BOGOR — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah untuk menyediakan ruang ekspresi yang layak dan inklusif bagi musisi jalanan di fasilitas publik. Komitmen tersebut disampaikan saat meninjau aktivasi ruang musik di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Sabtu malam, 20 Desember.
Stasiun Bogor kini dimanfaatkan sebagai ruang tampil bagi musisi jalanan binaan Institut Musisi Jalanan (IMJ), termasuk musisi penyandang disabilitas.
Menurut Fadli, ruang publik seperti stasiun kereta memiliki potensi besar untuk menjadi panggung budaya yang dapat diakses luas oleh masyarakat.
Ia menilai kehadiran musik di ruang publik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan bagi para pengguna jasa transportasi, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan ekonomi serta peningkatan martabat musisi jalanan yang telah melalui proses pembinaan dan kurasi.
Dalam kunjungannya ke Bogor, Fadli menyoroti pemilihan Stasiun Bogor sebagai lokasi strategis. Selain merupakan bangunan cagar budaya, stasiun ini memiliki arus penumpang yang tinggi, mencapai sekitar 100 ribu orang per hari.
“Di sela kunjungan kerja saya, setelah meresmikan pusat pencak silat di Cisarua, saya menyempatkan ke Stasiun Bogor. Kita harapkan ada fasilitas bagi musisi untuk berekspresi yang sekaligus menghibur penumpang. Apalagi di sini ada teman-teman musisi difabel netra yang kemampuannya luar biasa,” ujar Fadli.
Fadli menjelaskan para musisi yang tampil di ruang publik tersebut tidak hadir secara acak. Melalui kerja sama dengan IMJ, mereka mengikuti pelatihan, lokakarya, hingga proses kurasi untuk memastikan kualitas penampilan tetap terjaga.
Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan juga telah menyalurkan bantuan berupa alat musik dan sistem pengeras suara untuk mendukung kegiatan serupa di 11 hingga 12 kota di berbagai daerah.
“Jadi orang yang bermusik itu tidak sekadar ‘jreng-jreng’, tapi dikurasi dengan baik. Tadi kita lihat Mas Kikin, seorang difabel netra yang hafal 150 lagu dan mampu bernyanyi hingga empat jam. Ini bukti keseriusan bakat mereka yang harus kita beri ruang,” katanya.
BACA JUGA:
Ke depan, Kementerian Kebudayaan berencana memperluas pemanfaatan ruang publik bagi musisi jalanan, tidak hanya di stasiun kereta api yang dikelola PT KAI, tetapi juga di bandara dan pelabuhan.
Untuk meningkatkan profesionalisme, pemerintah juga berencana memberikan dukungan berupa seragam bagi musisi yang telah terkurasi.
“Nanti kita bantu desain seragamnya supaya lebih rapi dan mudah dikenali, sehingga kolaborasinya bisa berjalan lebih baik,” ujar Fadli.