JAKARTA - Setelah bertahun-tahun rumor beredar, Apple akhirnya meluncurkan MacBook Neo, laptop entry-level baru dengan harga mulai 599 dolar AS (Rp10 jutaan). Ini bukan sekadar varian murah, melainkan langkah strategis untuk masuk ke segmen yang selama ini dikuasai Chromebook dan notebook Windows harga terjangkau.
Dari luar, MacBook Neo terlihat seperti versi minimalis dari MacBook Air. Desainnya tetap tipis dengan bodi aluminium, tebal 0,5 inci, dan bobot 2,7 pon — nyaris identik dengan Air 13 inci, meski dimensinya sedikit lebih kecil. Apple jelas tidak ingin “murah” terlihat murahan.
Perubahan besar ada di jeroannya. Alih-alih menggunakan chip seri M seperti pada MacBook Air dan Pro, Apple memasang A18 Pro — chip yang juga dipakai di iPhone 16 Pro. Secara teknis, ini bukan pertama kalinya Mac memakai chip seri A; pada 2020, Apple sempat merilis Developer Transition Kit berbasis A12Z. Namun ini adalah pertama kalinya Mac dengan chip iPhone benar-benar dijual ke publik.
BACA JUGA:
A18 Pro membawa CPU 6-core (dua performa, empat efisiensi), GPU 5-core, serta Neural Engine 16-core. Kinerjanya diklaim setara M1 untuk multicore dan mendekati M4 untuk single-core. Bukan monster performa seperti M5, tapi cukup untuk kerja harian, browsing, streaming, produktivitas ringan, hingga tugas kreatif dasar.
Spesifikasi lain dipangkas demi harga. RAM hanya tersedia 8GB tanpa opsi upgrade. Penyimpanan 256GB menjadi standar, dengan opsi 512GB seharga 699 dolar AS yang sekaligus menghadirkan Touch ID. Tidak ada Thunderbolt. Port terdiri dari dua USB-C (USB 3 dan USB 2), plus jack headphone 3,5mm. Sederhana, tapi fungsional.
Layarnya tetap 13 inci dengan resolusi 2.408 x 1.506 piksel dan kerapatan 219 ppi. Bukan panel Retina kelas atas, namun masih menawarkan gamut sRGB dan kecerahan hingga 500 nits. Dukungan layar eksternal dibatasi pada satu monitor 4K 60Hz melalui DisplayPort 1.4 di USB 3.
Kamera 1080p FaceTime HD hadir tanpa notch, desain yang mengingatkan pada iPad. Sistem audio terdiri dari dua speaker stereo, bukan empat atau enam seperti di lini Air dan Pro, tetapi tetap mendukung Spatial Audio untuk perangkat yang kompatibel. Apple juga menyematkan array dua mikrofon dengan beamforming arah dan pemrosesan suara ala iPhone.

Daya tahan baterai diklaim mencapai 16 jam streaming video atau 11 jam browsing nirkabel, ditopang baterai 36,5 watt-hour yang diisi ulang lewat USB-C, bukan MagSafe.
Secara strategis, MacBook Neo adalah pintu masuk baru ke ekosistem macOS. Apple selama ini menghindari perang harga di bawah 700 dolar AS. Kini, dengan Neo, perusahaan tampaknya ingin memperluas basis pengguna tanpa mengorbankan identitas desain dan pengalaman pengguna.
Produk ini tersedia untuk pre-order dan mulai dikirim 11 Maret, hadir dalam empat warna: Silver, Blush, Citrus, dan Indigo.
Langkah ini terasa seperti eksperimen yang sangat diperhitungkan. Apple tidak sekadar menjual laptop murah; mereka sedang menguji apakah brand premium bisa bermain di kelas harga mass market tanpa kehilangan aura. Jika berhasil, MacBook Neo bisa jadi “gateway device” generasi baru — laptop pertama yang membuka jalan ke iPhone, iPad, Apple Music, hingga layanan berbasis AI mereka.