JAKARTA - Lee Kuan Yew adalah sosok penting dalam sejarah perjalanan bangsa Singapura. Perdana Menteri (PM) Singapura era 1959-1990 itu dikenal visioner. Namun, ia tak kalah kontroversial. Ia punya pandangan Singapura harus didominasi kaum terpelajar.
Ia tak sudi seorang pria terpelajar menikahi wanita biasa-biasa saja. Nasib Singapura bisa terancam. Singapura akan ditinggali generasi tak berkualitas. Lee menggelorakan gebrakan baru. Ia memaksa pemerintah jadi 'mak comblang' demi terciptanya generasi Singapura berkualitas.
Singapura pernah punya masalah serius terkait pertumbuhan penduduk pada 1960-an. Masalah pertumbuhan penduduk yang pesat bawa mudarat besar. Singapura mulai merasakan banyak masalah sosial.
Daya tampung Singapura mulai terbatas. Demikian pula dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Lee Kuan Yew pun muncul bak juru selamat. Pria kelahiran Singapura, 16 September 1923 mulai menggelorakan perubahan.
PM Malaysia itu menggelorakan pembatasan populasi di Singapura. Program Dua Anak Cukup (Stop at Two) pun muncul di era 1960-an. Rakyat Singapura bak dipaksa pemerintah untuk hanya punya anak sampai dua saja.
Barang siapa yang memiliki anak dua saja, niscaya akan hidup bahagia. Mereka mendapatkan ragam kemudahan. Cuti melahirkan diberikan. Biaya persalinan ditanggung negara. Pemerintah juga menyediakan layanan aborsi dan sterilisasi.
Anak-anak mereka dapat prioritas masuk sekolah unggulan. Kebijakan itu berbeda dengan mereka yang memiliki anak tiga atau lebih. Kehidupannya akan dipersulit negara. Semua aktivitas keluarga –kaum wanita dari mengandung, melahirkan, hingga menyekolahkan anak harus mengeluarkan biaya besar.
Narasi itu membuat rakyat Singapura tak berani beranak lebih dari dua. Kebijakan itu berjalan lancar dalam waktu yang lama. Ekonomi Singapura perlahan-lahan mulai membaik. Urusan keterbatasan lahan tak lagi jadi soal.
Belakangan program itu membuat rakyat Singapura –utamanya wanita-- terpelajar tak ingin menikah dan punya anak. Kondisi itu memunculkan ancaman baru. Populasi Singapura diprediksi terus menurun drastis.
“PM Lee Kuan Yew khawatir. Gara-gara program keluarga berencana, yang mencanangkan cukup dua anak saja, Singapura bisa-bisa gagal mempertahankan jumlah penduduk 2,5 juta. Menurut statistik, tahun lalu Singapura hanya memperoleh tambahan 42 ribu bayi, padahal yang diperlukan 56 ribu. Tragisnya, pada periode yang sama, negeri pulau itu mencatat 24 ribu pengguguran.”
“Menghadapi paceklik bayi ini, pemerintah banting setir. Slogan dua anak yang sudah dua puluhan tahun dikerek, ditinggalkan. Kini pasangan suami-istri dianjurkan mempunyai lebih banyak anak. Untuk itu mereka diberi iming-iming. Kemudahan di bidang perumahan, pajak dan pengobatan, plus hak untuk cuti lebih panjang, adalah sebagian dari perangsang yang ditawarkan pada para wanita pekerja,” tertulis dalam laporan Majalah Tempo berjudul Dua Tidak Cukup (1986).
Mak Comblang
Program penambahan populasi ala Lee tak seluruhnya dilakukan sembarangan. Ia ingin sebagian besar generasi penerus Singapura adalah orang-orang cerdas. Masalah muncul. Kebanyakkan laki-laki Singapura terpelajar yang sarjana banyak menikah dengan wanita dengan pendidikan biasa-biasa saja – ingin pasangan wanita yang patuh.
Semuanya karena wanita sarjana dianggap berpikiran logis dan cenderung mendominasi. Kaum pria jadi tak mau punya anak dengan wanita sarjana. Ada pula kaum wanita terpelajar yang memang tak kebagian jodoh karena fokus mengejar karier.
Kondisi itu dianggap Lee sebagai ancaman besar. Ia menilai generasi Singapura di masa depan banyak hadir dari kalangan tak berkualitas. Ia kemudian menggelorakan kebijakan The Great Married (Pernikahan Besar) pada 1983.
Kebijakan itu digelorakan dengan cara melibatkan pemerintah sebagai biro jodoh (mak comblang) bagi wanita terpelajar dan karier untuk menemukan pria terpelajar idamannya. Tujuannya supaya bayi berkualitas dan cerdas banyak lahir di Singapura.
Lee percaya persoalan gen terpelajar dapat membawa Singapura besar di tengah ‘lautan’ Melayu. Keinginan itu diwujudkan dalam bentuk layanan perjodohan yang dibuka oleh Unit Pengembangan Sosial Singapura.
Peran pemerintah sebagai mak comblang begitu giat. Pemerintah bak memfasilitasi warganya menemukan pasangan yang terpelajar. Segala macam acara perjodohan kemudian digelar, dari acara jalan-jalan hingga minum teh.
Kebijakan Lee mendapatkan pro dan kontra. Mereka yang mendukung menganggap kebijakan Lee tepat guna karena mampu mengangkat hajat hidup rakyat Singapura di masa yang akan datang. Mereka menentang tak sedikit.
Pemerintah Singapura dianggap sudah masuk ke ranah pribadi yang notabene empunya kuasa tak boleh ikut campur. Namun, Lee terus saja melanjutkan agendanya. Ia mendukung penuh pria terpelajar menikahi wanita terpelajar. Lee menganggap kebijakan akan dibuktikan dengan maju tidaknya Singapura di masa depan.
BACA JUGA:
"Jangan hiraukan kehebohan di media -- semua wartawan asing menulis bahwa pemerintah gila mencoba mencampuri kehidupan rakyat. Setiap tahun yang berlalu adalah tahun yang hilang. Dan Anda tidak mengambil keputusan dan langsung punya bayi."
“Kita dilahirkan tidak setara dan kita harus memanfaatkan semuanya sebaik-baiknya. Dan entah itu pohon buah, entah itu kuda pacu, apa pun itu, begitulah cara alam bekerja. Begitulah biokimia, bagaimana ia ditularkan: gen berkualitas” ujar Lee sebagaimana dikutip Nick B. William Jr dalam tulisannya di surat kabar Los Angeles Times berjudul Singapore Tries to Help Its Educated Women Trade Spinsterhood for Motherhood (1986).