JAKARTA - Michel Platini, saat itu menjabat sebagai ketua panitia penyelenggara Piala Dunia 1998 di negerinya sendiri, menjelaskan bahwa alokasi grup untuk tim unggulan saat itu diatur sedemikian rupa, agar Perancis terhindar dari Brasil di babak awal fase gugur. Harapannya, mereka baru akan bertemu di babak final, yang Platini sebut sebagai “final idaman semua orang.”
Di zaman Presiden FIFA Sepp Blatter, skandal demi skandal sepak bola dunia, mewarnai perjalanan sepak bola modern, sebagai bagian dari industri. Begitu banyak, perusahaan raksasa ingin masuk ke FIFA.
Contoh, Adidas sebagai sponsor bola, bisa bertahan setiap 25 tahun bergandengan dengan FIFA. Sehingga Nike sebagai kompetitornya sampai hari ini, hanya di luar FIFA. Lihat saja, persaingan Hyundai dan KIA, untuk urusan kendaraan ofisial 48 negara di Piala Dunia 2026, juga saling sikut menyikut.
Bahkan, penunjukan tuan rumah Piala Dunia FIFA juga selalu menggunakan politik uang. Dan, akhirnya semua anggota Exco FIFA di zaman Sepp Blatter diciduk FBI. Setelah terungkap suap menyuap Afsel jadi tuan rumah. Bahkan, Presiden UEFA – Michael Platini, sejak 2015 lalu dihukum 4 tahun, karena ikut terseret skandal yang diciptakan Sepp Blatter dan kawan-kawan.

Diego Maradona
Masih ingatkah penggemar sepak bola dunia ketika Sepp Blatter harus mengulang hasil hitungan suara antara mayarakat dan hitungan FIFA, untuk memilih seorang pemain yang dinobatkan sebagai pemain terbaik sepanjang masa?
FIFA sangat berharap, Pele sebagai juaranya. Namun, hasilnya justru Maradona yang terpilih menjadi pemain terbaik sepanjang masa. Bahkan, sampai pooling pun diulang. Intinya, FIFA sudah benci banget sampai ke ubun-ubun otaknya Blatter, hingga Maradona yang dipilih oleh 211 pelatih dari semua negara anggota FIFA.
Mengapa FIFA dibawah komando Sepp Blatter tidak ingin ada nama Maradona? Karena karakter dan cara berpikir Maradona tidak sepaham dengan keinginan FIFA. Puncaknya, ketika Piala Dunia 1990, skenario FIFA yang berharap Italia sebagai tuan rumah lolos ke final, dihancurkan oleh Argentina dibawah kapten Maradona.
Bahkan sejak dari babak penyisihan, Argentina “digarap” oleh para wasit FIFA, untuk selalu mengeluarkan kartu kuning untuk pemain Argentina. Sehingga, saat berlaga di final, Argentina tidak bisa diperkuat oleh enam pemain intinya, yang terkena akumulasi dua kartu kuning.

Dampaknya, Argentina dibuat terpincang-pincang di partai final di stadion Olimpico Roma, Italia. Tanpa diperkuat Pedro Monzon, Claudio Caniggia, Jose Serrizuela, Sergio Batista, Ricardo Giusti, dan Julio Olarticoechea.
Masih belum puas, merasa benci dan dendamnya dengan Diego Maradona, orang nomor satu di FIFA – Sepp Blatter itu, kembali mempermalukan Maradona di Piala Dunia Amerika Serikat 1994. Setelah mencetak satu satu gol kemenangan atas Yunani di fase Grup D, dan kemudian seusai melawan Nigeria, Maradona langsung didatangi petugas cewek, anggota tes doping. Dan, kemudian dinyatakan terbukti, gunakan tes doping, dinyatakan positif, Maradona dihukum FIFA.
Bandingkan dengan striker Peru, Paolo Guerrero, yang sudah dihukum 14 bulan karena doping, justru diperbolehkan oleh FIFA berlaga di Piala Dunia Rusia 2018. Aneh bukan? Itulah konspirasi FIFA.
Konspirasi FIFA, Sponsor, dan Televisi
Ocehan Michael Platini, bahwa final ideal antara tuan rumah Perancis dan Brasil di Piala Dunia 1998, bukan hanya faktor keinginan orang-orang yang duduk di lingkunan FIFA, atau para anggota Exco FIFA. Melainkan adanya konspirasi antara FIFA, sponsor, dan televisi.
Bayangkan saja, pendapatan FIFA di Piala Dunia Brasil 2014, adalah sebesar 4,8 miliar dolar AS. Rinciannya: 2,4 miliar dolar dari hak siar televisi, 1,8 miliar dolar dari sponsorship dan aktivitasnya 1 miliar dolar. Penjualan tiket, hanya menghasilkan 550 juta dolar. Artinya sponsor dan televisi akan setara kekuasaanya, secara bisnis dan kepentingan FIFA.
Dalam cerita “History Of Football” di Bein 1, bertutur bahwa, saat Ronaldo stres berat dan mules-mules sebelum laga final antara Perancis vs Brasil - 12 Juli 1998, ada indikasi akibat permintaan dari pihak Nike, sebagai sponsor tim nasional Brasil, dan juga sebagai sponsor individu Ronaldo menekan dan memaksa Ronaldo untuk tidak turun sebagai “starter”.
Peristiwa Ronaldo yang seolah-olah kena “guna-guna” itu, sampai hari ini, sebagai,skandal yang tak mungkin diumumkan FIFA. Penggemar Brasil harus menunggu 50 tahun untuk tahu penyebab Ronando Rozario sakit. Mirip “Hillsborough Disaster”, 15 April 1989.

