Temuan Studi, Jarang Liburan Buruk untuk Kesehatan Jantung
Ilustrasi situasi kerja di kantor (Unsplash/Alex Kotliarskyi)

Bagikan:

JAKARTA – Liburan atau memiliki jeda dari aktivitas pekerjaan terasa menyenangkan. Di masa pandemi seperti saat ini, mungkin perlu mempertimbangkan ketika bepergian terutama ke tempat wisata yang ramai.

Berdasarkan studi, jarang mengambil waktu libur atau kerja terus-menerus tanpa istirahat akan memperburuk kesehatan jantung.

Studi tersebut dilakukan oleh Framingham Heart Study, menemukan bahwa wanita yang lebih sedikit mengambil libur memiliki risiko delapan kali lebih tinggi mengalami serangan jantung dibanding wanita yang sering liburan.

Liburan sendiri dalam sejumlah studi juga memiliki manfaat untuk kesehatan. Alih-alih bepergian ke tempat ramai dan berisiko persebaran virus Covid-19, Anda bisa menghabiskan waktu libur di rumah atau di tempat terbuka yang cenderung lebih aman.

Bagaimana bisa liburan dan kesehatan jantung berhubungan? Tekanan pikiran yang menyebabkan stres ketika bekerja terus-menerus meningkatkan risiko penyakit jantung. Apalagi kebiasaan yang tidak sehat karena mengejar target ataupun lupa makan, jam tidur kurang, dan absen olahraga juga buruk efeknya.

Melansir Inc., Kamis, 20 Mei, terdapat 4 alasan ilmiah bahwa mengambil waktu libur bisa bermanfaat untuk kesehatan. Pertama, libur dapat mengurangi stres berdasarkan studi oleh American Psychological Association.

 

Mengambil jeda dari pekerjaan, menurut laporan penelitian terhadap 900 pengacara di Kanada, bisa mengurangi stress kerja. Penelitian di Universitas Wina juga menemukan bahwa setelah mengambil cuti dari pekerjaan keluhan sakit kepala, sakit punggung, dan gangguan pada jantung menurun.

Kedua, penelitian yang menyoroti partisipan dengan kardiovaskular, mereka mengambil cuti selama lima tahun sekali berkemungkinan 30 persen lebih tinggi mengalami serangan jantung dibanding mereka yang menganbil cuti seminggu sekali setiap tahunnya.

Ketiga, peningkatan produktivitas justru dialami setelah menikmati waktu libur. Penelusuran dilakukan oleh perusahaan jasa profesional Ernst & Young terhadap kartawannya. Temuannya, setiap memberikan 10 jam tambahan waktu liburan terjadi peningkatan kinerja sebanyak 8 persen pada akhir tahun.

Masih dalam konteks yang sama, tentang tingkat produktivitas, Boston Consulting Group menemeukan bahwa para profesional tingkat tinggi yang diminta mengambil cuti lebih produktif, bahagia saat bekerja, dan lebih unggul dalam bidangnya.

Alasan terakhir mengapa mengambil jeda libur sebab mampu membuat tidur lebih nyenyak. Malam-malam penuh kegelisahan membuat tidur tertunda. Ini berpotensi bikin kurang fokus, gangguan memori, peningkatan potensi kecelakaan kerja, dan penurunan kualitas hidup.

Mendekati akhir pekan, apa rencana Anda untuk menikmati waktu jeda dari pekerjaan?