Bagikan:

BOGOR – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon secara resmi membuka Pameran Riksa Wisesa di Museum Pajajaran, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Kamis, 5 Februari. Pameran ini menjadi langkah awal penguatan fungsi museum sebagai pusat informasi sejarah dan kebudayaan Sunda, khususnya jejak Kerajaan Pajajaran.

Pameran Riksa Wisesa menampilkan jejak kuasa, pusaka, serta ajaran budaya Sunda melalui sekitar 60 koleksi bersejarah. Benda-benda yang dipamerkan berasal dari berbagai komunitas budaya, koleksi pribadi, hingga pinjaman dari Sumedang Larang serta para pegiat budaya di Bogor.

Dalam sambutannya, Fadli Zon mengatakan pameran ini diharapkan menjadi ruang edukasi sekaligus motivasi bagi masyarakat untuk semakin mengenal akar sejarah dan peradaban bangsa.

“Kita jadikan ini sebagai daya motivasi untuk terus mengenal sejarah budaya kita dan peradaban kita yang sangat kaya. Ini baru awal, tahap pertama. Ke depan ruang pamer ini akan kita kembangkan lebih utuh lagi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pameran tahap awal berfokus pada kujang dan keris Pasundan. Namun, ke depan koleksi akan diperluas dengan berbagai ekspresi budaya lain seperti wayang, gamelan, serta warisan budaya tak benda yang telah diakui sebagai cultural heritage.

“Kita mulai dari kujang dan keris. Nanti kita kembangkan dengan wayang, gamelan, dan ekspresi budaya lain. Dengan begitu kita punya satu ruang pamer yang lengkap dan terintegrasi,” katanya.

Fadli juga menyinggung revitalisasi kawasan museum yang telah dilakukan dalam beberapa bulan terakhir, termasuk perbaikan cungkup agar koleksi lebih terlindungi. Ia mengaku telah beberapa kali meninjau langsung proses pembenahan tersebut.

“Dalam dua bulan kita perbaiki. Waktu itu saya sampaikan kepada Pak Wali Kota, mari kita aktivasi tempat ini menjadi Museum Pajajaran. Alhamdulillah sekarang sudah bisa kita laksanakan pamerannya,” ucapnya.

Menurutnya, Museum Pajajaran akan diarahkan menjadi kantong budaya sekaligus pusat aktivitas seni. Tahun ini, ruang kosong di area museum direncanakan dibangun amfiteater sebagai ruang pertunjukan terbuka. Kementerian Kebudayaan juga akan membantu penataan interior dan pengisian artefak secara bertahap.

“Pelan-pelan artefaknya kita isi. Kita akan mengundang seniman dan budayawan untuk ikut menyumbang koleksi dengan kurasi yang baik, baik itu tosan aji, pusaka, kujang, maupun artefak lainnya,” jelas Fadli.

Ia menambahkan, kerja sama juga akan dilakukan dengan sejumlah pihak, termasuk kemungkinan peminjaman koleksi jangka panjang dari Museum Nasional serta keraton-keraton di Jawa Barat seperti Cirebon.

Fadli menilai tanah Sunda memiliki sejarah panjang yang belum sepenuhnya terdokumentasi secara terintegrasi. Karena itu, kehadiran Museum Pajajaran menjadi penting sebagai pusat afirmasi sejarah Kerajaan Pakwan Pajajaran yang berjaya dari abad ke-10 hingga abad ke-17.

“Kita ingin museum ini menjadi pusat budaya dan pusat informasi tentang kerajaan besar di tanah Sunda. Siapa pun yang datang ke Bogor, baik dari luar kota maupun luar negeri, kalau ingin tahu sejarah Pajajaran harus datang ke sini,” tegasnya.

Melalui Pameran Riksa Wisesa, masyarakat diajak mengenal lebih dekat kekayaan budaya Sunda, termasuk kujang dan keris Pasundan yang memiliki nilai historis tinggi serta jejak akulturasi hingga ke berbagai wilayah Nusantara.

“Pusaka-pusaka ini bukan sekadar benda, tapi bagian dari identitas dan perjalanan peradaban kita. Mudah-mudahan pameran ini menjadi awal kebangkitan kesadaran budaya masyarakat,” pungkas Fadli.