JAKARTA - Produsen mobil mewah Mercedes-Benz, yang telah lebih dari 130 tahun dikenal membangun kendaraan premium, mengambil langkah mengejutkan ketika bermitra dengan pabrikan China untuk merancang generasi mobil listrik berikutnya.
Langkah ini menandai perubahan besar bagi perusahaan yang selama ini dikenal sangat menjaga rahasia teknologi rekayasanya di Jerman. Sebagaimana dilansir dari ArenaEV, Jumat, 6 Maret.
Dalam proyek terbarunya, Mercedes-Benz tengah menyiapkan platform mobil listrik kompak baru yang masih menggunakan nama kode Phoenix. Untuk merealisasikannya, pabrikan asal Jerman tersebut bekerja sama dengan perusahaan otomotif China, Geely.
Dalam kolaborasi ini, Mercedes akan memanfaatkan arsitektur elektronik dan kelistrikan milik Geely yang dikenal sebagai GEEA 4.0. Teknologi ini berfungsi sebagai otak kendaraan karena mengatur berbagai sistem penting, mulai dari pengelolaan baterai hingga tampilan layar di dalam kabin.
Keputusan menggunakan teknologi dari mitra China bukan tanpa alasan, salah satu faktor utama adalah efisiensi biaya. Pengembangan kendaraan listrik membutuhkan investasi besar, sementara Geely dinilai berhasil menciptakan metode produksi yang lebih hemat.
Bahkan sejumlah eksekutif Mercedes-Benz dilaporkan sempat mengunjungi pusat riset Geely untuk mempelajari lebih dalam teknologi mereka, termasuk membongkar kendaraan yang dikembangkan perusahaan tersebut. Dari situ mereka melihat potensi untuk menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas yang selama ini menjadi identitas Mercedes.
Kolaborasi ini juga membawa perubahan dalam struktur pengembangan kendaraan Mercedes-Benz. Untuk pertama kalinya, perusahaan memberikan peran utama kepada tim teknik di luar Jerman dalam proyek global.
Pusat penelitian dan pengembangan Mercedes-Benz China yang berada di Beijing kini ditunjuk sebagai kantor pusat global untuk pengembangan mobil kompak. Sekitar 2.000 tenaga kerja di fasilitas tersebut akan menangani proses desain hingga pengembangan model-model baru.
Platform Phoenix nantinya akan menjadi fondasi bagi sejumlah model populer Mercedes-Benz generasi berikutnya, termasuk A-Class, B-Class, dan CLA. Perusahaan menargetkan kendaraan berbasis platform ini mulai diproduksi secara massal sekitar tahun 2030 dan dipasarkan secara global, tidak hanya di China.
BACA JUGA:
Langkah ini juga tidak terlepas dari ketatnya persaingan di pasar otomotif China. Dalam beberapa tahun terakhir, merek lokal seperti Nio dan Aito semakin agresif menghadirkan mobil listrik premium.
Kondisi tersebut membuat produsen asing harus beradaptasi lebih cepat. Penjualan Mercedes-Benz di China bahkan tercatat turun sekitar 19 persen tahun lalu menjadi sekitar 550.000 unit.
Angka tersebut hampir sama dengan penjualan satu dekade lalu, menandakan pertumbuhan yang mulai stagnan. Dengan memanfaatkan teknologi serta rantai pasok dari China, Mercedes berharap dapat kembali menarik minat konsumen.
Kerja sama Mercedes-Benz dengan Geely juga mencerminkan tren baru di industri otomotif global. Beberapa produsen besar lain mulai menjalin kolaborasi dengan perusahaan teknologi kendaraan listrik dari China.
Volkswagen, misalnya, bekerja sama dengan XPeng, sementara Stellantis telah menanamkan investasi pada Leapmotor. Langkah ini diambil karena China kini dianggap sebagai salah satu pusat perkembangan teknologi baterai dan kendaraan listrik dunia.
Meski menggandeng teknologi dari China, Mercedes-Benz menegaskan karakter khas mobil mereka tetap dipertahankan. Perusahaan menyebut proyek ini bertujuan memadukan rekayasa khas Jerman dengan inovasi dari China.
Jika berjalan sesuai rencana, proyek Phoenix yang ditargetkan hadir pada 2030 akan menjadi bukti apakah strategi kolaborasi lintas negara ini mampu membawa Mercedes-Benz tetap kompetitif di era kendaraan listrik.