Pertama Kalinya Atlet Lari Penyandang Disabilitas Bertanding di Olimpiade dalam Sejarah Hari Ini, 4 Agustus 2012
Oscar Pistorius (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Hari ini, 4 Agustus sembilan tahun lalu, Olimpiade London 2012 menjadi momen bersejarah bagi Oscar Pistorius. Sebab Atlet lari asal Afrika Selatan (Afsel) ini menjadi peserta disabilitas pertama yang berkompetisi di Olimpiade dengan berlari di babak penbuka nomor 400 meter putra. Pistorius finis kedua dari lima pelari dan maju ke semifinal, lalu ia menempati urutan kedelapan dari delapan pelari. 

Pistorius lahir pada 22 November 1986, ia terlahir tanpa tulang antara betis dan pergelangan kaki di salah satu kakinya. Hingga akhirnya ketika ia berusia 11 bulan, Pistorius harus diamputasi hingga di bawah lutut. 

Waktu itu dokter menasihati orang tuanya untuk mengamputasi kaki Pistorius sedini mungkin agar Pistorius lebih mudah beradaptasi dan belajar jalan lebih baik. Ketika dewasa, Pistorius menggunakan kaki palsu dan berpartisipasi dalam berbagai olahraga. Ia bergabung dengan tim rugby saat sekolah menengah. 

Melansir Biography, aktifnya Pistorius bertanding Rugby membuatnya cedera lutut. Ia mengalami cedera lutut yang serius pada usia 16 tahun dan terancam mundur dari dunia olahraga. 

Namun Pistorius kembali mendapat harapan setelah dokter menyarankan agar dia berlari sebagai bagian dari rehabilitasinya. Inilah yang membuka jalan Pistorius untuk menjadi atlet lari profesional. 

Iklan Olimpiade London 2012 (Sumber: Wikimedia Commons)

Dikeluarkan dari Paralimpiade

Pada 2004, Pistorius berkompetisi di Paralimpiade Musim Panas di Athena, Yunani. Pistorius menggunakan kaki palsu yang terbuat dari serat karbon dan memiliki julukan 'Flex-Foot Cheetah.' Ia mencapai rekor dunia dalam lari 200 meter dengan catatan waktu 21,97 detik. Ia juga meraih perunggu di nomor 100 meter. 

Ambisi Pistorius yang tidak kenal lelah kemudian membawanya ke kompetisi bagi pelari normal. Hal tersebut begitu memukau penggemar tetapi juga mengundang pengawasan dari mereka yang bertanya-tanya apakah dia mendapatkan keuntungan yang tidak adil dari kaki palsunya itu.  

Asosiasi Internasional Federasi Atletik (IAFF), lalu melarang Pistorius berkompetisi di ajang lari untuk atlet berbadan sehat. IAFF merasa bahwa Pistorius memanfaatkan kaki palsunya dan tidak mengeluarkan banyak tenaga saat berlari. IAFF, yang melakukan tes ilmiah dengan Pistorius, mengklaim bahwa hal tersebut tidak adil bagi atlet normal yang lebih mengeluarkan tenaga saat menempuh jarak yang sama dengannya. 

Untungnya, keputusan itu segera dibatalkan saat Pistorius naik banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga. Telah disetujui bahwa keuntungan yang diperoleh pelari dengan kaki palsu serat karbon tersebut diimbangi oleh kesulitan yang dihadapi, yaitu saat blok awal dan lintasan yang melengkung.

Meski demikian, kelayakan yang dipulihkan tidak cukup membantu Pistorius untuk memenuhi ambisinya berkompetisi dengan atlet normal. Pistorius tidak lolos dalam pemilihan tim lari lintasan Olimpiade Afsel 2008. Pistorius kembali bertanding di Paralimpiade 2008 dan mendapatkan medali emas di nomor 100, 200 dan 400 meter. 

