Bagikan:

JAKARTA – Memori hari ini, delapan tahun yang lalu, 7 Desember 2015, kandidat calon Presiden (Capres) Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengungkap janjinya yang paling ekstrem. Ia berjanji kala terpilih akan melarang seluruh umat Muslim dunia masuk AS.

Pelarangan itu dilanggengkan karena kaum Muslim sering menganggap orang AS bak musuh. Sebelumnya, kehadiran Trump dalam kontestasi Pilpres Amerika jadi perhatian seantero dunia. Trump yang seorang pengusaha kesohor kerap melemparkan janji kampanye kontroversi.

Nama Trump di dunia bisnis mentereng. Instingnya berbisnis membuat Trump kaya raya. Trump pun jadi pebisnis yang perhitungkan di AS. Propertinya di mana-mana. Beberapa yang paling terkenal adalah Trump Tower setinggi 68 lantai di Fifth Avenue, Trump Place, Trump World Tower, serta Trump International Hotel.

Saban hari bisnisnya terus berkembang. Demikian pula dengan ambisinya. Trump pun menambah target baru: dunia politik. Apalagi, di tahun 2010-an. Mimpi jadi Presiden AS mulai diwujudkan. Segala daya upaya pun digerakkan Trump.

Uang kampanye bukan masalah besar. Ia pun mencoba bersaing jadi kandidat Capres dari Partai Republik. Satu demi satu kandidat mulai ditaklukkan. Trump pun berberhasil. Ia mampu memikat Partai Republik untuk mencalonkannya sebagai Capres AS.

Donald Trump yang pernah menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat era 2017-2021. (Wikimedia Commons)

Siasat pun dimainkan. Ia dan timnya mulai merumuskan janji dan program kerja sebagai Capres. Isu yang diangkat Trump pun menggelegar. Sekalipun penuh kontroversi. Ia mulai mengangkat nilai konservatif orang AS muncul ke permukaan.

Sentimen ras dibangkitkan. Donald Trump pun mulai menjadikan LGBT bak musuh orang AS. Ia seraya tak sudi penganut pandangan LGBT merajalela. Nyatanya, narasi itu mampu membuat Trump populer. Banyak orang yang mulanya tak peduli dengan Pilpres 2016, mulai terwakilkan dengan sikap Trump.

“Tapi pada saat yang sama, bayang-bayang kemarahan dan kebencian masa lalu muncul kembali. Penyakit lama kambuh mencari antagonisme baru. Rasisme Putih yang menampik dan mencurigai orang Hitam, Kuning, cokelat lahir dari sedimentasi purbasangka abad lalu ketika kata ‘Negro’ berarti penghinaan.”

“Semangat feminis yang menegaskan hak perempuan untuk mengelola fungsi keibuan kaum wanita termasuk dalam memilih untuk tak melahirkan dicurigai sebagai penyebab susutnya penduduk kulit putih dan guncangnya nilai-nilai keluarga yang dianggap jadi benteng Mayoritas. Demikian juga homoseksualitas dimusuhi dengan doktrin-doktrin agama yang cemas dari abad ke abad,” terang sastrawan Goenawan Mohamad dalam tulisannya di Majalah Tempo berjudul Trump (2016).

Bayang-bayang kebencian yang tanam Trump dalam kampanye tak sedikit. Janji kampanyenya yang paling ekstrem pun keluar. Trump ingin melarang seluruh kaum Muslim untuk masuk AS. Penyataan itu diungkap Trump lewat rilis yang dibagikan timnya pada 7 Desember 2015.

Pernyataan Donald Trump dalam kampanyenya sebagai Presiden Amerika Serikat pada 7 Desember 2015. (CNN)

Trump beralasan kaum Muslim dianggap tak memiliki rasa hormat kepada orang AS. Islam dianggap Trump mengizinkan kekejaman kepada mereka yang tak seagama. Apalagi, kaum Muslim dianggap dapat dengan mudah melanggengkan jihad.

Kondisi itu dianggap akan merugikan AS. Utamanya, kaum wanita. Pandangan Donald Trump pun dikecam di seantero dunia. Trump pun tak peduli. Ia kemudian justru mampu terpilih sebagai Presiden AS yang baru.

“Donald Trump, kandidat utama calon Presiden AS dari Partai Republik, menyerukan penutupan total dan menyeluruh perbatasan negara bagi umat Islam setelah serangan teroris di San Bernardino. Trump menyampaikan janjinya yang paling ekstrem.”

“Ia dalam sebuah kampanye di mana ia secara konsisten mengesampingkan isu-isu ras dan imigrasi – dalam sebuah pernyataan yang dirilis ke media melalui tim kampanye kepresidenannya. Dia mengatakan ada kebencian yang begitu besar di kalangan umat Islam di seluruh dunia terhadap orang Amerika sehingga mereka perlu menolaknya secara massal, sampai masalahnya bisa dipahami dengan lebih baik,” terang Ed Pilkington dalam tulisannya di laman The Guardian berjudul Donald Trump: Ban All Muslims Entering US (2015).