11 Maret dalam Sejarah: Bom Kereta Madrid yang Menyebabkan Kebingungan Spanyol
Dampak ledakan bom Madrid (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Pada 11 Maret 2004, 193 tewas dan hampir dua ribu orang luka-luka ketika sepuluh bom meledak di empat kereta di tiga stasiun di wilayah Madrid, Spanyol. Rentetan ledakan terjadi selama jam sibuk di pagi hari.

Bom tersebut kemudian diketahui diledakkan melalui telepon genggam. Serangan tersebut jadi yang paling mematikan terhadap warga sipil di tanah Eropa sejak pengeboman pesawat Lockerbie pada 1988.

Mengutip History, pengeboman tersebut awalnya dicurigai dilakukan oleh kelompok militan separatis ETA. Kelompok ini merupakan organisasi sosial dan politik Basque yang mencari kemerdekaan dari Spanyol dan Prancis.

Namun tuduhan ini lemah karena bukti yang tersedia tidak mendukung. Akhirnya diketahui bahwa serangan bom tersebut dilakukan oleh al Qaeda.

Penuh kebingungan

Penyelidik percaya semua ledakan disebabkan alat peledak rakitan yang dikemas dalam ransel dan dibawa ke dalam kereta. Para teroris tampaknya sejak awal menargetkan Stasiun Atocha Madrid.

Di dekat tempat itu terdapat tujuh bom diledakkan. Bom lainnya diledakkan di atas kereta di dekat Stasiun El Poso del Tio Raimundo serta Santa Eugenia.

Tiga bom lainnya tidak meledak sesuai rencana dan kemudian ditemukan dalam keadaan utuh. Banyak orang di Spanyol dan seluruh dunia melihat serangan itu sebagai pembalasan atas partisipasi Spanyol dalam perang di Irak, tempat sekitar 1.400 tentara Spanyol ditempatkan pada saat itu.

Serangan itu terjadi dua hari sebelum Pemilu Spanyol, di mana kaum Sosialis anti-perang merebut kekuasaan. Pemerintahan baru, yang dipimpin Perdana Menteri Jose Luis Rodriguez Zapatero memindahkan pasukan Spanyol dari Irak, dengan yang terakhir meninggalkan negara itu pada Mei 2004.

Pada April 2004, terdapat percobaan pengeboman di lintasan kereta AVE berkecepatan tinggi. Tetapi pengeboman tersebut tidak berhasil.

Keesokan harinya, polisi Spanyol menghubungkan penghuni sebuah apartemen di Leganes, selatan Madrid dengan percobaan pengeboman tersebut. Dalam penggerebekan berikutnya, tujuh tersangka bunuh diri dan satu pelaku meledakkan bom di apartemen untuk menghindari penangkapan oleh pihak berwenang.

Seorang pengebom lainnya diyakini tewas saat pengeboman kereta dan 29 lainnya ditangkap. Setelah persidangan selama lima bulan pada 2007, 21 orang dinyatakan bersalah, meskipun lima dari mereka, termasuk Rabei Osman, yang diduga menjadi biang keladi, kemudian dibebaskan.

Untuk mengenang para korban pengeboman 11 Maret, terdapat hutan pohon zaitun dan cemara ditanam di taman El Retiro di Madrid, dekat Stasiun Atocha. Pada 2019, Pengadilan yurisdiksi tertinggi Spanyol, Audencia Nacional, menginstruksikan jaksa agung untuk meninjau informasi rahasia tentang pengeboman 11 Maret dan mempertimbangkan bukti baru.

Penyelidikan lanjutan

Pejabat kejaksaan mengatakan mereka membentuk satuan tugas dengan sekitar 200 petugas penegak hukum untuk menangani analisis ekstensif yang mungkin diperlukan jika kasus yang bermuatan politik dibuka kembali. Sebelumnya investigasi di bawah pemerintah sosialis menuduh para tersangka yang sebagian besar kelahiran Maroko adalah penjahat kelas teri dan pengedar narkoba yang telah direkrut al Qaeda.

Beberapa analis lalu meragukan penyelidikan itu. Kritikus menjelaskan mereka gagal menjelaskan bagaimana serangan itu diatur dan mengabaikan bukti yang menunjukkan kemungkinan keterlibatan kelompok separatis ETA.

"Zapatero tidak mengizinkan dinas keamanan dan jaksa agung untuk menenun benang yang mengarah ke ETA karena tidak cocok dengan lubang jarumnya," kata jurnalis investigasi Luis del Pino.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya