Bagikan:

SEMARANG — Gelaran LOKOVASIA 2025 telah resmi dibuka di Kampung Budaya Universitas Negeri Semarang (UNNES), Semarang, Jumat, 24 Oktober. Forum nasional ini menyatukan para seniman, komponis, peneliti, dan musisi dari seluruh Indonesia untuk mengeksplorasi musik tradisi dalam semangat inovasi budaya.

Fadli Zon hadir membuka kegiatan ini sebagai bentuk dukungan dari Kementerian Kebudayaan.

“LOKOVASIA adalah ruang pertemuan ide, tempat konservasi bertemu kreasi. Tradisi kita tidak hanya dilestarikan, tapi ditafsirkan ulang agar tetap hidup di masa kini,” ujar Menbud Fadli dalam orasi kebudayaan.

Selama tiga hari, para peserta menjalani sesi bedah karya, diskusi, dan lokakarya kolaboratif. Enam grup musik terbaik, dua komponis, dua peneliti, dan tiga musisi dipilih dari ribuan pendaftar dari Aceh hingga Papua. Hasilnya akan ditampilkan dalam Showcase Musik Tradisi Nusantara di empat ruang publik: Kota Lama, Tugu Muda, Simpang Lima, dan UNNES, pada 28 Oktober 2025.

UNNES sebagai tuan rumah menyebut LOKOVASIA sejalan dengan visi konservasi dan peran kampus sebagai pusat inovasi budaya. “Kami ingin melahirkan model pelestarian musik tradisi berbasis riset dan teknologi digital,” kata Sekretaris Universitas, Sugiyanto.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan relevansi LOKOVASIA dengan karakter musikal kota ini, terutama keroncong. “Semarang butuh keroncong baru—terbuka, lentur, dan berbicara pada zaman sekarang.”

Ketua Pelaksana Satiyawan Jayantoro menjelaskan, LOKOVASIA lahir dari kritik terhadap perkembangan musik tradisi yang kerap lepas dari akar. Forum ini menjadi ruang kolaborasi lintas generasi dan daerah untuk menciptakan bentuk ekspresi baru yang tetap berpijak pada nilai lokal.

Fadli Zon menutup dengan seruan: “Kita bangsa dengan modal budaya luar biasa. Mari rawat, kembangkan, dan wariskan. Jadikan LOKOVASIA sebagai inspirasi untuk membangun ekosistem musik tradisi yang hidup dan berkelanjutan.”