Indonesia Tak Mau Mengakui Israel sebagai Negara dalam Sejarah Hari Ini, 14 Mei 1948
Presiden Soekarno | Wikimedia Commons

Bagikan:

JAKARTA - Hari ini, 74 tahun yang lalu, 14 Mei 1948, Indonesia tak akan pernah dan tak akan mau mengakui Israel sebagai negara. Keputusan itu dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia bertepatan dengan Israel memproklamirkan diri sebagai sebagai negara.

Sikap Indonesia jelas. Indonesia tak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Pencaplokan wilayah Palestina yang dilakukan Israel tak dapat dibenarkan. Puncaknya, Indonesia menolak keikutsertaan Israel pada Asian Games 1962.

Bung Karno adalah sosok yang konsisten menyuarakan anti kolonialisme dan Imperialisme di muka bumi. Kemerdekaan Indonesia tak lantas membuatnya berpuas diri. Ia pun terus menggaungkan penolakannya terhadap penjajahan di atas bumi. Terutama di negara Afrika, Asia, dan negeri Arab (Palestina).

Dukungan terhadap Palestina acap kali disuarakan Bung Karno. Bahkan tak mengenal waktu. Tiap ada kesempatan memberikan dukungan, Soekarno tetap dengan narasi yang sama. Ia mengutuk keras pencaplokan wilayah yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina.

Presiden Soekarno | Wikimedia Commons
Presiden Soekarno | Wikimedia Commons

 

Sebagai bentuk konsistensi, Bung karno tak mau mengakui Israel yang diproklamasikan David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948. Hati Bung Besar terluka melihat bangsa Palestina terpaksa mengungsi kerena Tanah Air mereka diduduki secara paksa oleh Israel. Apalagi dibantu Amerika Serikat (AS), kemudian PBB.

Sikap keras Bung Karno terhadap Palestina sesuai dengan amanat dalam pledoinya dihadapan pengadilan Hindia-Belanda. Ia tak saja menggelorakan anti kolonialisme dan Imperialisme, tapi juga menyerukan perlawanan terhadapnya.

“.... Diberi hak-hak atau tidak diberi hak-hak; diberi pegangan atau tidak diberi pegangan; diberi penguat atau tidak diberi penguat-tiap-tiap makhluk, tiap-tiap umat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnya berbangkit, pasti akhirnya bangun, pasti akhirnya menggerakkan tenaganya, kalau ia sudah terlalu sekali merasakan celakanya diri teraniaya oleh suatu daya angkara murka,” teriak Bung Karno dalam pledoi Indonesia Menggugat (1930).

Soekarno saat di sidang di pengadilan Bandung 1930 | Wikimedia Commons
Soekarno saat di sidang di pengadilan Bandung 1930 | Wikimedia Commons

 

Puncaknya, dukungan Bung Karno terhadap Palestina terlihat dari sikap Indonesia yang menolak keikutsertaan Israel dalam penyelenggaraan Asian Games 1962. Sikap itu mendapatkan kecaman dari International Olympic Committee (IOC) karena mencampur politik dalam olahraga. Indonesia lalu diminta untuk meminta maaf atau keanggotaan Indonesia dalam IOC dicabut.

Alih-alih meminta maaf, Bung Karno justru bangkit melawan. Soekarno pun mencanangkan gelaran Olimpiade tandingan. Games of The New Emerging Forces (Ganefo), namanya. Olimpiade tandingan itu pun sempat menggemparkan seisi dunia.

"Mereka berharap kita menjadi lemas dan mohon dibolehkan masuk kembali. Dikira kita ini bangsa apa? Kita bukan bangsa tempe. Saya perintahkan kepada Menteri Maladi untuk keluar dari IOC. Segera bentuk Games of The New Emerging Forces. Yaitu, gabungan dari negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara sosialis.”

“Ganefo yang akan kita selenggarakan nanti adalah olahraga dari keluarga sendiri dari satu kandung. Saya perintahkan segera bikin Ganefo. Ini bukan sekadar perintah Presiden, tapi perintah seluruh rakyat Indonesia," tegas Soekarno dalam pidatonya di Konferensi Besar Front Nasional pada 13 Februari 1963.