Bagikan:

JAKARTA - Shoji Morimoto, seorang pria asal Jepang, telah berhasil membuktikan tidak melakukan apa-apa bisa menjadi jalan menuju kesuksesan finansial.

Pria berusia 41 tahun ini memulai perjalanan kariernya dengan cara yang tidak biasa setelah dipecat dari pekerjaannya di sebuah perusahaan pada tahun 2018.

Saat itu, atasannya mengkritiknya karena dianggap tidak memiliki inisiatif dan tidak memberikan kontribusi berarti bagi perusahaan. Namun, justru kritik tersebut membuka pintu bagi Morimoto untuk menemukan jalan yang tak terduga menuju kesuksesan dan kaya raya

Kini, Morimoto dikenal sebagai 'pria sewaan yang tidak melakukan apa-apa' di Jepang. Pekerjaan utamanya adalah menawarkan jasanya kepada orang-orang yang membutuhkan teman atau pendamping untuk melakukan berbagai aktivitas, tanpa perlu melakukan hal yang rumit atau berlebihan.

Tugasnya sangat bervariasi, mulai dari menemani seseorang menunggu di garis finish ajang maraton, menjadi teman berbicara saat klien sedang bosan, hingga menemani orang yang ingin pergi ke konser namun tidak ingin pergi sendirian.

Dilansir VOI dari laman CNBC pada Selasa, 14 Januari 2025, semua itu dilakukan tanpa perlu berbicara banyak atau terlibat dalam aktivitas apapun selain yang diminta klien, kecuali untuk hal-hal yang berhubungan dengan seks.

"Saya pernah berada dalam situasi yang objektifnya sulit, seperti berdiri di antrian di bawah terik matahari, berdiri berjam-jam di tengah dinginnya udara, menghadiri pesta hanya dengan orang asing, hingga berdiri sendirian di atas panggung di depan audiens besar tanpa melakukan apa-apa," ujar Morimoto, seorang ayah dari anak berusia tujuh tahun, kepada CNBC Make It.

"Namun, tidak peduli apa pun kesulitan yang saya alami, saya merasa bahwa itu adalah sesuatu yang istimewa yang hanya terjadi karena saya melakukan pekerjaan ini, jadi saya masih bisa menghargainya," tambahnya.

Tugas terlama Morimoto adalah perjalanan 17 jam duduk di jalur kereta yang sama, dari pagi hingga kereta terakhir.

"Kami melintasi 13 putaran di Jalur Yamanote," kata Morimoto.

Ada juga beberapa permintaan agar Morimoto menjadi pendengar di hari-hari buruk kliennya. Tetapi dalam percakapannya, Morimoto memberikan jawaban yang minimalis dan sederhana. Dengan kata lain, dia hanya mengangguk dan mendengarkan dengan seksama, namun tidak bermain sebagai seorang terapis.

Morimoto mengatakan kepada CNBC, dia menerima sekitar 1.000 permintaan per tahun, dan membiarkan kliennya memutuskan berapa banyak yang akan dibayar.

Dahulu, ia mengenakan tarif tetap antara 10.000 yen hingga 30.000 yen (Rp1-3 juta rupiah) untuk sesi 2-3 jam. Hingga akhirnya, ia berhasil menghasilkan sekitar USD 80.000 atau Rp1,3 miliar rupiah pada tahun lalu. Morimoto memperkenalkan model bayar sesuai keinginan pada akhir tahun lalu.

"Saya mengenakan biaya sukarela, jadi saya tidak tahu apakah ini akan berkelanjutan, tetapi saya senang mencoba melihat apakah ini bisa bertahan," kata Morimoto.

Ia menambahkan tujuannya bukan untuk mencari nafkah, melainkan menjalani hidup dan menikmatinya.

Ini sangat cocok dengan kebutuhan orang Jepang saat ini, yang tidak mencari cinta atau pernikahan, dan tidak ingin repot dengan hubungan semacam itu. Tetapi ingin seseorang yang bisa diajak berkencan atau makan bersama secara santai.

Meskipun tidak ada statistik resmi yang melacak industri penyewaan orang di Jepang, negara ini memiliki banyak layanan penyewaan untuk pacar sementara, teman, bahkan keluarga.

“Ini sangat cocok dengan kebutuhan orang Jepang saat ini, yang tidak mencari cinta atau pernikahan, dan tidak ingin repot dengan hubungan semacam itu, tetapi ingin seseorang yang bisa diajak berkencan atau makan bersama secara santai,” kata Ai Sakata, konsultan di Nomura Research Institute.

"Kesepian mungkin menjadi alasan mengapa sebagian orang membayar untuk layanan semacam ini, tetapi itu bukan satu-satunya alasan." kata Morimoto dan para ahli yang diwawancarai oleh CNBC.