Bagikan:

JAKARTA – Memori hari ini, 10 tahun yang lalu, 22 Januari 2015, Mantan Gubernur DKI Jakarta era 1997-2007, Sutiyoso memuji kinerja Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pria yang akrab disapa Bang Yos mengaku keberanian Ahok selama ini dalam reformasi birokrasi adalah hasil didikannya.

Sebelumnya, Ahok dikenal sebagai pemimpin DKI Jakarta yang berani. Ia jadi pejabat yang lurus. Barang siapa yang tak melakukan pekerjaannya dengan baik akan digantikan. Ahok bahkan berani mendengungkan reformasi birokrasi besar-besaran di Jakarta.

Kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) dan Ahok bawa optimisme di Jakarta sedari 2012. Jokowi dengan gaya blusukannya. Ahok dengan ketegasannya. Keduanya bak saling mengisi satu sama lain. Namun, kala Jokowi Jadi Presiden Indonesia jabatan Gubernur DKI Jakarta diwariskan ke Ahok pada 2014.

Kondisi itu tak membuat Ahok gentar. Ahok tetap menjalankan rutinitasnya dengan penuh semangat. Segala macam medium pengaduan – dari meja pengaduan hingga SMS Ahok tetap tersedia. Cara itu membuat Ahok tetap terhubung dengan warga Jakarta.

Ahok pun tak melupakan sikap keras dan cermatnya. Ia melihat banyak jajarannya yang tak bekerja maksimal. Kondisi itu membuatnya melakukan perombakan besar-besaran pejabat DKI Jakarta, dari level Wali Kota hingga lainnya pada 2 Januari 2015.

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta era 2014-2017. (ANTARA)

Ahok melakukan efesiensi dari 8.011 jabatan struktural jadi hanya 6.511 saja. Mereka yang berprestasi akan mendapatkan jabatan strategis. Sedang mereka yang tidak akan ditinggalkan. Nantinya akan ada pula penilaian tiga bulan untuk pejabat terpilih.

Siapa yang kinerjanya baik akan bertahan. Mereka yang kinerjanya biasa saja akan tersisihkan. Langkah itu dilakukan supaya pemerintah DKI Jakarta dapat bekerja dengan baik. Warga Jakarta pun mendapatkan pelayanan yang maksimal.

"Banyak yang bertanya kenapa saya tidak terpilih atau tertolak, saya katakan kalau saudara melakukan yang benar pasti saudara keterima. Kita lakukan efisiensi dari 8.011 jabatan struktural kita pangkas jadi 6.511, kita masih mengosongkan sekitar 1.500 posisi karena kita merasa intinya bukan di jabatan struktural tapi melayani masyarakat.”

"Kalau ada kesalahan tiga bulan kita evaluasi. Mungkin dari yang dilantik ini ada KKN atau begitu bodoh lolos atau cari dukun, bukan karena kehebatan dukunnya tapi bisa saja itu karena kebetulan lolos," ungkap Ahok sebagaimana dikutip laman detik.com, 2 Januari 2015.

Keberanian Ahok melakukan reformasi birokrasi besar-besaran mendapatkan pujian dari banyak pihak. Sutiyoso jadi salah satu di antaranya. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu sampai mendatangi Ahok ke Balai Kota pada 22 Januari 2015.

Sutiyoso memuji kinerja Ahok yang berani. Ia beranggapan bahwa keberanian Ahok dalam melakukan reformasi biroksi adalah berkat didikannya. Kondisi itu karena Ahok pernah jadi staf ahli Sutiyoso satu tahun kala memimpin Jakarta..

Pengalaman itu membuat Ahok dapat mengetahui mana pejabat yang benar bekerja dan mana yang tidak. Sutiyoso mengaku tak pernah mendengar ada pemimpin daerah yang melakukan perombakan pejabat yang begitu besar, selain Ahok.

"Bagus, itu baru yang namanya efisiensi. Belum pernah lho ada perombakan pejabat sampai jumlahnya ribuan begitu. Dia itu pemberani. Namanya juga anak didiknya Bang Yos, pasti pemberani," ujar Sutiyoso sebagaimana dikutip laman kompas.com, 22 Januari 2015.