Estafet obor Olimpiade 2012 (Sumber: Wikimedia Commons)

Berlaga di Olimpiade 

Pada 2011, Pistorius tergabung dalam tim lari estafet atlet normal dan memenangkan medali perak dalam estafet 4x400 meter di Kejuaraan Dunia Atletik di Korea Selatan. Hal tersebut membuatnya jadi atlet Paralimpiade pertama yang mendapatkan medali di Kejuaraan Dunia. 

Dilanjut pada Juni 2012, Pistorius meraih perak di nomor 400 meter individu di Kejuaraan Atletik Afrika di Benin, Afrika Barat. Bulan berikutnya, Pistorius dipilih setelah melalui persaingan ketat untuk mewakili Afsel dalam lari estafet 400 meter dan 4x400 individu di Olimpiade 2012 di London.

Pistorius mengukir sejarah di Olimpiade pada 4 Agustus 2012, dengan menempati posisi kedua dalam babak penyisihan lima orang di nomor 400 meter, dengan waktu 45,44 detik. Di babak semifinal keesokan harinya, Pistorius finis di urutan terakhir, dengan catatan waktu 46,54 detik, dan gagal melaju ke final.

Pada 9 Agustus, ia seharusnya menjalankan leg ketiga estafet 4x400, tetapi rekan setimnya bertabrakan dengan seorang pelari dari Kenya sebelum ia dapat menyerahkan tongkat estafet kepada Pistorius. Rekannya tersebut tidak dapat menyelesaikan pertandingan. 

Setelah mengajukan protes, Afsel diizinkan untuk bertanding di final keesokan harinya dan menempati urutan kedelapan. Di Paralimpiade London pada September 2012, Pistorius memenangkan medali emas dengan rekor waktu di 400 meter dan estafet 4x100, dan mendapatkan medali perak di 200 meter.

Tersandung kasus

Meredupnya karier Pistorius terjadi setelah ia ditangkap polisi atas pembunuhan pacarnya, Reeva Steenkamp. Pistorius mengaku ia menembak mati pacarnya saat berada di rumahnya di Pretoria, Afsel. Pistorius mengklaim dia mengira pacarnya adalah seorang penyusup. Pistorius didakwa dengan pembunuhan berencana, di mana dia mengaku tidak bersalah ketika kasusnya diadili pada Maret 2014, di tengah liputan media yang intens. 

Pengadilan dihadiri saksi yang menyatakan bahwa mendengar Pistorius dan pacarnya saling berteriak, diikuti dengan tembakan. Dalam pembelaannya, Pistorius mengklaim bahwa dia menembaki pintu kamar mandi dan mengira ada seorang penyusup bersembunyi di dalam kamar mandi. 

Pistorius terhindar dari hukuman maksimal oleh pengadilan yang merasa simpati. Hakim Thokozile Matilda Masipa menegurnya karena kelalaiannya dengan senjata api dan menyatakan dia bersalah atas penghilangan nyawa seseorang karena "kecerobohan yang jahat." Ia diberi hukuman penjara selama lima tahun pada Oktober 2014. 

Hukuman itu lalu dibatalkan oleh Mahkamah Agung pada Desember 2015 dan Pistorius mendapatkan kenaikan tingkatan hukuman. Namun Hakim Masipa mengabaikan standar minimum 15 tahun dan menjatuhkan hukuman enam tahun penjara pada Juli 2016.

Butuh usaha keras dari pengadilan banding tertinggi Afsel untuk sekali lagi campur tangan dan memperpanjang hukuman Pistorius. Hukuman Pistorius ditambah menjadi 13 tahun dan lima bulan pada November 2017. Pistorius lalu mengajukan banding, namun sayangnya ditolak pada April 2018. 

Hukuman Pistorius tidak akan resmi berakhir hingga 2030, yang berarti ia memiliki sekitar sembilan tahun lagi untuk mendekam di balik jeruji. Namun, Pistorius kemungkinan akan dibebaskan lebih awal dan akan memenuhi syarat untuk pembebasan bersyarat pada 2023. 

*Baca Informasi lain soal SEJARAH HARI INI atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya