Cinta Soekarno-Fatmawati Bersemi di Lapangan Bulu Tangkis
Soekarno dan Fatmawati (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Hidup di pengasingan tak sepenuhnya buruk. Proklamator Indonesia, Soekarno telah membuktikannya salama diasingkan di Ende (1934-1938) dan kemudian Bengkulu (1938-1942). Soekarno mencoba beberapa hal baru, termasuk bulu tangkis. Di lapangan cintanya pada Fatmawati bersemi.

Soekarno jadi pelatih. Fatmawati jadi anak didik. Berkat itulah cinta keduanya bersemi di lapangan bulu tangkis. Soekarno sempat stres ketika pemerintah kolonial ingin mengasingkannya ke Ende, Nusa Tenggara Timur pada 1938. Dalam bayangannya, Ende adalah tempat terpencil. Bagai di ujung dunia.

Bung Karno tampak bingung bagaimana dirinya mengembalikan semangat perjuangan yang sudah kadung menggebu-gebu. Namun, istrinya, Inggit Garnasih terus memberikan semangat. Dukungan sang istri nyatanya cukup mujarab menaikkan semangat juang Bung Karno.

Mulai saat itu Bung Karno banyak bergaul dengan segenap warga ende. Tanpa mempedulikan latar belakang pergaulan, Bung Karno bergaul dengan siapa saja. Ia akrab dengan pemetik kelapa, sopir, bujang yang tak bekerja, hingga nelayan. Saking akrab, Bung Karno bersama anak-anak muda Ende mendirikan perkumpulan sandiwara bernama Sandiwara Kelimutu.

Dua minggu sekali Soekarno mengajak kelompoknya berlatih di bawah pohon, sembari diterangi sinar rembulan. Selama empat tahun berada di Ende, tercatat ada 12 cerita sandiwara yang ditulis sendiri oleh Bung Karno.

“Tapi, dalam pengasingan di Ende (1934-1938), Soekarno tampak benar-benar sudah memutuskan sebuah karir baru. Tidak politik, tapi tetap berbau panggung. Dia menulis 12 cerita sandiwara, salah satunya berjudul Dr. Setan, yang diilhami oleh Frankenstein."

"Dia juga mendirikan Perkumpulan Sandiwara Kalimutu, dari nama danau terkenal di pulau itu, membuat reklame sendiri untuk pertunjukannya, merancang kostum, dan menggambar dekor. Karir politik Sukarno sepertinya akan habis di situ. Tapi sejarah ternyata menikung ke arah lain,” tertulis dalam laporan majalah Tempo berjudul Soekarno: Seorang Bima, Seorang Hamlet (2001).

Bung Karno di Ende (Sumber: Commons Wikimedia)

Di pengasingan Bengkulu pun begitu. Bung Karno segera bergabung dengan kelompok sandiwara atau tonil bernama Monte Carlo. Seperti sebelumnya, medium sandiwara jadi alat Soekarno menggelorakan semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Demi melanggengkan hasratnya, Soekarno memilih rangkap posisi, dari penulis naskah hingga sutradara. Semua dilakukan Bung Karno untuk menumbuhkan jiwa nasionalis di kalangan pemuda Bengkulu. Lewat lakon-lakon yang mengumandangkan semangat anti-imperalisme.

Tak lama setelahnya, Bung Karno didapuk menjadi pimpinan Monte Carlo. Bung Karno mulai memasukkan formula baru dalam seni pertunjukannya. Semula kelompok Monte Carlo hanya bergerak di bidang seni pertunjukan musik orkestra saja.

Namun kemudian Monte Carlo berkembang jadi sebuah seni pertunjukan sandiwara nada. Beberapa naskah yang pernah dipentaskan oleh kelompok Monte Carlo adalah Dr. Sjaitan, Chungking Djakarta, Koetkoetbi, dan Rainbow (Poeteri Kentjana Boelan).

“Bung Karno membutuhkan suatu organisasi, yaitu kelompok sandiwara Monte Carlo di Bengkulu. la juga membutuhkan penonton yang menyaksikan drama tersebut. Ada pesan yang ingin disampaikannya. Apa yang dilakukan Soekarno tahun 1930-an itu mengawali kebijakannya beberapa puluh tahun kemudian. Secara simbolis ketika menayangkan pembangunan Jakarta sejak awal tahun 1960-an yang dibayangkan Bung Karno adalah sebuah panggung,” tulis Hero Triarmono dalam buku Kisah Istimewa Bung Karno (2010).

Cinta bersemi di lapangan bulu tangkis

Kesuksesan membesarkan kelompok sandiwara Monte Carlo tak membuat Soekarno merasa cepat puas. Belakangan, Soekarno turut merekrut anak-anak muda yang mempunyai minat dibidang olahraga: sepak bola dan bulutangkis. Tujuannya jelas.

Selain menyehatkan jiwa raga, Bung Karno ingin menyebarkan pesan anti-kolonialisme dan anti-imperialism. Untuk kelompok sepak bila dinamakan Elftal Monte Carlo (kesebelasan Monte Carlo). Sedang kelompok bulu tangkis bernama Monte Carlo.

Dalam perkumpulan bulu tangkis, Bung Karno sendiri bertindak sebagai pelatih. Tak pelak anak-anak muda Bengkulu banyak yang bergabung. Penyebabnya karena kala itu olahraga bulu tangkis tengah digandrungi oleh masyarakat di Angut Atas, dan segenap kota Bengkulu.

Fatmawati --yang menjadi anak angkat Soekarno-- bahkan turut bergabung di dalam kelompok bulu tangkis menjadi anak didik. Karena itu keduanya semakin dekat. Soekarno tak saja menjadi pelatih yang baik, tapi bertindak pula sebagai teman diskusi Fatmawati.

Apalagi Fatmawati tergolong wanita yang skeptis akan banyak hal. Rasa skeptis itu sering diungkapkan Fatmawati dalam banyak pertanyaan seputar bulu tangkis. Misalnya, mengenai jenis-jenis aturan hingga pukulan dalam bulu tangkis. Untuk itu, dari semua anak didik Soekarno di kelompok bulutangkis, Fatmawati lah yang paling sering dilatih oleh Bung Karno.

“Aku senang terhadap Fatmawati. Ku ajar dia main bulutangkis. Ia berjalan‐jalan denganku sepanjang tepi pantai yang berpasir dan, sementara alunan ombak yang berbuih putih memukul‐mukul kaki, kami mempersoalkan kehidupan atau mempersoalkan Ketuhanan dan agama Islam,” cerita Bung Karno ditulis Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).

Soekarno dan Fatmawati (Sumber: Wikimedia Commons)

Berangkat dari latihan bulutangkis, kedekatan keduanya berlanjut sebagai teman belajar dan diskusi. Seminggu sekali, Bung Karno berkunjung ke rumah Fatmawati untuk mengajarinya bahasa Inggris dan membaca yang baik. Di sela-sela belajar, Bung Karno sering kali berdiskusi panjang dengan Fatmawati.

Topiknya beragam. Keduanya kadang berbicara terkait kemerdekaan, filsafah, perkawinan, dan poligami. Perasaan cinta pun tumbuh. Perasaan itu kemudian diungkap Bung Karno langsung kepada Fatmawati.

“Ketahuilah Fat aku bingung untuk menjawab pertanyaan ibuku di Blitar, berulang kali beliau menyurati kapan ia diberi cucu laki-laki. Aku dalam pembuangan. Hanya kaulah seorang jadi penghiburku. Jika aku berada di Jakarta dapat aku berunding dengan Moh. Husni Thamrin atau Mr. Sartono dan lain-lainnya. Siapa yang akan memiliki buku-buku yang kaum lihat di kamarku itu?” rayu Soekarno ditulis Fatmawati dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno (2016).

“Aku ingin satu anak laki-laki, satu saja, kalaupun lebih, syukur Alhamdulillah. Aku seorang pemimpin rakyat yang ingin memerdekakan bangsanya dari Belanda, tapi rasanya aku tak sanggup meneruskan jika kau tak menunggu dan mendampingi aku. Kamu cahaya hidupku untuk meneruskan perjuangan yang maha hebat dan dahsyat,” lanjut rayuan maut suami dari Inggit Garnasih.

*Baca Informasi lain soal SOEKARNO atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

MEMORI Lainnya