Pertama Kalinya Anestesi Digunakan untuk Persalinan dalam Sejarah Hari Ini, 27 Desember 1845
William Morton dan John Warren saat pertama kali menggunakan anestesi untuk operasi (Foto: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Pada 27 Desember 1845, seorang dokter bernama Crawford W. Long memberi istrinya eter sebagai anestesi saat persalinan. Hal ini adalah pertama kalinya eter digunakan dalam proses persalinan.

Mengutip Smithsonian Magazine, ketika Long melakukan ini, dia sudah menggunakan eter pada seorang teman untuk operasi pengangkatan kista di lehernya. Namun, publik skeptis dengan ide membuat orang pingsan selama operasi. Jadi Long berhenti menggunakan eter di kliniknya. Ia pun tidak memberikan catatan pengalamannya menggunakan anestesi hingga 1850.

“Tetapi Long masih yakin akan pentingnya anestesi dan memberikan eter kepada istrinya selama kelahiran anak keduanya pada 1845 dan persalinan berikutnya, sehingga tidak diragukan lagi menjadi pelopor analgesia persalinan,” kata ahli anestesi Almiro dos Reis Júnior dalam penelitiannya.

Di kemudian hari, Long mencoba untuk mendapatkan pengakuan karena memelopori anestesi bedah, klaim kontroversial yang tidak diakui oleh para sejarawan sampai saat ini. Tapi dia tidak mencari pengakuan untuk anestesi obstetri.

"Padahal penggunaan eter dengan istrinya lebih dahulu satu tahun dari dokter Skotlandia, James Y. Simpson, yang diketahui akan penggunaan anestesi obstetri pertama,” kata sejarawan Roger K. Thomas.

Ilustrasi (Foto: Wikimedia Commons)

Alih-alih Long, dokter kandungan asal Skotlandia James Young Simpson yang tercatat sebagai orang pertama yang memperkenalkan penggunaan anestesi eter dan kloroform untuk persalinan.

James Young Simpson pertama kali menggunakan anestesi untuk persalinan pada 1847. Waktu tersebut merupakan sekitar dua tahun setelah Long menggunakannya eter untuk persalinan pertama kalinya dan setahun setelah demonstrasi publik anestesi eter pertama yang dilakukan dokter gigi William Morton di Rumah Sakit Umum Massachusetts.

Sejarah anestesi

Anestesi awal dapat ditelusuri kembali ke zaman kuno, tetapi salah satu catatan Eropa pertama adalah pada 1200-an, ketika Theodoric of Lucca, seorang dokter dan uskup Italia, "menggunakan spons yang direndam dengan opium dan mandragora untuk menghilangkan rasa sakit saat operasi," menurut Sejarah Masyarakat Anestesi Inggris (www.histansoc.org.uk/). Hashish dan rami India juga biasa digunakan sebagai obat penghilang rasa sakit.

Sampai pertengahan 1800-an, bagaimanapun, ahli bedah tidak ingin membuat pasien candu akan penghilang rasa sakit. Akhirnya mereka hanya menggunakan alkohol atau peluru untuk digigit saat mengatasi rasa sakit yang menyiksa saat operasi.

Surat harian Inggris menggambarkan pengobatan selama Perang Saudara AS sebagai cobaan yang mengerikan. “Berbagai gergaji, pisau, dan kait tajam digunakan untuk melakukan operasi yang sangat dibutuhkan bagi para pejuang yang terluka,” tulis surat kabar itu pada 2011.

Ruang operasi (Foto: Wikimedia Commons)

“Tetapi alih-alih dibius dengan nyaman, para prajurit harus menggertakkan gigi mereka hingga berlubang. merasakan rasa sakit karena anggota badan mereka diamputasi."

Menurut catatan dari University of Medicine and Health Sciences, anestesi modern pertama kali digunakan oleh dokter gigi William Morton dan ahli bedah John Warren pada 16 Oktober 1846. Pemberian anestesi dilakukan di Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston

Morton menggunakan eter sulfat untuk membius seorang pria yang membutuhkan pembedahan untuk mengangkat tumor vaskular dari lehernya. Ahli bedah John Warren melakukan prosedur itu pada pasien bernama Glenn Abbott.

Beberapa catatan sejarah menyatakan Morton berharap untuk menghasilkan banyak uang dari "penemuannya." Tetapi dia mengalami banyak hambatan sebelum dan sesudahnya. Pada 1845 atau satu tahun sebelum operasi pertama yang berhasil menggunakan anestesi, Morton dan rekannya sesama dokter gigi, Horace Wells, bereksperimen dengan nitrous oxide (gas tertawa).

Selama melakukan demonstrasi di Harvard Medical School pada 1845, kedua dokter gigi itu gagal menghilangkan rasa sakit dari subjek yang giginya dicabut. Hal tersebut menyebabkan penghinaan besar bagi kedua dokter itu.

*Baca Informasi lain soal SEJARAH HARI INI atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya

Terkait