Bagikan:

JAKARTA – Secara etis, mengumpat memang tidak sopan. Berbagai penelitian ilmiah, khususnya dalam bidang keilmuan psikologi juga ada yang kontra dengan aktivitas mengumpat. Apalagi aktivitas buruk ini pada beberapa penelitian ditemukan dapat mengurangi sensasi rasa sakit.

Richard Stephens, seorang psikolog dan penulis buku Black Sheep: The Hidden Benefits of Being Bad menggali dengan dasar pertanyaan ‘mengapa mengumpat dianggap sebagai respons maladaptif, padahal mengumpat adalah respons terhadap rasa sakit secara umum’.

Penelitian Stepens melibatkan 67 mahasiswanya di Universitas Keele, Stanfordshire, Inggris. Stephen meminta mahasiswa partisipan memasukkan tangan ke air dingin dan menguji berdasarkan ketahanan waktu serta mencatat kata-kata umpatan yang relevan dengan tabel yang telah ia buat sebelumnya.

Uji coba yang dilakukan Stephens memperbolehkan mahasiswa partisipan untuk mengucapkan satu kata umpatan, satu kata netral, dan urutan mencelupkan tangan secara acak. Artinya, mereka tidak menyiapkan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata maladaptif.

Tabel kata sumpah serapah dibuat berdasarkan uji coba lain. Stephens meminta partisipan untuk mendaftar lima kata saat palu menyentuh ibu jari mereka. Tabel kedua adalah padanan kata dari tabel pertama.

Hasilnya, 50 persen partisipan yang mengumpat tangannya tahan berada di air dingin lebih lama. Tak hanya itu, saat mereka mengumpat detak jantung meningkat tetapi persepsi tentang rasa sakit menurun.

Dilansir oleh Wired, Stephens menjelaskan tentang sensasi rasa sakit dari latar belakang ilmu yang ia dalami, psikologi.

“Dulu nyeri dianggap sebagai fenomena biologis murni, tetapi sebenarnya nyeri sangat bersifat psikologis. Tingkat cedera yang sama akan lebih atau kurang menyakitkan dalam keadaan yang berbeda,” kata Stephens.

Cara kita merespons luka fisik dipengaruhi oleh kondisi, kepribadian, suasana hati, dan bahkan rasa sakit sebelumnya juga akan memengaruhi. Penelitian ini tidak ingin menyimpulkan tentang perubahan emosional pada partisipan saat mengumpat, kata Stephens.

Seperti para psikolog lainnya, Stephens menelusuri perubahan detak jantung dan respon alamiah akan melawan atau menyerah. Peningkatan detak jantung juga menandai tingkat egresif seseorang. Artinya, apakah meningkatnya agresi dapat membuat seseorang lebih bisa bertahan?

Penelitian lain menjawab tentang pertanyaan tersebut. Kristin Neil dan rekannya di University of Georgia melihat apakah ada hubungannya antara tingkat agresif dengan seberapa besar rasa sakit yang dapat ditahan.

Meski penelitian Neil kurang akurat, beberapa temuan dari games yang ia buat menemukan bahwa kedua hal di atas memiliki korelasi.

Detak jantung meningkat yang menandai tingkat agresif dan berdampak pada penurunan sensasi rasa sakit disebut dengan hypoalgesic effect. Beberapa variabel yang memengaruhi efek positif dari mengumpat, menurut Stephens salah satunya adalah instensitas.

Semakin sering mengumpat, efeknya semakin rendah.