Dari pihak televisi, secara bisnis pasti butuh dukungan pemirsa dari semua tivi yang membeli hak siar Piala Dunia? Secara nalar, mana ada tivi tidak cawe-cawe untuk ikutan memilih, siapa yang pantas masuk ke “8 Besar”, semifinal dan final. Piala Dunia dianggap event paling premium. Tak ada yang mampu menyamai rekor fantastiknya. Baik rekor penonton, atau pun uang yang beredar!
Mana mau pemilik tunggal hak siar yang bekerjasama dengan FIFA, hanya inginkan partai final Piala Dunia, antara Mesir vs Cape Verde? Atau Jerman vs Curacao? Atau Brasil vs Selandia Baru?
Jika peristiwa itu terjadi di level Piala Dunia U-17, atau U-19 sepertinya oke-oke saja. Namun, itu tak akan pernah terjadi di level senior!
Lebih Mudah Diatur
Di zaman Gianni Infantino, Presiden FIFA yang dianggap letoy ini, justru terkesan mudah diatur oleh siapa pun. Sebelum Gianni Infantino, presiden negara mana pun, sulit bertemu dengan Presiden FIFA, seperti Sepp Blatter.
Namun, saat dikelola Gianni Infantino, Jokowi saja bisa bertemu tiga kali. Bahkan, utusan Indonesia, Erick Thohir pun, bisa bertemu Gianni Infantino, kapan saja, dan dimana pun berada. Padahal, ini sudah masuk ranah intervensi. Namun, FIFA bergeming! Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 pun, dengan mudah mengatur FIFA.
Piala Dunia sebagai “hari raya” pemain-pemain kelas dunia, dalam 40 tahun terakhir, selalu dirayakan di bulan Juni – Juli, saat FIFA Piala Dunia digelar empat tahun sekali. Namun, FIFA bisa klepek-klepek, saat Qatar ngemis-ngemis, agar Piala Dunia 2022, bisa digelar bulan November dan Desember.
Qatar yang sudah melanggar HAM, akibat saat ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, dalam rentang membangun stadion-stadion, telah menewaskan lebih dari 1000 manusia pekerja, dari India, Bangladesh, Pakistan dan Afganistan. Namun, lagi-lagi FIFA bergeming.

Qatar, bukan negara toleran. Qatar adalah negara diskriminattif. Dan, masa depan tuan rumah Piala Dunia, tak akan lagi digelar di jazirah Asia Barat. Pasalnya, negara-negara kawasan Arab, bukan negara sepak bola. Dan, merusak budaya serta jadwal klub-klub elit di daratan Eopa.
Baru-baru ini, Gianni Infantino sebagai orang nomor satu di lembaga sepak bola dunia, sudah membuat wacana, bahwa FIFA Piala Dunia 2030, yang akan berlangsung di Maroko, Portugal dan Spanyol, akan memutuskan ada 64 negara, yang bisa lolos putaran final. Bisnis super raksasa?
Faktanya, FIFA bisa diatur Qatar hanya karena uang. Lalu, apa ada kaitannya dengan PSSI?
Mengingat PSSI itu organisasi dibawah naungan FIFA, maka sepak terjangnya, yang beda-beda tipis. Sama-sama bisa mengatur. Bedanya, kalau FIFA terkesan agak “soft”, kalau PSSI sangat kasar, dan cenderung sudah nggak punya malu.
PSSI Sama Saja
Dalam 10 tahun terakhir ini di Liga Indonesia, siapa yang juara, siapa yang terdegrasi, dan siapa klub yang mau promosi, sudah terlihat jauh-jauh hari, sebelum kompetisi selesai. Kalau tidak percaya, tanyakan saja ke manajemen Persipura Jayapura, Sriwijaya FC Palembang, atau ke Persib Bandung, atau juga ke manajemen PS Bhayangkara, yang ujug-ujug bisa juara Liga Indonesia 2017.
Di zaman Iwan Bule sebagai pemegang “kursi panas’ sepak bola nasional, PSSI, selama menduduki jabatan orang nomor satu di organisasi yang didirkan Ir. Soeratin Sosrosoegondo, 19 April 1930, hanya bermodalkan mengancam, membual dan menyuap.
Jadi, bagi para penggemar sepak bola dunia atau pun lokal Indonesia, tidak perlu sangat fanatik dengan negara peserta yang sedang berlaga di Piala Dunia 2026. Atau juga nggak perlu baper dengan klub-klub lokal Indonesia. Kedua lembaga FIFA dan PSSI sama-sama bisa mengolah, mengatur dan memberi “hadiah”.
BACA JUGA:
Masih ingat, di Piala Dunia 2022, FIFA tak mencolok mengatur juaranya. Namun, konspirasi membawa 16 negara untuk lolos “16 Besar”. Terlihat, sudah meloloskan Belanda dan Argentina untuk ke “8 Besar”. Terkesan lebih punya makna bisnis menggiurkan hingga partai final.
Bisnis FIFA bisa menghancurkan dan menyenangkan setiap negara, di event kakap Piala Dunia. Sedangkan sebagian pengurus PSSI, serta para ofisial klub yang atur mengatur dengan bandar suap dan kaki tangannya. Sebelas dua belas, bukan?
J. Erwiyantoro
(Kolumnis Sepak Bola)