Hikayat Taman Sari: Surga Kesunyian Sekaligus Benteng dalam Peperangan
Taman Sari (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Berbicara destinasi wisata menarik, nama Yogyakarta tak pernah kehilangan pesona. Yogyakarta yang istimewa mampu memberikan ragam warna dalam wisata, mulai dari sejarah, alam, budaya, hingga kuliner. Dan kunjungan akan tak lengkap jika tak menempatkan nama Istana Air Taman Sari ke dalam daftar destinasi saat berada Negeri Gudeg.

Sedari dulu, nama Taman Sari telah kesohor sebagai destinasi wisata favorit para pelancong dunia. Bahkan, nama Taman Sari telah dikenal jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Sebagai bukti, badan pariwisata bentukan pemerintah Hindia-Belanda yang bernama Batavia Vereeniging Toeristenverkeer tampak amat serius mempromosikan Taman Sari kepada dunia.

Untuk itu, buku panduan wisata berjudul Java the Wonderland (1900) pun dirilis. Taman Sari diberikan porsi besar dalam buku tersebut. Taman Sari berkali-kali digambarkan sebagai tempat yang dapat menghadirkan keindahan dan kekaguman dalam waktu bersamaan.

“… Dengan setengah Florin (uang logam Inggris), seorang anak laki-laki pribumi akan menunjukkan jalan melewati reruntuhan penuh dengan tempat-tempat yang indah, gerbang kuno, kolam yang setengahnya dipenuhi tumbuhan vegitasi, aula yang runtuh, lorong bawah tanah kecil, serta kanal, dan sebuah menara yang hancur setinggi 17 meter --disebut labirin,” tertulis.

Itulah mengapa pelancong Amerika Serikat, Eliza Ruhamah Scidmore yang berkunjung pada abad-18 menyatakan begitu menikmati momen kunjungannya ke Taman Sari. Lewat buku Java, The Garden of East (1897), ia menyebut Taman Sari sebagai taman surga di daerah tropis. Sunyinya Taman Sari membantu Eliza serasa memperoleh ketenangan jiwa.

Meski begitu, Eliza tetap mengingatkan para pelancong untuk hati-hati jika menjelajahi seisi Istana Air, mulai dari gua, lorong kecil, terowongan, tangga dan serambi-serambi sekitar sumur yang mulai licin dan tampak sedikit tak teratur. Hal itu disinyalir karena beberapa bagian dari bagunan penting dari komplek Taman Sari telah rusak karena gempa pada 1867.

Menariknya, Eliza tak kehilangan daya imajinasi membayangkan kemegahan Istana Air. “Berkunjung ke Taman Sari rasanya seperti berada di tengah danau, yang mana harus dicapai hanya dengan menggunakan perahu atau lewat terowongan rahasia. Dan, disinilah Raja-Raja dan istrinya menghabiskan waktu luang mereka, bahkan ketika pasukan tentara menderap di pintu gerbang.”

“Selebihnya, Taman Sari memiliki salah satu daya tarik yang memikat. Yakni, pada saat matahari terbenang, terlihat roman asmara yang tampak bertahan di taman, gua, dan galeri yang indah. Sampai-sampai, seseorang dapat membayangkan sejumlah legenda dan misteri percintaan raja dan istri-istrinya yang ada di Istana Air,” tambahnya.

Sejarah Taman Sari

Taman Sari dibangun sekitar tahun 1758 atas perintah Sultan Hamengku Buwono I. Merujuk ke berbagai literasi, pembangunan Taman Sari tak lain untuk mengakomodir kebutuhan empunya kerajaan akan hiburan dan tempat berlindung ketika terjadi perang hebat.

Sebagaimana diungkap Seno Joko Suyono dalam tulisan Imajinasi Sekitar Istana Air di Majalah Tempo (2006). Ia mengatakan, perancang Taman Sari hingga kini masih misteri.

“Syahdan, ada sebuah kapal Portugis terdampar di Pantai Glagah, Yogyakarta. Beberapa yang selamat ternyata adalah ahli bangunan. Lantas, Sultan Hamengku Buwono I meminta mereka membangun sebuah kompleks peraduan yang penuh jalan rahasia.”

Anggapan lain diungkap bekas Duta Besar Portugal untuk Indonesia, Antonio Pinto Da Franca. Dirinya menyebut Taman Sari sebenarnya dirancang langsung arsitek Portugis yang tinggal di Batavia (Jakarta). Kala itu, Sang Sultan yang kepincut dengan bangunan-bangunan Portugis di Goa, menginginkan campur tangan arsitek Portugis untuk membuat Istana Airnya.

Setali dengan itu, jadilah sebuah Istana Air yang dikenal sebagai tempat rekreasi sekaligus benteng pertahanan yang unik. Kelak, Sultan pun memanfaatkan kehadiran Taman Sari untuk bercengkerama, mandi, meditasi, juga sebagai tempat memikirkan siasat melanggengkan kekuasaan.

“Taman Sari utamanya merupakan kamar tamu tempat Sultan bisa bertemu dengan tamunya yang paling penting: Nyi Loro Kidul, Ratu Laut Selatan. Di sekitar itu semua – kediaman abdi dalem, istana bagian dalam, dan Taman Sari – berdiri dinding pelindung setinggi 13 meter dengan panjang lima kilometer,” imbuh Tim Hannigan dalam Raffles dan Invasi Ke Jawa (2012).

Tak heran, Ki Sabdacarakatama dalam buku Sejarah Keraton Yogyakarta (2009), mengemukakan pendapatnya terkait kebenaran lahirnya Taman Sari tak melulu perihal tempat hiburan semata. Istana Air ia sebut sebagai tempat pelarian ketika serangan menghujani Keraton Yogyakarta.

Hal itu mengingat fakta bahwa empunya Istana Air merupakan sang ahli strategi perang. Maka, wajar jika Sultan membutuhkan tempat berlindung yang dilengkapi dengan jalan-jalan yang menembus keluar kota.

“… Dan dilengkapi dengan pintu-pintu air supaya bila ditutup dapat merubah keadaan Taman Sari menjadi serupa danau besar, hingga segala yang ada di sekeliling Taman Sari menjadi musnah tidak kelihatan sama sekali. Dalam keadaan demikian, bila perlu keraton dapat dikosongkan dengan mengambil jalan di dalam tanah,” ujarnya.

Senada dengan itu, Denys Lombard dalam buku Taman-Taman di Jawa (2010), menyebut Taman Sari pada hakikatnya bukanlah ruang terbuka. “Permukaannya dipisahkan dari dunia luar, dunia umum, oleh tembok tinggi yang perlu diseberangi dengan melewati gerbang-gerbang yang dijaga ketat.”

Saking spesialnya, yang boleh masuk ke Taman Sari pada zaman dulu hanya kalangan terbatas. Dan jika mereka masuk kesana, mereka akan menjalani kehidupan yang lebih semangat sembari menikmati ketenangan dari Istana Air. “Pada akhirnya, Taman Sari adalah Oase surgawi yang didatangi raja untuk menjalani hidup sebagai dewa, tutup Lombard.