JAKARTA – Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian publik. Namun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan ini bukan awal pandemi seperti COVID-19.
Sepanjang pekan lalu, kabar meninggalnya tiga orang penumpang di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina menyita atensi masyarakat luas, baik di dalam maupun luar negeri. MengutipAl Jazeera, dua dari tiga penumpang yang meninggal dunia adalah pasangan suami istri, dan salah satunya dikonfirmasi terinfeksi hantavirus.
Kabar tersebut sontak menjadi perhatian luas, termasuk masyarakat Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada lima kasus hantavirus ditemukan di Indonesia sepanjang 2026. Berdasarkan data Kemenkes, total terdapat 251 kasus suspek hantavirus selama periode 2024 sampai 2026. Dari jumlah tersebut, 223 kasus dinyatakan negatif, sementara 23 kasus terkonfirmasi positif.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menuturkan, Yogyakarta dan DKI Jakarta menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi dengan masing-masing enam kasus. Jawa Barat melaporkan lima kasus, sementara provinsi lainnya melaporkan satu kasus.
Di tengah kekhawatiran publik, pakar infeksi tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dominicus Husada menegaskan hantavirus jenis andes yang mewabah di kapal pesiar MV Hondius belum pernah ditemukan di Indonesia. Sehingga, masyarakat tak perlu mengkhawatirkan kemungkinan terjadi kembali pandemi seperti pandemi COVID-19 beberapa waktu silam.

Bukan Virus Baru
Ketika kabar meninggalnya penumpang di kapal pesiar MV Hondius tersebar, banyak orang mengira hantavirus adalah penyakit langka dari luar negeri.
Kemenkes dalam laman resminya menjelaskan, berdasarkan penelitian, virus ini sudah lama ada di Indonesia, bahkan sejak tahun 1980-an. Studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meski mungkin tidak pernah terdiagnosis.
Sementara itu, mengutip laman Badan Kesehatan Dunia (WHO), hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia.
Terkait kekhawatiran masyarakat dengan hantavirus yang mewabah di kapal pesiar MV Hondius, Dominicus Husada menjelaskan, tidak semua tikus membawa jenis hantavirus yang sama. Menurutnya, setiap spesies tikus bisa membawa virus yang berbeda-beda.
“Hantavirus Andes enggak ada di Indonesia. Kita belum pernah menemukan virus Andes di sini,” kata Dominicus dalam media briefing secara virtual, Jumat (8/5/2026).
BACA JUGA:
Dominicus melanjutkan, hantavirus bukan hanya satu jenis virus. Virus ini merupakan kelompok besar yang terdiri dari puluhan varian dan tersebar di berbagai wilayah dunia, tergantung spesies tikus pembawanya.
Para peneliti, kata Dominicus, telah mengidentifikasi lebih dari 40 jenis hantavirus, namun tidak semuanya menyebabkan penyakit pada manusia.
“Berbeda tikus, berbeda nama, berbeda tikus, berbeda virus. Kita sudah mengidentifikasi lebih dari 40 virus. Sebanyak 22 di antaranya sudah dapat menyebabkan penyakit,” tuturnya.
Ia menjelaskan, varian Andes, seperti yang ditemukan di kapal pesiar tersebut, merupakan satu-satunya kelompok hantavirus yang diketahui dapat menular dari manusia ke manusia.
“Virus Andes ini adalah satu-satunya dari keluarga Hanta yang bisa menyebabkan penularan dari orang ke orang pada kontak erat, pada kontak erat. Jadi, kalau kontaknya tidak erat, dia susah ya,” terangnya.
Tidak Mudah Menular
Dalam wawakcara denganKompas.id, ahli mikrobiologi sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Pratiwi Pujilestari Sudarmono menegaskan, penularan hantavirus tidak secepat COVID-19. Penularan antarmanusia, kata Pratiwi, hanya terjadi jika ada kontak erat.
Itulah sebabnya, dalam kasus meninggalnya suami istri di kapal pesiar MV Hondius sangat memungkinkan. Sedangkan penularan kepada orang lain yang tidak memiliki kontak dekat, seperti rekan kerja atau tetangga berjauhan, sangat kecil kemungkinannya.
Karena itu, para ahli menyatakan bahwa indeks penularan virus hanta tergolong rendah. Tidak perlu panik seperti menghadapi COVID-19 karena virus ini tidak mudah menyebar di masyarakat.
Meski hantavirus di Indonesia tidak menular dari manusia ke manusia, Pratiwi menekankan pentingnya menjaga kebersihan. Tikus, kata dia, biasanya berada di tempat sampah, rumah yang kotor, atau lingkungan yang tidak sehat, yang seharusnya tidak layak secara kesehatan masyarakat. Selain virus hanta, penyakit yang paling banyak ditularkan oleh tikus di Indonesia justru leptospirosis, terutama saat banjir.

Epidemiolog Masdalina Pane sependapat. Penularan hantavirus varian andes tidak semudah COVID-19. Jika COVID-19 dapat menyebar lewat droplet atau percikan ludah di udara, hantavirus varian andes umumnya membutuhkan kontak langsung untuk menular. Karena itulah, penyebarannya relatif lebih sulit dan lebih terbatas.
"Kontak langsung itu seperti hubungan seksual, kemudian berciuman atau antara melalui air susu ibu kepada anak. Itu yang kontak langsung dan durasinya (harus) cukup signifikan," papar Masdalina.
Sementara itu, Dominicus menegaskan, penularan hantavirus yang paling sering terjadi adalah melalui partikel virus yang berasal dari urin, kotoran, atau liur tikus yang terhirup manusia. Sedangkan penularan melalui luka pada kulit lebih jarang ditemukan.
“Penularan dua cara, satu saluran napas, itu yang paling sering. Partikel-partikel virus yang ada di kotoran atau urine atau di liur (tikus), itu bisa (terhirup). Dan yang kedua adalah kulit yang tidak utuh, jadi kulit yang luka, tapi itu jauh lebih jarang. Yang lebih sering itu melalui saluran napas,” tandasnya.