Bagikan:

JAKARTA - Barcelona melaporkan pada Selasa, 7 Oktober 2025, kerugian setelah pajak untuk tahun kedua berturut-turut dengan mencatatkan defisit sebesar 17 juta euro (sekitar Rp326,8 miliar) untuk musim 2024/2025.

Melansir ESPN, Kekurangan tersebut menjadikan defisit selama dua musim terakhir mencapai 108 juta (sekitar Rp2 triliun), selepas klub mencatat kerugian setelah pajak sebesar 91 juta (sekira Rp1,7 triliun) pada periode 2023-2024.

Namun, setelah pendapatan meningkat menjadi 994 juta euro (Rp19,1 triliun), naik 100 juta euro (berkisar Rp1,9 triliun) dari tahun sebelumnya, Barcelona mengatakan hasil tersebut melanjutkan konsolidasi pemulihan ekonomi klub setelah bertahun-tahun mengalami kesulitan keuangan.

Faktor utama peningkatan omzet dikaitkan dengan perjanjian baru dengan Nike, peningkatan penjualan merchandise, peningkatan hasil di lapangan, dan peningkatan jumlah penonton di Stadion Olimpic Lluis Companys.

Blaugrana memperkirakan tren tersebut akan berlanjut musim depan, dengan pendapatan diprediksi mencapai 1 miliar euro (sekitar Rp19,2 triliun) berkat kembalinya Spotify ke Camp Nou yang akan segera terjadi--yang diklaim bernilai tambahan 50 juta euro (sekira Rp961,3 miliar) bagi klub musim ini--dan kerugian setelah pajak diperkirakan akan berubah menjadi laba.

Kinerja keuangan telah naik-turun sejak Joan Laporta terpilih sebagai presiden pada 2020.

Pada akhir musim pertamanya, 2020/2021, Barcelona membukukan kerugian sebesar 481 juta euro (sekitar Rp9,2 triliun), sebagian besar disebabkan oleh pandemi Covid-19, juga karena keputusan dewan untuk menghapuskan atau mendevaluasi aset-aset tertentu.

Barcelona kemudian membukukan laba sebesar 98 juta euro (sekitar Rp1,8 triliun) dan 304 juta euro (berkisar Rp5,8 triliun) dalam dua musim berikutnya.

Meski begitu, keuntungan tersebut terutama berasal dari penjualan sebagian pendapatan masa depan dari hak siar televisi domestik.