JAKARTA - Kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) kerap dipandang sebagai solusi paling realistis di antara mobil bermesin bensin murni dan mobil listrik berbasis baterai. Teknologi ini menggabungkan mesin pembakaran internal dan motor listrik, sehingga diklaim menawarkan efisiensi lebih baik sekaligus performa lebih responsif dibanding hybrid konvensional.
Namun, keuntungan tersebut ternyata sangat bergantung pada cara pemilik menggunakannya. Studi terbaru dari China yang akan dimuat dalam jurnal ilmiah Transport Policy menegaskan, jika pengguna jarang atau bahkan tidak pernah mengisi daya, PHEV justru berpotensi menjadi pilihan yang kurang tepat.
Melansir dari The Drive, Selasa, 13 Januari, penelitian ini mensurvei 500 unit PHEV yang digunakan sehari-hari di Shanghai dengan mempertimbangkan berbagai metode dan kebiasaan pengisian daya. Peneliti menjelaskan cara kerja PHEV dapat disederhanakan menjadi dua mode utama.
Pertama adalah Charge Depleting (CD), yaitu saat baterai terkuras karena penggunaan dan kendaraan memanfaatkan tenaga listrik secara maksimal, baik dalam mode berkendara listrik murni maupun bantuan torsi instan.
Kedua adalah Charge Sustaining (CS), ketika baterai melemah dan mesin bensin bekerja hampir sepanjang waktu, hanya menyisakan energi kecil untuk mempertahankan daya baterai melalui suplai mesin serta pengereman regeneratif.
Dalam kondisi optimal, PHEV yang lebih sering beroperasi dalam mode CD. Hal itu memang menunjukkan peningkatan efisiensi yang signifikan dibanding hybrid biasa, setidaknya dalam pengujian laboratorium.
BACA JUGA:
Namun, studi tersebut menemukan indikasi PHEV dengan baterai dalam kondisi pengisian tinggi mampu menghasilkan emisi nitrogen oksida (NOx) 40 hingga 60 persen lebih rendah dibanding kendaraan bensin dalam siklus penggunaan perkotaan. Namun, angka di dunia nyata ternyata lebih kecil, dengan penurunan hanya sekitar 20 persen.
Masalah terjadi ketika baterai habis dan kendaraan masuk ke mode CS, terutama bila pengguna jarang mengisi daya. Dalam skenario terburuk, saat pemilik sama sekali tidak pernah mengisi daya PHEV, emisi justru melonjak tajam.
Studi itu mencatat peningkatan emisi sebesar 62 persen untuk NOx, 70 persen untuk hidrokarbon, dan 46 persen untuk karbon dioksida, dibanding saat kendaraan beroperasi pada kondisi CD. Selain emisi, faktor bobot juga menjadi sorotan.
Saat baterai kosong, PHEV membawa paket baterai yang berat tanpa kontribusi tenaga listrik yang sebanding, sehingga mesin pembakaran internal harus bekerja lebih keras dan lebih lama. Sebagai ilustrasi, Mitsubishi Outlander versi mesin bensin memiliki bobot sekitar 3.900 pound, sementara versi plug-in hybrid mencapai 4.600 pound.
Kia Niro PHEV juga tercatat 250 pound lebih berat ketimbang varian hybrid konvensionalnya. Kesimpulannya, PHEV tetap menawarkan keunggulan, tetapi harus selaras dengan rutinitas pengisian daya pemiliknya agar manfaatnya benar-benar terasa.
Berbeda dengan EV murni yang “memaksa” pengguna disiplin mengisi daya karena kendaraan tidak akan berjalan tanpa listrik, PHEV masih bisa digunakan tanpa mengecas, namun dengan konsekuensi biaya operasional lebih tinggi, efisiensi menurun, dan polusi meningkat.