikan Solana sebagai alternatif menarik bagi proyek-proyek baru dan investor.
Namun, Ethereum tetap mendapatkan dukungan kuat dari investor institusi. Data dari SoSoValue menunjukkan bahwa pada 16 Januari 2025, dana spot Exchange Traded Fund (ETF) Ether mencatat arus masuk terbesar tahun ini, mencapai 166 juta dollar AS (sekitar Rp2,7 triliun).
Grayscale Ethereum Mini Trust menjadi kontributor utama dengan total arus masuk 565,87 juta dollar AS (sekitar Rp9,2 triliun). Sejak diluncurkan pada Juli 2024, dana ini telah mengumpulkan total arus masuk bersih sebesar 2,64 miliar dollar AS (sekitar Rp42,8 triliun), yang mencerminkan kepercayaan investor yang tetap solid meskipun performa harga Ether cenderung bergerak lamban dibanding pergerakan harga SOL.