Habis Indonesia Dilarang Ikut Olimpiade Tokyo, Terbitlah Ganefo: Pesta Olahraga Internasional Tandingan Bikinan Soekarno
Pembukaan Ganefo (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Di era pemerintahan Presiden Soekarno, Indonesia pernah menentang pesta olahraga dunia, Olimpiade. Selain karena anti imperialisme barat, Putra Sang Fajar juga pernah geram dengan tingkah Komite Olimpiade (International Olympic Committee/IOC) karena melarang Indonesia ikut berkompetisi di Olimpiade Tokyo 1964. Lalu apa yang dilakukan Soekarno? Ia membuat ajang olahraga tandingan: Ganefo. 

Walaupun ekonomi Indonesia sedang morat-marit, banyak rakyat yang mendukung  perhelatan Ganefo. Karena pesta olahraga itu tak saja mengangkat derajat Indonesia di mata dunia, tapi juga turut menyulut api nasionalisme negara-negara yang baru merdeka. 

Semua berawal dari kekesalan Soekarno terhadap IOC. Ia menganggap panitia Olimpiade itu bermuka dua. IOC yang selalu mengumandangkan olahraga dan politik adalah hal yang harus dipisahkan, justru ikut menjadi alat politik imperialisme barat.

Contohnya, IOC melarang kehadiran Republik Rakyat Tiongkok untuk mengikuti gelaran Olimpiade. Pelarangan itu hanya karena Tiongkok menganut paham komunis yang tengah menjadi musuh blok barat.

Ulah IOC kala itu jelas membuat Soekarno naik pitam. Kekesalannya semakin menjadi-jadi tatkala IOC melarang Indonesia ikut Olimpiade Tokyo 1964. Penyebabnya antara lain lantaran Indonesia menolak keikutsertaan Taiwan dan Israel dalam Asean Games IV di Indonesia.

Presiden Soekarno (Sumber: geheugen.delpher.nl)

Negeri Tiongkok dan segenap negara di Jazirah Arab mengagumi sikap berani Indonesia. Sementara Asian Games Federation (AGF) dan IOC menganggap Indonesia melakukan pelanggaran besar karena membawa persoalan politik ke dalam olahraga.

“Indonesia jelas menyatakan sikap perlawanan dengan AGF dan IOC. Indonesia berpendirian bahwa olahraga adalah politik. Menurut Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Maladi (1962-1966) hakikat yang dikandung dari peristiwa Asian Games IV itu tidak lain daripada pengonfrontasian antara dua prinsip yang bertentangan,” ungkap Muhidin M. Dahlan dalam buku Ganefo: Olimpiade Kiri Indonesia (2019).

“Kesatu, prinsip olahraga tidak dapat dipisahkan dengan politik di mana secara terus terang dan terbuka dinyatakan oleh Indonesia kepada dunia. Sementara prinsip Kedua bahwa olahraga harus dipisahkan dengan politik di mana Indonesia memandang prinsip ini hanyalah kedok yang dipakai IOC untuk-dalam bahasa Maladi- menutupi maksud jabat dari kaum imperialis untuk mendominasi dan memonopoli dunia sport internasional,” tambahnya.

Pandangan memisahkan antara olahraga dan politik adalah absurd dan tak bisa diterima oleh Soekarno. Menurutnya IOC seperti menjunjukkan boroknya dalam mengelola pesta olahraga dunia. Yang mana, peran pemerintah peserta olimpiade hanya dipandang sebagai penyandang dana, fasilitator, dan penggembleng atlet. Di luar itu, semuanya musti tunduk kepada IOC.  

Tiada jalan lain, Indonesia memilih keluar dari IOC. Putra Sang Fajar segera mengungkap idenya untuk membuat pesta olahraga tandingan, Ganefo.

"Mereka berbarap kita menjadi lemas dan mohon dibolehkan masuk kembali. Dikira kita ini bangsa apa? Kita bukan bangsa tempe. Saya perintahkan kepada Menteri Maladi untuk keluar dari IOC. Segera bentuk Games of The New Emerging Forces. Yaitu, gabungan dari negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara sosialis. Ganefo yang akan kita selenggarakan nanti adalah olahraga dari keluarga sendiri dari satu kandung. Saya perintahkan segera bikin Ganefo. Ini bukan sekadar perintah Presiden, tapi perintah seluruh rakyat Indonesia," tegas Soekarno dalam pidatonya di Konferensi Besar Front Nasional pada 13 Februari 1963.

Presiden Soekarno (Sumber: geheugen.delpher.nl)

Gelaran Ganefo

Penyelenggaran Ganefo awalnya banyak ditentang. Bung Karno dianggap tidak peka terhadap rakyat Indonesia yang tengah berjuang lepas dari belenggu kemiskinan. Apalagi, serangkaian proyek-proyek mercusuarnya dianggap hanya pemborosan semata.

“Walaupun ekonomi Indonesia sangat rusak, Presiden Soekarno tidak mau peduli. Ia membangun istana di Bali, mengadakan pesta olahraga Ganefo, merencanakan Conefo (Confence of New Emerging Forces), mengganyang Malaysia. Utang Indonesia berjumlah 2,4 miliar dolar. Parlemen yang ada tidaklah menentang Soekarno, karena parlemen ditunjuk oleh Soekarno (tanpa pemilihan umum), dan semua anggotanya adalah: yes man,” ungkap aktivis Mahasiswa 66, Soe Hok Gie dalam Zaman Peralihan (2005).

Kendati demikian, setelah melihat tujuan dari Ganefo banyak yang berbalik arah, lalu simpati kepada penyelenggaraan Ganefo. Tak pelak, Ganefo mendapatkan dukungan luas tak saja dari rakyat Indonesia. Tapi juga negara dunia ketiga. Dalam hal penyediaan dana, Indonesia tak banyak merogoh kocek untuk menyiapkan Ganefo.

Semuanya berkat bantuan dari negara peserta Ganefo. Tiongkok misalnya telah menyumbang 18 juta dolar untuk transportasi semua delegasi. Sedang kompleks olahraga telah tersedia dan didanai pembangunannya oleh Soviet sedari Asian Games IV. Keuntungan itu membuat penyelenggaraan Ganefo tak mendapatkan masalah berarti.

“Dengan ini saya membuka Ganefo I,” demikianlah pesan dari Bung Karno membuka Ganefo dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris dan Prancis yang dihelat dari 10-22 November 1963. Acara seremonial itu begitu mewah hingga disaksikan langsung oleh 100 ribu orang di Stadion Gelora Bung Karno.

Keramaian itu sebagai bentuk apreasiasi bahwa Indonesia dapat menggelar pesta olahraga setara Olimpiade. Tercatat, Ganefo I dihadiri oleh 51 negera dengan total 2700 atlet dari Asia, Eropa, Amerika Latin, dan Afrika.

Pelabelan pun berkembang. Olimpiade disebut dunia sebagai Olimpiade kanan. Sedang, Ganefo disebut sebagai Olimpiade kiri. Meski berumur pendek karena hanya sampai Ganefo III (itupun belum terlaksana), nama Ganefo tetap menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, setidaknya hingga hari ini. Pun nama Ganefo kemudian diabadikan sebagai nama monumen api abadi di Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah.  

“ Kegiatan paling mewah adalah pelaksanaan Asian Games tahun 1962 dan Ganefo 1963. Kegiatan ini memberikan sebuah forum baru bagi Soekarno untuk berpidato, di stadion Senayan yang sangat besar, ia dapat memainkan emosi 100 ribu orang. Luapan emosi rakyat  pertama-tama diarahkan pada kebencian terhadap Belanda, kemudian kepada Pemerintah Inggris dan Malaysia, yang diikuti pembakaran Kedutaan besar Inggris pada 1963,” tulis Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun (2011).

*Baca Informasi lain soal SEJARAH DUNIA atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

MEMORI Lainnya