Sejarah Hari Ini, 3 Juni 1912: Stasiun Kereta Api Cirebon Diresmikan, Karya Arsitek Hebat Pieter Adriaan Jacobus Moojen
Stasiun Kereta Api Cirebon, karya monumental dari arsitek pelopor bangunan modern tropis di Indonesia masa Hindia Belanda, Pieter Adriaan Jacobus Moojen. (Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA – Sejarah hari ini, 110 tahun yang lalu, 3 Juni 1912, Stasiun kereta api Cirebon diresmikan. Peresmiannya dilakukan bertepatan dengan operasional lintas kereta api Cikampek – Cirebon sepanjang 137 km. Stasiun itu tergolong istimewa. Arsitek kenamaan Hindia-Belanda, Pieter Adriaan Jacobus Moojen ikut turun tangan. Pelopor bangunan modern tropis alias indische bouwstijl itu berani memadukan antara sentuhan lokal dan luar negeri. Karenanya, sentuhan Moojen membuat Stasiun Cirebon punya ciri khas.

Pieter Adriaan Jacobus Moojen bukan orang baru dalam dunia arsitektur di Hindia-Belanda. Karyanya bejibun. Monumental pula. Bahkan, beberapa karyanya masih dapat dilihat hingga hari ini. Padahal, Moojen sendiri lebih menyukai dirinya dipanggil seniman ketimbang arsitek. Apalagi ia bukan saja jago marancang bangunan, tapi ia juga dikenal mahir sebagai pengarang, pelukis, dan kritikus seni.

Sederet keterampilan itu, membuat kehadirannya membawa warna baru dalam dunia arsitektur tanah air. Ia pun membuka biro arsitek di Bandung dan Batavia. banyak bangunan di Hindia-belanda dirancangnya. Kariernya pun menanjak.

Perancang Stasiun Kereta Api Cirebon, Pieter Adriaan Jacobus Moojen meninggal di Ede, Belanda dalam usia 75 tahun pada 1 April 1955. (Wikimedia Commons)

Ia dipercaya merancangkan Nieuw-Gondangdia (kini: Menteng). Proyek itu semakin melambung nama Moojen. Ia merancang pola Menteng sedari tahun 1910. Di tangannya, bangunan yang boleh berdiri di Menteng dibatasi.

Segala bangunan harus menyesuaikan dengan iklim tropis. Alias harus melalui proses perpaduan gaya. Karyanya yang populer adalah Batavia Kunstkring dan Gedung Boplo (kini: Masjid Cut Meutia). Karya itu buat Moojen dikenal sebagai pelopor bangunan modern tropis alias indische bouwstijl.

“Pieter Adriaan Jacobus Moojen dari Dewan Kota Praja Batavia merancang Menteng dalam konsep kota taman alias tuinstad. Bangunan yang boleh berdiri di sana harus menyesuaikan dengan iklim tropis, bukan bergaya Eropa, yang ketika itu banyak dipakai.”

Batavia Kunstkring, salah satu karya monumental Pieter Adriaan Jacobus Moojen yang menjadi tengara di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. (Wikimedia Commons)

“Kawasan yang dulu bernama Nieuw-Gondangdia tersebut menjadi perumahan modern pertama di Hindia Belanda. Moojen tampil sebagai pelopor bangunan modern tropis alias indische bouwstijl,” ungkap Ahmad Taufik dan Sorta Tobing dalam buku Kedutaan Hijau di Menteng (2011).

Nama Moojen pun makin kesohor. Banyak perusahaan di Hindia-Belanda kepincut dengan karyanya. Staatsspoorwegen (SS), salah satunya. Perusahaan kereta api di Hindia-Belanda meminta Moojen merancang bangunan Stasiun Cirebon.

Moojen pun merasa tertantang. Ia kemudian membuat rancangan Stasiun Cirebon dengan sentuhan aliran seni art deco yang kental. Namun, Moojen tak melupakan sentuhan lokal ala tropis. Maha karya Moojen (Stasiun Cirebon) pun diresmikan oleh SS pada 3 Juni 1912.

Stasiun Kereta Api Cirebon pada masa kini, mulai dibangun pada awal 1911 dan diresmikan 3 Juni 1912. (Wikimedia Commons)

Stasiun itu dibuka bersamaan dengan peresmian lintas jalur kereta api milik SS, Cikampek-Cirebon sejauh 137 kilometer. Kehadiran stasiun itu menjadi bukti pembangunan jalur kereta api mulai meluas di Pulau Jawa.

“Pada tahun 1912 pembangunan jalur kereta api dari Batavia-Surabaya melalui jalur utara juga sudah ada, jalan yang dilalui yaitu Cirebon-Semarang-Bojonegoro,” tutup Prita Ayu Kusumawardhani dalam buku Kereta Api di Surabaya 1910-1930 (2017).