Joesoef Ronodipoero: Pendiri RRI yang Siarkan Teks Proklamasi dan Hampir Mati Ditebas Katana Jepang
Joesoef Ronodipoero (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Kemerdekaan Indonesia adalah usaha kolektif kaum bumiputra melawan tirani penjajahan. Tiap pahlawan punya jasa masing-masing. Joesoef Ronodipoero, misalnya. Sebagai jurnalis radio, Joesoef Ronodipoero jadi tokoh penting tersiarnya berita proklamasi ke seluruh penjuru dunia. Aksi yang membuatnya hampir mati dibunuh tebasan katana.

Berkat keberanian Joesoef, ia menjadi inspirasi pejuang kemerdekaan di seantero negeri melawan penjajah. Moehammad Joesoef Ronodipoero --ejaan barunya adalah Muhammad Yusuf Ronodipuro-- lahir pada 30 September 1919 di Salatiga, Jawa Tengah. Setelah tamat sekolah menengah AMS-B di Batavia, Joesoef Ronodipoero berkiprah di ranah jurnalistik.

Kekhususannya adalah bidang siaran radio. Sebab, pada masa itu radio menjadi media informasi yang paling diandalkan. Akan tetapi, sebelum menjadi penyiar, Joesoef Ronodipoero justru mencicipi banyak pekerjaan lainnya.

Sebagaimana diwartakan Kementerian Penerangan Indonesia dalam buku Sedjarah Radio di Indonesia (1953), di awal kariernya, Joesoef Ronodipoero justru bekerja di sebuah perusahaan dagang milik Belanda. Ia menempati posisi sebagai sales kendaraan.

Setelahnya, di masa penjajahan Jepang (1942-1945), Joesoef Ronodipoero bekerja di Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Sidoosho) bagian seni lukis. Di sana, Joesoef Ronodipoero akrab dengan banyak seniman nasional, seperti Affandi dan Sodjojono, serta Agus Djaya.

Namun, Joesoef Ronodipoero tak lama berkarir di Keimin Bunka Sidoosho. Joesoef Ronodipoero pun pindah bekerja di Hooso Kyoku, sebuah stasiun radio Jakarta yang dijalankan oleh pemerintah bala tentara Dai Nippon (Jepang) pada 1943.

Di radio milik perwira bala tentara Jepang, Tomo Bachi, Joesoef bekerja sebagai penyiar. Profesi itu membawanya akrab dengan Bachtar Loebis, kakak kandung sastrawan, Mochtar Loebis. Keduanya bersahabat, sampai selepas kemerdekaan mereka bersama-sama mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI).

Hampir mati ditebas katana

Setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, badan sensor Jepang, Nippon Gun Kenetsu Han melarang berita proklamasi menyebar. Imbasnya, seluruh surat kabar yang ada di Jakarta dilarang mewartakan peristiwa bersejarah tersebut.

Kendati demikian, semangat proklamasi mengalir dalam darah banyak orang kala itu. Wartawan Domei-Indonesia (cikal bakal Antara), Sjahruddin salah satunya. Oleh Sjahruddin teks proklamasi kemerdekaan berhasil diselundupkan ke ruang penyiaran.

Sjahruddin berhasil masuk ke Hooso Kyoku setelah melompati tembok belakang dari Tanah Abang. Ia membawa dua lembar kertas. Kertas pertama berisi teks lengkap proklamasi kemerdekaan. Yang kedua berisi surat dari Adam Malik yang memuat permintaan agar lembar teks proklamasi dibacakan sebagai berita.

Kendati demikian, Sjahruddin tertangkap penjaga. Tapi, naskah yang diberi memo “Harap Siarkan” itu ditemukan oleh Joesoef Ronodipoero. Lalu, Joesoef menyisipkan berita itu pada segmen berita internasional.

“Untung berkat usaha beberapa pemuda nasionalis, seperti Sjahruddin, wartawan Domei-Indonesia, Bachtar Loebis, dan Joesoef Ronodipoero, teks proklamasi itu diselundupkan ke dalam newsroom Hooso Kyoku. Lalu pada saat sidookan (supervisor) Nippon lengah teks proklamasi dapat dibacakan oleh Joesoef Ronodipoero di ruang siaran luar negeri yang sedang tidak dipakai. Dengan begitu, tersiarlah ke publik berita dan teks proklamasi,” tulis Rosihan Anwar dalam buku Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Jilid III (2009).

Berita itu kemudian dibacakan tepat pada pukul 7 malam. Joesoef Ronodipoero dengan tenang membacakan berita seputar proklamasi kemerdekaan. Joesoef Ronodipuro pun membaca naskah lengkap proklamasi kemerdekaan versi Indonesia.

Sementara, versi bahasa Inggrisnya dibacakan oleh Soeprapto. Akibat perbuatan nekat itu, selang dua jam Joesoef Ronodipoero dan Bachtiar Loebis berurusan dengan polisi rahasia Jepang, Kenpetai, yang segera datang ke studio.

Mereka diinjak-injak oleh pasukan Jepang itu. Bahkan, mereka nyaris dibunuh oleh perwira Jepang yang naik pitam dengan katana. Sebelum katana diayunkan, mereka diselamatkan oleh pimpinan umum radio yang lebih tua usianya.

Orang tersebut mampu membujuk kenpeitai supaya mengurungkan niat membunuh. Nyatanya, keberanian Joesoef Ronodipoero tak berhenti sampai situ. Joesoef kembali melakukan aksi heroik saat Indonesia telah merebut kekuasaan dari Jepang. Ia dengan gagah berani mengibarkan bendera Merah Putih di depan Kantor RRI.

“Di bawah ancaman senjata api, bendera Merah Putih itu berkibar-kibar di depan kantor Radio Republik Indonesia (RRI). Seorang pemuda Indonesia yang keras kepala dan keras hati sama sekali tak cemas terhadap ancaman Belanda. Joesoef Ronodipoero, pimpinan RRI, menolak menurunkan apa yang mereka sebut Sang Saka Merah Putih, yang berkibar setelah Soekarno dan Hatta mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Peristiwa ini kemudian menggerakkan hati Saridjah Niung Bintang Soedibio, lebih populer dengan nama Ibu Sud, untuk menulis lagu: Berkibarlah Benderaku,” ujar Leila S. Chudori dan Reza M. dalam tulisannya di Majalah Tempo berjudul Pahlawan Tanpa Kontroversi (2008).

Tak hanya itu, peran dari Joesoef Ronodipoero lainnya adalah memaksa Bung Besar untuk merekam kembali Proklamasi Kemerdekaan pada 1950. Mulanya Soekarno menolak seraya beralasan peristiwa bersejarah hanya sekali terjadi (enmalig). Namun akhirnya Bung Karno sepakat mengulang kembali pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang momumental, setidaknya bisa didengar hingga hari ini.

“Jadi pada waktu pembacaan Naskah Proklamasi pada 17 Agustus 1945 Tahun Masehi atau 2005 Tahun Showa oleh Soekamo dan Hatta mendampingi, begitu saja dibacakan tanpa direkam. Walaupun pembacaan itu terbilang amat bersahaja, berita proklamasi tersebut perlahan namun pasti terus menyebar ke seantero negeri yang kemudian menyulut revolusi sosial di penjuru daerah,” imbuh Raistiwar Pratama dalam tulisannya di Majalah Arsip berjudul Melampaui Autentikasi: Kajian Atas Arsip Proklamasi dan Supersemar (2013).

*Baca Informasi lain soal SEJARAH NUSANTARA atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

 

MEMORI Lainnya