Bagikan:

JAKARTA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendukung kebangkitan ekosistem seni komedi Indonesia yang coba diwujudkan dalam Grand Final Lomba Lawak Group Piala Bing Slamet 2025 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 21 Desember. Kompetisi ini dinilai menjadi momentum strategis untuk menghidupkan kembali tradisi grup lawak yang sempat lama berjaya di panggung hiburan nasional.

Lomba yang digelar Kementerian Kebudayaan bersama Yayasan Karya Gemilang Komedi Indonesia (YKGI) ini diikuti 58 grup lawak dari berbagai daerah. Seleksi dilakukan ketat, mulai dari audisi video, karantina, mentoring, hingga pementasan langsung di babak final.

“Ini bukan sekadar lomba. Ini ruang regenerasi dan penguatan ekosistem seni komedi yang dulu sangat kuat dan harus kita hidupkan kembali,” kata Fadli Zon dalam keterangan resmi, 22 Desember.

Ia menekankan, seni komedi merupakan bagian penting ekspresi budaya nasional yang memiliki posisi strategis dalam pemajuan kebudayaan.

Menbud Fadli juga menyinggung sosok Bing Slamet sebagai figur sentral seni pertunjukan Indonesia. Penetapan 27 September sebagai Hari Komedi Nasional, bertepatan dengan hari lahir Bing Slamet, disebut sebagai pengakuan negara atas kontribusi besar seni komedi bagi budaya populer Indonesia.

Menurut Fadli, lomba ini relevan dengan perkembangan zaman karena memanfaatkan teknologi digital, mulai dari seleksi berbasis YouTube hingga panggung final. “Ekosistem seni harus adaptif. Komedi bisa tumbuh, berkolaborasi, dan tetap relevan,” ujarnya.

Dari 16 grup semifinalis, enam grup melaju ke final. Grup Mlumah asal Malang keluar sebagai Juara I, disusul Grup Bertingkah (Bekasi) dan Grup Tembok (Jakarta). Penilaian juri menitikberatkan pada orisinalitas materi, kekompakan tim, improvisasi, dan kualitas lawakan.

Grand Final Piala Bing Slamet 2025 diharapkan menjadi titik balik lahirnya kembali grup-grup lawak baru yang berakar pada budaya lokal dan mampu bersaing di industri hiburan nasional.