Bagikan:

JAKARTA – Sejarah hari ini, 31 tahun yang lalu, 31 Maret 1993, aktor laga, Brandon Lee meninggal dunia. Anak mendiang Bruce Lee itu kehilangan nyawa dalam pengambilan adegan film The Crow. Ia terkena peluru yang semestinya kosong tenyata berisi. Kepergiannya membawa kedukaan mendalam.

Sebelumnya, Brandon telah memantapkan karier sebagai aktor. Ia ingin mengabdikan dirinya penuh di dunia hiburan. Ia tak ingin disamakan dengan ayahnya.

Kematian aktor laga sekaligus pengembang seni bela diri Jet Kune Do, Bruce Lee membawa luka yang amat dalam. Kondisi itu dirasakan oleh istri Bruce Lee, Linda Lee. Kekalutan itu membuat Linda langsung memboyong anak-anaknya –Brandon Lee dan Shannon Lee-- dari Hong Kong ke Amerika Serikat (AS).  

Buah tak jauh jatuh dari pohon. Darah seni Bruce mengalir ke Brandon yang menempuh pendidikan di AS. Linda pun segera mendaftarkan anaknya itu ke sekolah drama. Brandon pun beruntung. Jalannya menuju tangga popularitas terbuka lebar. Statusnya sebagai anak Bruce Lee jadi keistimewaan.

Brandon Lee semasa kecil dan ayahnya, Bruce Lee. (Wikimedia Commons)

Kondisi itu membuat Brandon beberapa kali mendapatkan peran dalam film. Sekalipun beberapa di antaranya tak membawanya populer. Brandon pun terus berusaha. Ia mencoba menembus tingkatan untuk jadi aktor papan atas.

Usahanya terhitung giat. Ia mulai mendapatkan peran penting dalam film laga Legacy of Rage (1986). Masalah muncul. Kepopulerannya kerap dihubungkan dengan Bruce Lee. Banyak orang mulai membanding-bandingkan dengan Ayahnya kala bermain film laga.

Brandon justru tak ingin dibandingkan. Ia menganggap jejak awal karier karier ayahnya dan dia berbeda. Ayahnya digambarkan sebagai pelatih bela diri kemudian jadi aktor. Sedang dirinya sudah sedari awal memilih sebagai aktor dan baru belajar bela diri.

Brandon bahkan ogah meniru gaya bertarung ayahnya dalam film laga. Ia lebih memilih menemukan gayanya sendiri.

“Ini pertama kalinya saya mendapat kesempatan melampiaskan seni akting yang pernah saya pelajari. la lantas menyebutkan perbedaan dirinya dengan ayahnya. Ayah beranjak dari karier pelatih kungfu, lalu menjadi aktor.”

“Saya berlatih akting dulu, baru mempelajari silat setelah bermain film. Beda lainnya, Saya tidak berbicara dengan gaya dan logat Ayah. Saya tak mau berkelahi dengan cara Ayah,” terang Brandon sebagaimana dikutip laporan majalah Tempo berjudul Tidak Suka Disamakan dengan Ayahnya (1987).

Usaha Brandon menembus dunia hiburan patut diacungi jempol. Perjuangnya membuat banyak sutradara melirik. Alex Proyas, salah satunya. Ia mencoba membangkitkan gairah akting Brandon dalam film garapannya, The Crow.

Brandon pun serius dalam menjani perannya sebagai Eric Draven. Namun, film itu justru jadi film terakhirnya. Brandon meninggal dunia dalam proses pengambilan adegan film pada 31 Maret 1993.

Brandon Lee, aktor Amerika Serikat yang merupakan anak dari aktor laga kenamaan asal Hong Kong, Bruce Lee difoto pada 1986. (Associated Press/Lacy Atkins)

Ia tertembak oleh peluru yang semestinya kosong tapi ternyata berisi. Tembakan dari jarak 20 kaki itu menembus perut dan nyawa Brandon tak dapat diselamatkan.

"Brandon Lee menghabiskan seumur hidupnya berjuang untuk menjadi lebih dari sekadar putra Bruce Lee. Namun sama seperti kehidupan Brandon yang dibingkai oleh ketenaran ayahnya, demikian pula kematiannya. Jika Brandon pernah hidup dan membuat 50 film hebat.”

“Maka tak seorang pun akan mengingat hubungan Bruce Lee kecuali sebagai catatan kaki kecil. Tapi saya khawatir dia selamanya terkait erat dengan ayahnya,” ungkap Betsy Sharkey dalam tulisannya di surat kabar The New York Times berjudul Fate's Children: Bruce and Brandon (1993).