Bagikan:

JAKARTA – Memori hari ini, 11 tahun yang lalu, 4 Oktober 2012, Michael Schumacher pensiun penuh dari dunia balap jet darat, Formula One (F1). Keputusan itu diambilnya karena ia telah puas mengabdikan diri di dunia balapan. Sekalipun ia masih mampu bersaing.

Sebelumnya, Schumi adalah legenda hidup F1. Kehebatannya mengendalikan jet darat tiada dua. Ketekunannya jadi inspirasi banyak orang. Schumi mampu bersaing dengan banyak pembalap kesohor lainnya dan berhasil. Ia mampu menjadi juara dunia sebanyak tujuh kali.

Khalayak umum pernah meramal Michael Schumacher merajai pentas jet darat dunia. Ramalan itu bukan pepesan kosong belaka. Semuanya karena Schumi berhasil menunjukkan kemampuan kemampuan terbaiknya dalam lintasan balap F1.

Kala membela tim Benneton Italia, misalnya. Tim kenamaan itu beruntung dapat mendatangkan Schumi sebagai pembalapnya. Kehadiran Schumi bak energi baru. Narasi itu dibuktikan dengan keberhasilan Schumi menjadi juara dunia untuk pertama kalinya pada 1994. Kemudian, setahun setelahnya, atau pada 1995.

Prestasi itu membuat nama Schumi melejit. Pamornya bertambah. Demikian pula penggemarnya. Ia kemudian jadi rebutan dari tim kelas atas di dunia balapan F1. Ferrari bahkan sampai kepincut dengan Schumi.

Michael Schumacher di dalam kokpit mobil balap F1 Ferrari. (Motorsport)

Mereka mencoba menjadikan Schumi sebagai pembalap andalannya. Keinginan itu dilanggengkan karena Ferrari telah puasa gelar sejak tahun 1979. Ia butuh pembalap yang bermental juara. Pun Schumi adalah 'jimat' kemenangan yang selama ini dicari oleh Ferrari.

Pucuk dicinta ulam tiba. Ferrari berhasil mendatangkan Schumi sebagai pembalap barunya pada 1996. Prestasi Schumi pun tak langsung menanjak. Ia harus menerima serangkaian kegagalan. Pun sempat pula kecelakaan hingga kakinya patah.

Schumi tak menyerah. Perlahan-lahan ia menghadapi tahun-tahun terburuknya. Satu-satunya yang dipikirkan Schumi adalah menjalankan kewajibannya sebagai pembalap dengan baik. Hasilnya gemilang. Ia muncul kembali sebagai juara dunia pada 2000.

Prestasi itu diikuti dengan keberhasilan Schumi meraih juara dunia pada 2001, 2002, 2003, hingga 2004. Rentetan prestasi itu membuat Schumi puas. Ia pun menyatakan pensiun pada tahun 2006.

“Satu lagi kelebihannya. Sang juara bisa menjaga ritme kecepatan mobilnya. Kecepatannya tak mengendur hampir sepanjang lap dan putaran. Seusai lomba, ia pun segera mengevaluasi kekurangan mesinnya. Manager teknik Ferrari, Ross Brawn mengatakan ini membantu kami mendesain mobil balap yang lebih baik lagi.”

Nama Michael Schumacher diabadikan pada tikungan chicane, 9 dan 10 di Sirkuit Nurburg (Nurburgring), Jerman. (Wikimedia Commons) 

“Sejuta kehebatan itu tak hanya membuat nama Schumi melambung. Pundi-pundi uangnya pun terus membengkak. Kini ia tercatat sebagai atlet bergaji paling gede di Eropa. Setahun ia dibayar Rp450 miliar. Total kekayaannya diperkirakan telah mencapai Rp850 miliar. Tumpukan harta dan popularitas Schumi akan semakin tinggi bila tahun depan dia menjadi juara lagi,” terang Hendriko L. Wiremmer dalam tulisannya di Majalah Tempo berjudul Kehebatan Sang Raja Tikungan (2002).

Nyatanya keinginan pensiun justru membuat keinginan balapan meningkat. Juara dunia F1 tujuh kali itu akhirnya menyatakan akan berpartisipasi kembali dalam dunia jet barat pada 2010. Tim yang ia bela kali ini adalah tim baru, Marcedes GP.

Malang tak dapat ditolak. Performa yang dibawakan Schumi tak lagi sama seperti ia masih aktif dengan Ferarri dulu. Ia mengalami banyak penurunan –jika tak mau dikatakan kemunduran. Serentetan penurunan itu membuat Schumi mencoba berdamai dengan dirinya sendiri dan menyatakan dirinya pensiun penuh pada 4 Oktober 2012.

“Saya jelas ingin mengucapkan terima kasih kepada Daimler, Mercedes-Benz, tim, para insinyur, dan semua mekanik saya atas semua kepercayaan yang mereka berikan pada diri saya selama bertahun-tahun. Namun saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua sahabat, mitra dan sahabat yang selama bertahun-tahun berkecimpung di dunia balap F1 mendukung diri saya sendiri.”

“Namun yang terpenting, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Corinna (istrinya), dan keluarga saya karena selalu berada di sisi saya, memberi saya kebebasan untuk menjalankan keyakinan saya dan berbagi kegembiraan. Itu sangat istimewa,” ujar Schumi dalam pidato pensiunnya sebagaimana dikutip laman Autosport, 4 Oktober 2012.

Michael Schumacher mengalami kecelakaan saat bermain ski di kawasan resort Meribel, Prancis pada 29 Desember 2013. Kecelakaan tersebut membuatnya menderita kelumpuhan hingga saat ini.