Perdana Menteri Perempuan Pertama India Itu Bernama Indira Gandhi
Indira Gandhi (Twitter/@BhupenkBorah)

Bagikan:

JAKARTA - Tanggal 19 Januari 1966, merupakan hari bersejarah bagi India. Untuk pertama kalinya, India memiliki perdana menteri (PM) wanita, dia adalah Indira Gandhi. 

Indira Gandhi adalah orang ketiga yang menjabat posisi PM India. Indira sendiri adalah anak dari PM pertama India, Jawaharlal Nehru. Kakek Indira, Motilal Nehru, adalah salah satu pelopor gerakan kemerdekaan dan merupakan rekan dekat Mahatma Gandhi. Indira menikah dengan Feroze Gandhi (tidak ada hubungan dengan Mahatma Gandhi) dan memiliki dua anak laki-laki, Sanjay dan Rajiv. 

Karena ibunya sudah meninggal, Indira-lah yang kerap menemani ayahnya jika terdapat momen-momen penting terkait kenegaraan. Indira juga yang menemani ayahnya berkeliling ke luar negeri untuk memenuhi pertemuan antar-negara. Hal itulah yang membuat Indira tak asing lagi dengan dunia politik.

Setelah kematian ayahnya pada 1964, Indira diangkat ke Rajya Sabha, tingkat atas parlemen India. Indira mendapat jabatan sebagai menteri informasi dan penyiaran kala itu di bawah pemerintahan PM Lal Bahadur Shastri. Namun pemerintahan Lal Bahadur Shastri tidak terlalu panjang karena pada 1966, Lal Bahadur Shastri meninggal mendadak. Indira pun ditunjuk oleh para pemimpin Partai Kongres untuk menjadi perdana menteri.

Kepemimpinan Indira Gandhi mengejutkan rekan-rekan ayahnya. Banyak yang mengira karena Indira adalah perempuan, maka ia akan mudah disetir. Namun nyatanya, Indira Gandhi sangat berani dan tegas. Pada 1969, secara sepihak Indira menasionalisasi bank-bank yang ada di India. Hal yang Indira lakukan tersebut membuat beberapa anggota Partai Kongres berusaha menyingkirkannya dari perannya.

Tak gentar, Indira Gandhi pun mengumpulkan faksi baru partai dengan sikap populisnya dan memperkuat cengkeramannya dengan memenangkan parlemen pada 1971. Dikutip dari Biography, Minggu 19 Januari 2020, pada 1971 India juga terlibat dalam konflik berdarah antara Pakistan Barat dan Timur. Akibat konflik tersebut, sekitar 10 juta warga Pakistan mencari perlindungan ke India. Setelah penyerahan pasukan Pakistan pada Desember 1971, Indira mengundang Presiden Pakistan Zulfikar Ali Bhutto ke Kota Simla untuk menghadiri sebuah konferensi.

Kedua pemimpin menandatangani Perjanjian Simla, setuju untuk menyelesaikan perselisihan teritorial secara damai dan membuka jalan untuk pengakuan bangsa Bangladesh yang merdeka. Selama masa ini, India juga mencapai kesuksesan nyata melalui kemajuan Revolusi Hijau. India mampu menyikapi kekurangan makanan kronis yang memengaruhi para petani Sikh yang miskin di wilayah Punjab. Indira Gandhi lalu mendorong pertumbuhan melalui pengenalan benih dan irigasi, yang pada akhirnya menghasilkan panen yang tinggi.

Era kelam

Selain itu, Indira juga memimpin negaranya ke era nuklir dengan peluncuran perangkat bawah tanah pada 1974. Terlepas dari kemajuan yang Indira buat, ia dikritik karena cenderung memiliki sikap otoriter dan korupsi pemerintah di bawah pemerintahannya. Pada 1975, Pengadilan Tinggi Allahabad memutuskan Indira bersalah atas praktik pemilu yang tidak jujur, pengeluaran kebutuhan pemilu yang tidak wajar, dan menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan partai.

Alih-alih mengundurkan diri, Indira mendeklarasikan keadaan darurat dan memenjarakan ribuan lawannya. Indira sempat dipenjara pada 1978 dengan tuduhan korupsi, tetapi tahun berikutnya dia kembali memenangkan pemilihan di Lok Sabha, tingkat parlemen yang lebih rendah. Pada 1980, ia kembali berkuasa sebagai perdana menteri.

Pada tahun yang sama, putra Indira, Sanjay Gandhi, yang menjabat sebagai penasehat politik utamanya, meninggal dalam kecelakaan pesawat di New Delhi. Sementara anaknya yang masih hidup, Rajiv, sebagian besar hidupnya jauh dari urusan politik. Namun setelah Sanjay meninggal, Rajiv langsung mendalami karier politik untuk menjadi suksesor Indira.

Selama awal 1980-an, Indira Gandhi menghadapi tekanan yang meningkat dari faksi separatis, terutama dari kelompok Sikh di Punjab. Pada 1984, Indira memerintahkan tentara India untuk menghadapi separatis Sikh di Harmandir Sahib, kuil suci Sikh di Amritsar, India. Serangan tersebut memakan korban hingga 450 orang Sikh, namun pihak Sikh menyangkal jumlah tersebut dan mengatakan jumlah sesungguhnya lebih banyak. 

Pada 31 Oktober 1984, Indira Gandhi ditembak dan dibunuh oleh dua pengawalnya yang merupakan orang Sikh, sebagai balasan atas serangan di Harmandi Sahib. Jenazah Indira Gandhi dikremasi tiga hari kemudian dalam upacara Hindu. Posisi Indira segera digantikan oleh putranya, Rajiv, yang langsung mendapatkan tugas untuk memadamkan kerusuhan anti-Sikh.