Bagikan:

JAKARTA – Memori hari ini, tiga tahun yang lalu, 22 Mei 2022, tokoh nasional, Fahmi Idris meninggal dunia. Kepergian Fahmi membawa kedukaan yang mendalam bagi seantero negeri. Ucapan belasungkawa muncul dari segenap tokoh politik Indonesia.

Fahmi bukan orang baru dalam dunia politik Indonesia. Fahmi sudah tergabung sebagai aktivis mahasiswa era Orde Lama. Keaktifan itu jadi jalannya masuk ke bagian pemerintahan. Karier politiknya gemilang. Ia pernah jadi Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Perindustrian.

Fahmi Idris dan dunia politik adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Pria kelahiran Jakarta, 20 September 1943 itu dikenal sebagai aktivis mahasiswa dari Universitas Indonesia angkatan 1966. Ia dikenal getol dalam membela rakyat dari kebijakan pemerintah era Orde Lama yang tak adil.

Kondisi itu terlihat kala ia terjun dalam Aksi Tritura (tiga tuntutan rakyat): turunkan harga, rombak kabinet, bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Aksi Tritura kemudian dikenal sebagai aksi massa yang punya pengaruh besar terhadap lengsernya Soekarno dan Orde Lama.

Kehidupan Fahmi pun berlanjut di era Soeharto dan Orde Baru (Orba). Jalannya sebagai aktivis berlanjut. Namun, ia mulai merintis karier sebagai pengusaha. Belakangan Fahmi mulai tertarik masuk partai politik. Ia kemudian melihat Golkar sebagai kendaraan politik yang mempuni pada 1980-an.

Eksistensinya sebagai politikus mulai mentereng. Fahmi mampu meraih jabatan tinggi. Ia di percaya pemerintahan Presiden Habibie sebagai Menteri Tenaga Kerja era 1998-1999. Ia lalu dipercaya pula menjabat Menteri Tenaga Kerja, kemudian Menteri Perindustrian dalam kabinet Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Kerja yang dilakukan Fahmi yang paling dikenal adalah jadi salah satu inisiator program pengalihan dari minyak tanah ke LPG. Kebijakannya memacu perkembangan dalam industri terkait LPG, dari kompor hingga selang.

“Dengan memperhatikan kesiapan industri dalam negeri dan memperhatikan perkembangan investasi serta tenaga kerja yang terserap mohon kiranya penyediaan tabung gas elpiji 3 kg untuk program pengalihan penggunaan minyak tanah menjadi LPG benar-benar disi hanya oleh produksi dalam negeri," ungkap Fahmi sebagaimana dikutip laman detik.com, 17 Maret 2007.

Karier Fahmi sebagai menteri memang berakhir pada 2009. Namun, kondisi itu tak membuatnya mundur total dari politik. Ia tetap meneruskan jejak politiknya dengan jadi Dewan Penasihat Partai Golkar. Posisi itu membuatnya terus berpikir terkait masa depan Indonesia.

Fahmi Idris yang pernah menjabat Menteri Perindustrian era 2005-2009. (ANTARA)

Namun, keaktifannya dalam dunia politik harus berakhir. Ia meninggal dunia karena kanker darah pada 22 Mei 2022. Kepergiannya membawa kedukaan yang mendalam. Berita kematiannya cepat menyebar. Kemudian, ucapan belasungkawa mulai berdatangan dari berbagai macam tokoh nasional.

"Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun, telah meninggal dunia Bapak Fahmi Idris, mantan Menteri Perindustrian Indonesia yang juga ayah dari sahabat saya Ibu @fahiraidris. Doa terbaik dari lubuk hati kami yang terdalam. Semoga segala amal kebaikan almarhum diterima oleh Allah SWT. Serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran," ungkap pengusaha, Sandiaga Uno lewat akun media sosialnya di Instagram @sandiuno sebagaimana dikutip laman Media Indonesia, 22 Mei 2022.