Bagikan:

JAKARTA - Buat Anda yang pernah membaca atau menonton trilogi Fifty Shades of Grey, pasti cukup familiar dengan nama BDSM. Istilahnya merujuk pada kegiatan seksual yang melibatkan kekerasan untuk mencapai kepuasan. 

Ketika pasangan menerapkan BDSM dalam hubungan seksual, biasanya disertai dengan tindakan tak biasa, seperti memborgol tangan,  menutup mata dan mulut, mencambuk, menggunakan sex toys, dan sebagainya. Meski menggunakan kekerasan, sebenarnya BDSM sendiri berbeda dengan kekerasan seksual. Mari kenali perbedaannya! 

Pertama-tama, kenali dulu apa arti BDSM. Jadi, BDSM adalah bondage and discipline (perbudakan dan disiplin), dominance and submission (dominansi dan penyerahan diri), atau sadism and masochism (sadisme dan masokisme). Kesannya memang tak lazim. Namun, salah satu yang membedakan dengan kekerasan seksual adalah persetujuan kedua belah pihak. Keduanya akan memberikan persetujuan yang jelas dan tegas dalam keadaan sadar sebelum melakukannya. 

Kalau pada kekerasan seksual, hanya satu pihak yang menginginkan hal tersebut tanpa mengindahkan pihak kedua. Jadi, meski pasangannya tidak mau, dia bisa memaksakan kehendak. Pun tidak ada peran submisif dan dominan, yang ada malah pelaku kekerasan dan korban. 

Konsep BDSM itu bisa dibilang cukup rumit sebab aturan mainnya dibuat jelas. Jika Anda menonton Fifty Shades of Grey, pasti pernah melihat adegan di mana mereka melakukan perjanjian soal BDSM ini sangat formal, hitam di atas putih. 

Memang sadis dan kejam, tetapi di sini sang submisif pun sejak awal memang sudah tahu konsekuensinya dan dengan sadar memberi persetujuan. Selain itu, submisif dan dominan punya hak yang sama untuk bernegosiasi terhadap aturan yang ada. Kalau ada yang dirasa tidak nyaman, tak suka, atau tak ingin melakukan,  keduanya sama-sama berhak menolak dan mengutarakan pendapat. 

Dalam kekerasan seksual, yang ada hanya kekejaman yang dilakukan tanpa aturan, komunikasi, serta negosiasi.  Perlu diketahui kalau BDSM ini tujuannya untuk memberikan kesenangan dan kepuasan pada kedua belah pihak. 

Mungkin banyak orang berpikir bahwa BDSM ini sangat aneh, sebab si submisif pun posisinya sangat mirip dengan korban kekerasan seksual. Si submisif ini akan menerima perbuatan sadis, merasakan sakit, bahkan jelas-jelas perlakukan rendah oleh sang dominan. Namun balik lagi ke aturan, semuanya sebenarnya terkendali dengan baik. 

Praktik BDSM ini memang bukan untuk semua orang karena sulit dimengerti. Tapi kalau Anda berpikir, siapa yang ingin diperlakukan sadis saat bercinta, kenyataannya memang ada. Pasangan yang melakukan ini pun sama-sama menjalin ikatan dan rasa percaya satu sama lain.

Namanya melibatkan kekerasan, pasti ada ketakutan bila si submisif terlalu agresif sampai melakukan hal-hal di luar kendali. Nah, pada BDSM sendiri ada yang namanya safe word atau kata aman, sebuah kode yang bisa digunakan oleh submisif untuk mengendalikan situasi bila tiba-tiba si dominan melewati batas. 

Ketika safe word dikeluarkan, maka otomatis sang dominan harus menghentikan kegiatan apapun itu. Di sinilah menunjukkan bahwa dominan menghargai dan memedulikan keselamatan pasangannya. 

Dalam kekerasan seksual, pelaku cenderung tidak peduli walau korbannya dalam keadaan bahaya. Pihak korban pun tidak ada daya untuk menghentikan perbuatan pelaku.