Bagikan:

YOGYAKARTA – Tubuh protektif terhadap rasa nyeri. Karena menghindari rasa sakit kita cenderung menerima peringatan yang memicu refleks atas potensi bahaya. Mekanismenya seperti rasa lapar dan haus, sebelum merasakannya kita membuat rencana tindakan untuk menghindari rasa tersebut.

Rasa nyeri atau rasa sakit yang bersifat patologis dikaitkan oleh komponen emosi, kognitif, dan sosial. Menurut Shahram Hesmat, Ph.D., profesor emeritus di Universitas Illinois Springfield dilansir Psychology Today, Minggu, 16 Oktober, berikut faktor psikologis pemicu yang berkaitan dengan sensitivitas terhadap rasa nyeri.

1. Takut sakit

Ketakutan dan kecemasan tentang rasa sakit dapat menjelaskan seberapa banyak rasa sakit yang kita rasakan. Reaksi emosional terhadap rasa sakit, meliputi kecemasan, ketakutan, dan frustasi, seringkali memicu respons ‘bagaimana jika’ akan membuat rasa nyeri semakin buruk. Ini hanya akan mereda ketika kita merasa aman.

2. Perhatian terhadap rasa sakit

Menurut Hesmat, semakin memperhatikan sensasi nyeri dapat meningkatkan intensitas nyeri. Prosesnya dimulai ketika rasa sakit mengganggu perhatian dan memaksa mereka untuk fokus pada tubuhnya. Sehingga rasa sakit dianggap sebagai ancaman, tubuh lebih waspada, dan mendesak untuk mengatasi rasa sakit tersebut.

sensitivitas terhadap rasa nyeri
Ilustrasi sensitivitas terhadap rasa nyeri (Freepik/Stefamerpik)

3. Interpretasi

Stimulus nyeri diproses secara kognitif untuk menginterpretasikan apa artinya. Proses kognitif ini menjelaskan mengapa kadang-kadang terasa nyeri ringan atau cedera serius.

4. Penghindaran atas rasa sakit

Penghindaran atas rasa sakit berasal dari takut akan rasa sakit. Penghindaran ini awalnya dapat bermanfaat karena membantu proses penyembuhan. Tetapi bisa berubah memperburuk rasa sakit.

5. Harapan

Pengalaman subjektif rasa sakit sebagian besar dibentuk oleh harapan kita. Kadang-kadang, ini menghasilkan ramalan yang sesuai harapan tetapi bisa juga sebaliknya. Ini disebut efek plasebo untuk terapi nyeri tanpa efek samping.

6. Efek cinta

Emosi cinta dapat mengurangi persepsi nyeri. Cinta, membuat seseorang merasa lebih aman dan meringankan rasa sakit. Misalnya orang-orang menghabiskan sebagian besar hari mereka dengan memikirkan pasangan romantisnya untuk mengurangi rasa sakit.

7. Musik dan persepsi rasa sakit

Musik mengaktifkan daerah penghargaan di otak dan meredakan nyeri. Musik mengekspresikan kegembiraan yang memicu ingatan positif dan dapat memengaruhi suasana hati. Musik juga memengaruhi kemampuan otak dalam menangani rasa sakit. Jadi, mendengarkan musik dapat menyenangkan, waktu berjalan lebih cepat, dan mengalihkan perhatian dari rasa sakit.