Bagikan:

JAKARTA – Sejarah hari ini, 60 tahun yang lalu, 28 Maret 1963, Presiden Soekarno menetapkan pejuang kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan itu tak dapat diganggu gugat. Soekarno meyakini Tan Malaka adalah pejuang sejati yang mencintai bangsa dan negara Indonesia.

Sebelumnya, Tan Malaka dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang beraliran sosialis. Perjuangannya kerap memancing kekaguman. Karenanya, pengorbanan Tan Malaka untuk Indonesia tak perlu diragukan.

Nama Tan Malaka boleh jadi tak setenar Soekarno dan Hatta. Namun, bukan berarti sumbangsih Tan Malaka kecil bagi kemerdekaan Indonesia. Andilnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia membuat banyak orang kagum.

Semuanya bermula ketika ia menyaksikan sendiri penderitaan kaum bumiputra. Baginya, penjajahan adalah pembodohan. Apalagi akses pendidikan terbatas. Ia pun bergerak untuk membangun sekolah. Ia mengabdikan dirinya sebagai guru untuk menanamkan kesadaran akan kemerdekaan kepada kaum bumiputra.

Upaya itu dibarengi dengan andilnya bergabung dengan di Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV), yang menjadi cikal-bakal Partai Komunis Indonesia. Perjuangan itu membuat Belanda berang. Ia kemudian diasingkan ke Belanda.

Potret Tan Malaka, pahlawan nasional Indonesia asal Padang bernama asli Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. (Wikimedia Commons)

Namun, pengasingan jadi guru berharga bagi Tan Malaka. Ia dapat melanglang buana ke berbagai negara. Bahkan, ia sempat membuat mahakarya berharganya bagi bangsa Indonesia dil luar negeri: Naar de Republiek. Buku kecil itu berisikan konsep bangsa Indonesia.

Buah pikiran itulah yang membuat Tan Malaka dijuluki sebagai Bapak Bangsa. Namun, tak semua pemikiran Tan Malaka diterima oleh segenap pejuang kemerdekaan. Pada masa revolusi, misalnya. Tan Malaka kerap berada dalam posisi berseberangan dengan tokoh bangsa lainnya sampai ia meninggal dunia pada 1949.

“Bahwa sejak 1945 rakyat Indonesia dibawa pemimpin-pemimpinnya mula-mula ke kiri lalu kemudian ke kanan. Rakyat dimanfaatkan, mengikuti dan mempercayai kemampuan dan ketulusan para pemimpin. Sebaliknya para pemimpin berkewajiban menanamkkan keberanian dan kejujuran, serta mencurahkan daya-upayanya untuk kepentingan rakyat.”

“Apabila pemimpin naik mobil, tinggal di gedung yang bagus, dan berpakaian mahal-mahal, mereka tidak akan mendapatkan dukungan. Rakyat tidak paham tentang diplomasi, sementara itu mereka harus mengungsi. Rakyat tidak tahu, bahwa Perdana Menteri Republik Indonesia berunding dengan boneka-boneka Belanda, dan bukan dengan Perdana Menteri Belanda,” terang Tan Malaka sebagaimana ditulis Harry A. Poeze dalam buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 3 (2019).

Boleh jadi Tan Malaka telah meninggal dunia. Namun, jasanya sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia tak lantas dilupakan sejarah. Presiden Soekarno kemudian mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 28 Maret 1963.

Bung Karno meyakini Tan Malaka memiliki sumbangsih besar bagi Indonesia. Keputusan Bung Karno pun tak dapat diganggu gugat. Sekalipun beberapa kalangan menilai tindakan Tan Malaka semasa hidupnya banyak memunculkan kontroversi.

“Langkah lain dalam rehabilitasi Tan Malaka diambil pada anggal 28 Maret 1963. Soekarno mengangkatnya sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Dengan demikian, ia meluluskan permintaan Partai Murba. Keputusan ini tidak dapat ditarik kembali ini. Tan Malaka menjadi anggota barisan Pahlawan Nasional.”

“Sekaligus juga, ia adalah Pahlawan Nasional yang kontroversial karena dinilai sebagai seorang komunis oleh partai nasionalis dan partai agama, tetapi dianggap pengkhianat oleh kaum komunis. Di luar Murba, nanya pemimpin Angkatan Darat, A.H. Nasution, yang menyatakan hormatnya kepada Tan Malaka. Hal ini sejalan dengan kekaguman Nasution kepada Tan Malaka yang sudah lama dirasakannya,” ungkap Harry A. Poeze pada tulisan lainnya dalam buku Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (2008).