Bagikan:

JAKARTA – Di tengah semaraknya mata uang kripto di dunia. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan rencananya untuk menerbitkan mata uang Rupiah digital alias Central Bank Digital Currency (CBDC). 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia mengatakan, penerbitan rupiah digital atau CBDC untuk menyokong digitalisasi ekonomi di Indonesia, termasuk membendung popularitas cryptocurrency.

"Tergantung desainnya ada beberapa desain. Kalau misalkan Bank Indonesia mengeluarkan CBDC (Central Bank Digital Currency) sekarang disebut uang primer sebagai uang kertas yang dikeluarkan Bank Indonesia secara statistiknya sudah dalam bentuk digital," ujar Erwin seperti dikutip dari podcast CNBC Indonesia, Jumat, 26 Maret.

Perlu diketahui, CBDC adalah uang digital yang diterbitkan dan peredarannya dikontrol oleh bank sentral dalam hal ini adalah BI. Uang Rupiah digital ini digunakan sebagai alat pembayaran yang sah untuk menggantikan uang kartal.

Konsep ini sedikit berbeda dengan cryptocurrency seperti Bitcoin di mana uang internet ini dihasilkan dari proses penambangan file komputer. Bitcoin bersifat desentralisasi, tidak butuh bank sentral dan bank dalam transaksi karena transaksinya berlangsung secara peer-to-peer dari pengirim ke penerima.

Ada beberapa model desain CBDC dalam pembuatan uang Rupiah digital. Pertama CBDC akan mempercepat proses menontunaikan uang dengan lebih mudah, privasi, memiliki akses universal, pembayaran luar negeri (cross-border).

Kendati demikian, pencetakan uang Rupiah digital perlu kehati-hatian. Mengingat Indonesia terdiri dari ratusan ribu kepulauan dan tidak semuanya memiliki akses pada teknologi dan internet.

“Timing is everything. Kami dalam tahap melihat semua, nanti tidak salah desain salah teknologi,” imbuh Erwin.

Selain itu faktor keamanan siber perlu diperhitungkan. Mengingat semua sistem perbankan saat ini sangat bergantung pada jaringan internet, maka serangan siber rentan terjadi. 

Erwin mengungkapkan uang rupiah digital harus dibentengi dengan sistem keamanan siber yang berlapis. Agar terhindar dari krisis finansial yang berasal dari serangan siber. 

"Yang dimaksud dengan siber security bukan hanya prevention tapi juga resolution yang harus ada dalam desain," kata Erwin.

Sejauh ini, China telah lebih dulu memiliki Yuan Digital sebagai bagian transaksi keuangan yang sah. "Jadi pada dasarnya kami sedang mengadopsi CBDC dalam blueprint pembayaran saat ini."