Eksklusivitas Menteng sebagai Kawasan Hunian Modern Pertama di Indonesia
Kawasan Menteng (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Sedari dulu Menteng dikenal sebagai kawasan hunian modern. Menteng bahkan adalah yang pertama di Indonesia. Mengusung eksklusivitas, hanya orang Eropa (Belanda) yang kaya dan sangat kaya saja dapat tinggal di Menteng. Kendati demikian, sebelum dilirik kompeni sebagai lokasi pembangunan hunian modern, Menteng hanyalah sebuah tanah partikelir.

Sebagai tanah partikelir, wilayah Menteng digambarkan berkali-kali berpindah tangan. Pada 1815, disebutkan kawasan tersebut dimiliki oleh seorang bendahara bank perkreditan di Batavia, Jacob Paulus Barends.

Sebagaimana yang tercantum dalam laporan Javasche Courant Nomor 41 Tahun 1892, Barends dinyatakan pailit dan bangkrut. Ia juga dianggap tak mampu mengurus hartanya sendiri. Akibatnya, tanah partikelir Menteng kemudian berpindah tangan berkali-kali, hingga akhirnya Menteng berada di bawah kepemilikan empunya baru bernama Said Ahmad bin Sahab pada 1881.

Kepemilikan itu bertahan sampai nantinya tanah partikelir dibeli oleh kompeni di awal abad ke-20. Pembelian tersebut dilakukan karena pemerintah ingin membangun hunian eksklusif khusus bangsa Eropa golongan menengah ke atas.

Meski begitu, hal yang menarik dari Menteng tak lain adalah perihal nama. Menurut Rachmat Ruchiat dalam buku Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta (2018), nama Menteng memiliki banyak versi. Beberapa di antaranya berasal dari nama kali kecil, yakni Kali Menteng. Hal itu karena nama Menteng atau Kali Menteng sudah disebutkan sejak abad ke-18.

Ada pula sumber lain yang menegaskan bahwa nama Menteng diambil dari tumbuhan yang dulu banyak terdapat di wilayah itu: pohon menteng. “Menteng (baccaurea recemosa) adalah tumbuhan asli Asia Tenggara yang tingginya 15-25 meter. Pohon ini termasuk suku euphorbiaceae dengan daunnya yang lonjong.”

Rachmat juga menjelaskan bahwa pohon menteng memiliki batang yang berserat panjang. Batang tersebut lazimnya digunakan sebagai bahan pembuat pembuat kertas dan banyak tumbuh di kawasan tersebut. Pada akhirnya, penduduk setempat menyebut kawasan tersebut dengan nama "Menteng".

Kawasan Menteng (Sumber: Commons Wikimedia)

 

Perumahan modern pertama

Eksistensi kawasan Menteng sebagai hunian eksklusif orang-orang berduit tak terbantahkan. Pemerintah kolonial Belanda begitu serius membangun kawasan Menteng sebagai perumahan modern pertama di Hindia-Belanda (Indonesia). Kompeni menamai proyek perumahan itu dengan "Niuew-Gondangdia", yang perlahan-lahan dikenal dengan Menteng.

Kala itu, Dewan Kota Praja Batavia membuat perumahan modern tersebut karena pusat kota --Weltevreden-- sudah begitu padat. Apalagi para pendatang dari Eropa terus berdatangan. Dikutip Sorta Tobing dalam tulisannya di Majalah Tempo berjudul Seabad Niuew-Gondangdia (2012), kompeni lalu memilih kawasan Menteng sebagai lokasi strategis untuk proyek baru mereka.

“Kebutuhan akan pemukiman baru bagi orang Eropa sangat besar. Pilihan jatuh kepada Menteng sebelah selatan, Koningsplein (Medan Merdeka), yang masih berada di pinggir kota tapi berbatasan dengan daerah yang telah digarap yaitu Cikini. Luasnya lebih dari 500 hektar,” ungkap Sorta Tobing.

Oleh sebab itu, pemerintah Dewan Kota langsung menujuk seorang arsitek kenamaan Pieter Adriaan Jacoobus Moojen sebagai perancang utama masterplan Menteng. Lewat bakatnya sebagai seorang arsitek sekaligus seniman, Menteng ia perlakukan layaknya sebuah karya seni.

Di tangannya, bangunan yang boleh berdiri di Menteng harus menyesuaikan dengan iklim tropis, bukan berkiblat kepada gaya Eropa yang banyak dipakai kala itu. Alhasil, Moojen pun tampil sebagai pelopor bangunan modern tropis alias indische bouwstijl. Hal itu terlihat dari proporsi rumah yang hadir di Menteng tampak tak mendominasi, supaya halaman jadi lebih luas.

“Langit-langit bangunannya tinggi dan jendelanya besar. Terkadang luasnya bisa mencapai 50 persen dinding penyangga jendela. Rumahnya jadi sejuk, meskipun kamarnya tidak seluas kamar rumah Eropa umumnya. Atap juga dibuat lebar dan tinggi untuk membuat bayangan teduh di bawahnya dan sirkulasi udara bergerak maksimal,” tambah Sorta Tobing.

Sampai-sampai, gaya rancangannya yang menarik dapat dilihat pada ragam bangunan hingga hari ini. Sebut saja Gedung Boplo yang pernah kami ulas lewat artikel “Gedung Boplo, Bangunan Milik Belanda yang Kini Menjelma Jadi Masjid Cut Meutia”.

Lainnya, yaitu Gedung Kunskring yang juga pernah kami bahas lewat tulisan “Memori Gedung Kunstkring sebagai Istana Seni di Zaman Hindia-Belanda”. Bangunan itu juga memiliki fungsi sebagai tempat pameran arsitektur dan seni murni kala itu.

Gedung Kunstkring (Sumber: Commons Wikimedia)

 

Akan tetapi, Rencana Moojen disebut kurang praktis. Maka pada 1918, kompeni menugaskan arsitek lain, seperti F.J Kubatz dan F.J.L Ghijsels dalam membangun Menteng. Mereka lebih banyak membangun rumah di sana. Meski begitu, gaya indische masih menjadi pegangan.

Kendati demikian, para arsitek tersebut menyumbang pikiran untuk membangunan gedung logegebouw, atau yang sekarang dikenal dengan gedung Bappenas. Bahkan, mereka turut menggantikan lapangan bundar dalam rencana Moojen dengan taman Burgemeester Bisschopplein atau yang kini dikenal sebagai Taman Suropati. Yang mana, kami pernah mengulasnya dalam tulisan “Mengenal Taman Suropati, Paru-Paru Jakarta Sejak Zaman Kompeni”.

Menteng pun kemudian berkembang cepat, terutama ketika resesi 1930-an telah teratasi. “Setelah masa sulit secara ekonomis mulai diatasi, Gereja Paulus (1936) dibangun. Pembangunan Gereja Teresia ditunda sampai tahun 1934, dan Sekolah Dasar Terisia dibuka pada tahun 1927,” tulis Adolf Heuken dan Grace Pamungkas dalam buku Menteng: Kota Taman Pertama di Indonesia (2001).

Atas keindahan aristektur dan kemegahan kawasan Menteng, arsitek kenamaan Belanda, H.P Berlage yang mengunjungi Batavia pada 1923 menuliskan kesan positifnya terhadap Menteng. Dirinya menyebut kawasan Menteng secara keseluruhan telah menyatu secara menarik.

“Gaya bangunan villa modern yang disesuaikan dengan iklim tropis memberi kesan baik. Saya merasa sekaan-akan di Baarn atau di Hilversum,” tutup Berlage.