Tragedi Pisau Panjang: Intrik Adolf Hitler yang Berujung Pembantaian Lawan Politik
Adolf Hitler (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Adolf Hitler berkuasa atas Jerman pada 1934. Seperti kebanyakan diktator, ia tak mau ada celah sedikit pun yang berpotensi merongrong kekuasannya, termasuk dari lingkungan terdekatnya. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi terjadinya kudeta, ia menggunakan taktik pecah belah dan memerintah (divide and rule) yang berujung pembantaian terhadap sahabatnya sendiri. Peristiwa yang terkenal disebut "Tragedi Malam Pisau Panjang".

Tragedi pembantaian yang juga dikenal Operasi Kolibri ini terjadi cukup singkat namun mengerikan. "Pembersihan" besar-besaran ini setidaknya membunuh 85 orang karena alasan politik. 

Mengutip laman Jewish Virtual Library, Hitler sengaja memantik intrik para pemimpin di pemerintahannya untuk bersaing satu sama lain memperebutkan posisi pejabat senior. Padahal salah satu konsekuensi kebijakan tersebut bisa membuat orang-orang di jajarannya saling membenci. 

Benar saja. Ada satu orang yang paling benci di antara para elite. Ia adalah pemimpin pasukan elite Sturm Abteilung (SA), Ernst Rohm. Pasalnya, SA, pasukan yang dijadikan alat partai Nazi untuk mencapai kekuasan, moncer di bawah pimpinan Rohm.

Pasukan ini berhasil menggalang anggota sebanyak tiga juta orang. Selain karena kegemilangan Rohm, para elite lain khawatir kekuatan yang besar itu dapat menyingkirkan mereka satu per satu. Mereka memutar otak agar apa yang mereka khawatirkan tak terjadi.

Selain SA, ada satu lagi lembaga keamanan besar Nazi, yakni Schutzstaffel (SS). Pemimpin SS Heinrich Himmler menjadi salah satu orang yang tak suka kepada Rohm dan berambisi untuk menjatuhkannya.

Kemudian, Himmler punya cara untuk menjatuhkan Rohm. Ia meminta bantuan Reinhard Heydrich, petinggi SS yang lain untuk mengumpulkan dokumen tentang Rohm. Heydrich yang juga takut terhadap Rohm mengumpulkan bukti bahwa Rohm telah disuap sebesar 12 juta marks oleh Perancis untuk menggulingkan Hitler. 

Mulanya Hitler tak percaya pada dokumen yang disediakan Heydrich, karena ia menyukai kemampuan Rohm. Mau bagaimanapun juga Rohm adalah salah satu pembesar partai Nazi dan pendukung utamanya. Selain itu, SA di bawah kepemimpinan Rohm juga memainkan peran penting dalam menghancurkan oposisi selama pemilihan 1932 dan 1933.

Dimulainya operasi kolibri

Tapi Hitler punya alasan sendiri untuk menyingkirkan Rohm. Selain karena keluhan dari pendukung kuat Hitler soal Rohm, para jenderal dari angkatan perangnya juga takut bahwa SA yang punya lebih dari tiga juta anggota bisa menyerap pasukan Jerman yang jauh lebih kecil ke dalam jajarannya sehingga membuat Rohm menjadi pemimpin mereka.

Sementara, gelombang penentang Rohm semakin besar. Para industrialis penyokong dana pemenangan Nazi juga tak suka terhadap Rohm karena pandangan ekonomi sosialisnya. Selain itu, selain Rohm, para petinggi partai SA lain banyak dicibir karena banyak di antara mereka yang homoseksual. 

Hitler perlahan mulai berpikir bahwa Rohm dan SA cukup berbahaya bagi kekuasaannya. Himmler mengipasi ketakutan Hitler dengan memberinya informasi baru tentang rencana kudeta yang disusun Rohm. Dengan berita ini, Hitler memerintahkan semua pemimpin SA untuk menghadiri pertemuan di Hotel Hanselbauer di Wiesse.

Pada 29 Juni 1934 Hitler tiba di Wiesse bersama pasuksan SS. Keesokan harinya, tepat hari ini 30 Juni 86 tahun lalu atau pada 1934, tragedi Malam Pisau Panjang terjadi. Rohm bersama 200 petugas senior SA lainnya ditangkap dalam perjalanan ke Wiesse. 

Tak sedikit para pasukan SA yang ditembak mati setelah ditangkap. Namun Hitler sempat mengampuni Rohm karena mengingat jasa-jasanya kepada Nazi. 

Setelah mendapat banyak tekanan dari elit lain termasuk Himmler, Hitler akhirnya sepakat Rohm harus mati. Ia mengizinkan Rohm untuk membunuh dirinya sendiri daripada dieksekusi mati. 

Rohm menolak dan meminta dibunuh oleh tangan Hitler sendiri apabila memang ia berkenan melakukannya. Setelah itu akhirnya dua orang pasukan SS menembak Rohm.

Röhm digantikan oleh Victor Lutze sebagai kepala SA. Lutze adalah orang yang lemah dan SA perlahan-lahan kehilangan kekuatannya di Jerman Hitler. Schutzstaffel (SS) di bawah kepemimpinan Himmler tumbuh pesat selama beberapa tahun ke depan, menggantikan SA sebagai kekuatan dominan di Jerman.