Bagikan:

JAKARTA – Sejarah hari ini, 58 tahun yang lalu, 30 Desember 1965, Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos Sr dilantik sebagai Presiden Filipina. Seisi Filipina pun menyambut pelantikan itu dengan gegap gempita. Rakyat Filipina ingin presiden baru yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Sebelumnya, Marcos dikenal sebagai politikus ulung. Ia mampu mengemas citranya sebagai pahlawan dalam perang invasi Jepang ke Filipina. Sekalipun kemudian klaim Marcos ikut berperang atau memimpin tak dapat dibuktikan.

Bekal Marcos masuk dalam dunia politik lengkap. Ia adalah pengacara yang juga orator ulung. Narasi itu membuatnya mampu berbicara banyak dalam peta politik Filipina. Citra positif pun dikemasnya matang-matang.

Marcos menyebut dirinya sebagai orang yang berada di garda terdepan selama Invasi Jepang di Filipina pada Perang Dunia II. Citra itu membawa harum namanya bak pahlawan yang berani mati demi negara. Ia pun berhasil merebut hati rakyat Filipina.

Ferdinand Marcos Sr yang pernah menjabat sebagai Presiden Filipina era 1965-1986. (Wikimedia Commons)

Klaim tersebut memang diragukan. Marcos memang ikut militer, tapi perihal berperang mengorban nyawa diragukan. Marcos tak mengambil pusing. Heroisme Marcos terus digaungkan.

Hasilnya mengagumkan. Karier politik Marcos melejit. Langkah politiknya dianggap cerdik. Apalagi, ia termasuk dalam kategori orator ulung. Semuanya itu berhasil dibuktikan dengan serangkaian jabatan mentereng yang pernah di dapat Marcos sebagai politisi.

Marcos pernah dipercaya sebagai anggota dewan hingga senator. Ia secara meyakinkan membawa pesan anti korupsi. Pun Marcos punya mimpi akan membuat Filipina besar di mata dunia. Orasi-orasi menggelar itu membuatnya mendapatkan tempat di hati rakyat Filipina.

“Jumlah medali perang yang dihitung oleh Pemerintah Filipina berkisar antara 26 hingga 33. Ketika keabsahannya dipertanyakan oleh jurnalis Amerika dan Filipina, Pemerintah berpendapat bahwa dokumentasi Marcos sebagai perwira militer dan pemimpin gerilya telah terbakar.”

Presiden Soeharto berbincang dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Sr. di Kamar Kepresidenan Kuala Lumpur Hilton, Malaysia, Rabu (3/8/1977). (Antara)

“Pada tahun 1946 dan 1947, Marcos menjadi asisten khusus Presiden Manuel Roxas. Ia adalah anggota Dewan Perwakilan Filipina dari tahun 1949 hingga 1959 dan Senat dari tahun 1959 hingga 1966, menjabat sebagai presiden Senat dari tahun 1963 hingga 1965,” ungkap Eric Pace dalam tulisannya di surat kabar The New York Times berjudul Autocrat With a Regal Manner, Marcos Ruled for 2 Decades (1989).

Citra pahlawannya dalam perang nyatanya ampuh menjaring suara. Marcos pun berpikir untuk ikut kontestasi politik yang lebih tinggi. Ia mulai memantapkan langkah melaju sebagai calon presiden. Kendaraan politiknya, Partai Nacionalista mendukung penuh langkah Marcos.

Pucuk dicinta ulam tiba. Marcos unggul dalam Pilpres 1965. Ia mampu menang melawan rivalnya, Diosdado Macapagal. Kemenangan Marcos kian paripurna kala ia dilantik sebagai Presiden Filipina pada 30 Desember 1965. Sekalipun kemudian ia jadi aib dalam sejarah Filipina.

“Dia kemudian mencalonkan diri sebagai calon presiden dari Partai Nacionalista melawan Diosdado Macapagal. Kampanye Marcos mahal dan pahit. Marcos menang dan dilantik sebagai presiden pada tanggal 30 Desember 1965.”

“Pada tahun 1969 ia terpilih kembali menjadi presiden Filipina yang menjalani masa jabatan kedua. Selama masa jabatan pertamanya, ia telah membuat kemajuan di bidang pertanian, industri, dan pendidikan. Namun, pemerintahannya bermasalah dengan meningkatnya demonstrasi mahasiswa dan aktivitas gerilya kota yang penuh kekerasan,” tertulis dalam laman Britannica, 6 Desember 2023.