JAKARTA – General Motors (GM) tengah berupaya menghadirkan mobil listrik terjangkau melalui Bolt EV generasi kedua yang dijadwalkan akan diproduksi di pabrik perusahaan di Fairfax, Kansas, pada akhir tahun ini dan akan tersedia di dealer pada tahun 2026.
Namun untuk itu, General Motors (GM) perlu mengambil langkah strategis dengan mengimpor baterai dari produsen baterai terbesar di dunia asal China, CATL, untuk menggerakkan Chevrolet Bolt EV. Keputusan ini diambil sebagai solusi sementara untuk menekan biaya, meskipun harus menghadapi tarif impor yang tinggi.
Laporan dari The Wall Street Journal diteruskan CnEVPost, Jumat, 8 Agustus, menyebutkan bahwa GM berencana untuk membeli baterai dari CATL selama sekitar dua tahun. Langkah ini akan memberi waktu bagi GM dan mitranya, LG Energy Solution, untuk memproduksi baterai dengan biaya rendah, khususnya menggunakan teknologi Lithium Iron Phosphate (LFP), di Amerika Serikat.
Meskipun menghadapi tarif impor yang signifikan—sekitar 80 persen untuk baterai EV dari China tetapi keputusan ini menjadi lebih masuk akal bagi GM. Hal ini terutama karena insentif kendaraan listrik sebesar 7.500 dolar AS akan dihilangkan bulan depan. Dengan demikian, Bolt EV tidak lagi akan berada pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan mobil listrik lain yang memenuhi syarat kredit tersebut.
BACA JUGA:
Juru bicara GM menegaskan bahwa langkah ini adalah "solusi sementara" untuk tetap kompetitif di pasar EV yang semakin ketat.
"Selama beberapa tahun, pembuat mobil AS lainnya telah bergantung pada pemasok asing untuk sumber dan lisensi baterai LFP," ujar juru bicara tersebut.
"Untuk tetap kompetitif, GM akan sementara waktu mendapatkan paket baterai ini dari pemasok serupa untuk menggerakkan model EV kami yang paling terjangkau," tambahnya.
LFP dikenal dengan biayanya yang lebih rendah, meskipun memiliki kepadatan energi yang lebih rendah dibandingkan baterai lithium ternary.
Diketahui, CATL bersama dengan BYD, mendominasi pasar baterai LFP global, sementara produsen Jepang dan Korea Selatan lebih fokus pada baterai lithium ternary. Menurut data dari SNE Research, CATL tetap menjadi pemimpin pasar baterai global dengan pangsa pasar 37,9 persen pada paruh pertama tahun ini