Bagikan:

JAKARTA - MacBook Neo menjadi salah satu produk Apple paling mengejutkan tahun ini. Dengan harga mulai 599 dolar AS (Rp10,5 juta), laptop terbaru Apple itu bukan hanya menjadi Mac termurah saat ini, tetapi juga disebut cukup kuat untuk membuat sebagian pengguna MacBook Pro berpikir dua kali sebelum membeli laptop kelas profesional tersebut.

Dalam ulasan terbaru setelah dua bulan pemakaian, reviewer teknologi Oliver Haslam menyebut MacBook Neo sebagai “laptop Mac untuk kebanyakan orang.” Bahkan, ia mengaku beberapa kali mempertimbangkan meninggalkan MacBook Pro M4 Pro 16 inci miliknya demi beralih ke MacBook Neo yang jauh lebih murah dan ringan.

Hal paling menarik dari MacBook Neo adalah penggunaan chip A18 Pro, prosesor yang sebenarnya berasal dari lini iPhone. Banyak pihak awalnya meragukan kemampuan chip tersebut menjalankan macOS secara optimal di laptop. Namun dalam praktiknya, performa MacBook Neo ternyata jauh lebih baik dari perkiraan.

Haslam mengatakan kekhawatirannya hilang hanya dalam lima menit pertama setelah membuka laptop itu. Menurutnya, chip A18 Pro mampu menjalankan berbagai aktivitas harian tanpa masalah berarti, mulai dari membuka banyak tab browser, multitasking, hingga editing gambar ringan menggunakan Pixelmator Pro.

Dalam pengujian benchmark, performa multi-core chip A18 Pro disebut mendekati MacBook Air M1 generasi pertama. Bahkan untuk performa single-core, chip tersebut disebut lebih cepat dibanding M1. Ini membuat MacBook Neo terasa jauh lebih bertenaga dibanding laptop murah pada umumnya.

Dari sisi desain, MacBook Neo mengusung layar 13 inci dengan bodi aluminium khas Apple. Material premium itu membuat laptop terasa kokoh dan mahal, berbeda dengan kebanyakan laptop murah yang masih menggunakan plastik.

Reviewer juga memuji desain portabel MacBook Neo. Dengan ukuran kecil dan bobot ringan, laptop ini dianggap sangat nyaman dibawa bepergian. Warna “Blush” atau pink muda juga disebut menjadi salah satu daya tarik unik perangkat tersebut.

Meski begitu, Apple tetap melakukan sejumlah pengorbanan demi menjaga harga tetap murah. Salah satunya ada pada konektivitas. MacBook Neo hanya memiliki dua port USB-C, dan hanya satu yang mendukung kecepatan USB 3 10Gbps. Port lainnya masih terbatas pada kecepatan USB 2.

Tidak ada MagSafe seperti pada MacBook Air dan MacBook Pro modern. Pengisian daya juga menggunakan salah satu port USB-C tersebut. Selain itu, laptop hanya memiliki jack headphone 3,5 mm sebagai konektivitas tambahan.

Di sektor layar, MacBook Neo menggunakan panel Liquid Retina dengan tingkat kecerahan maksimum 500 nits. Layarnya memang cukup bagus untuk penggunaan sehari-hari, namun tidak mendukung gamut warna P3 dan tidak memiliki fitur True Tone seperti MacBook yang lebih mahal.

Apple juga memangkas fitur keamanan biometrik. Sensor Touch ID ternyata tidak tersedia di model dasar 256GB. Pengguna harus membeli varian SSD 512GB yang lebih mahal untuk mendapatkan fitur tersebut.

Kapasitas penyimpanan dasar 256GB juga menjadi salah satu kelemahan laptop ini, terutama bagi pengguna yang ingin menyimpan game atau file besar. Reviewer menyebut SSD bawaan terasa agak lambat saat pertama kali menginstal aplikasi dalam jumlah banyak.

MacBook Neo juga dinilai bukan perangkat ideal untuk gaming. Walau beberapa game masih bisa dijalankan dengan cukup baik, kombinasi kapasitas SSD kecil dan keterbatasan GPU membuat pengalaman bermain game kurang optimal.

Keterbatasan lainnya muncul saat laptop dihubungkan ke monitor eksternal. Berdasarkan spesifikasi resmi Apple, MacBook Neo hanya mendukung satu layar eksternal hingga resolusi 4K 60Hz.

Namun reviewer mengalami masalah saat mencoba menghubungkan laptop ke monitor ultrawide 5120 x 1440 dengan refresh rate 144Hz. Hasilnya, tampilan hanya muncul dalam resolusi 1080p yang terlihat meregang.

Meski kemungkinan bisa diatasi menggunakan dock khusus DisplayLink, keterbatasan ini dianggap cukup penting bagi pengguna profesional yang bekerja dengan monitor besar.

Daya tahan baterai MacBook Neo juga dianggap cukup baik, namun bukan yang terbaik di kelasnya. Apple mengklaim laptop mampu bertahan hingga 11 jam penggunaan web dan 16 jam streaming video. Dalam penggunaan nyata, hasilnya sangat bergantung pada tingkat kecerahan layar dan aktivitas pengguna.

Satu hal yang cukup disorot adalah proses pengisian daya yang lambat. Di Inggris, Apple bahkan tidak menyertakan adaptor charger dalam kotak penjualan. Pengguna hanya mendapatkan kabel USB-C dan harus membeli charger sendiri.

Walau mendukung pengisian menggunakan adaptor 20W atau lebih tinggi, proses pengisian penuh MacBook Neo tetap memakan waktu lebih dari tiga jam.

Meski memiliki berbagai kompromi, reviewer menilai MacBook Neo tetap menjadi laptop yang sangat sulit ditolak di harga 599 dolar AS. Bahkan ia menyebut MacBook Neo kini lebih layak direkomendasikan dibanding MacBook Air untuk sebagian besar pengguna macOS.

Laptop ini dianggap ideal bagi pelajar, pekerja kantoran, penulis, pengguna kasual, hingga mereka yang membutuhkan perangkat ringan untuk browsing, mengetik, dan editing ringan.

Namun untuk kebutuhan profesional berat seperti gaming serius, editing video tingkat tinggi, atau penggunaan monitor eksternal kompleks, lini MacBook Pro masih menjadi pilihan yang lebih tepat.

Kelebihan MacBook Neo

  • Harga sangat murah untuk ukuran laptop Apple
  • Desain premium dengan bodi aluminium
  • Performa chip A18 Pro sangat baik untuk penggunaan harian
  • Ringan dan portabel
  • Layar cukup bagus di kelas harganya
  • Warna menarik dan modern

Kekurangan MacBook Neo

  • Hanya mendukung satu monitor eksternal
  • Touch ID tidak tersedia di model dasar
  • Pengisian daya lambat
  • SSD kecil dan kurang cepat
  • Kurang cocok untuk gaming berat

Dengan kombinasi harga murah, desain premium, dan performa mengejutkan dari chip A18 Pro, MacBook Neo disebut berhasil menjadi salah satu laptop Apple paling menarik dalam beberapa tahun terakhir.

Ikuti Whatsapp Channel VOI