Bagikan:

YOGYAKARTA – Kemarahan merupakan kondisi emosional yang kerap dihindari atau dikelola sehingga enggak mengancam dan menakutkan orang lain. Bahkan kemarahan adalah emosi ‘terlarang’ yang mungkin sudah dirasakan sejak masa kanak-kanak.

Sebagai seorang psikolog yang bertemu dengan klien untuk terapi, Gabriel Young, Ph.D. mengatakan banyak orang menyerah dan menarik diri dalam menghadapi tantangan emosional dalam hidup. Mereka tidak suka marah karena bisa mengejutkan orang sekitarnya. Ketundukan ini juga kerap dilakukan untuk menjaga fungsi dan kesuksesan profesional mereka. Tetapi, kesuksesan profesional dan memproses emosi sepenuhnya terpisah dari otak.

Di samping itu, ada pula orang memilih menyimpan amarahnya untuk menghindari konflik. Nah, untuk menjaga kedamaian, mereka mengabaikan perilaku toksik orang disekitarnya atau bahkan menanggapi perlakuan toksik dengan sikap viktimisasi atau sebagai ‘korban’. Pada konteks tersebut, kesedihan dan kemarahan menjadi sifat maladaptif. Tetapi di sisi lain, membiarkan diri merasakan dan mengekspresikan emosi sebenarnya adalah tanda kekuatan dan pertumbuhan pribadi. Lantas, bagaimana cara sehat melampiaskan kemarahan?

cara sehat melampiaskan kemarahan
Ilustrasi cara sehat melampiaskan kemarahan (Freepik/Rawpixel.com)

Seseorang secara alami akan melakukan tindakan berani ketika terancam. Ia mungkin akan berlari kencang untuk menghindari ancaman. Ada pula yang melawan ketika terpojok. Terlepas dari bagaimana seseorang merespons ancaman, semuanya berpotensi membantu dari bahaya. Tetapi, perlu dihindari sikap maladaptif dan ketidakberdayaan yang tidak menguntungkan.

Pesan Young, kemarahan dan agresi tidaklah sama. Agresi terhadap orang lain termasuk tindakan kekerasan, degradasi emosional, dan penyalahgunaan peran. Agresi mungkin sering terpantik dari kemarahan. Nah, kalau kemarahan tetap ada maka diperlukan pemahaman mendasar tentang melampiaskannya tanpa agresi yang merugikan orang lain dan diri sendiri.

Kemarahan dapat dimanifestasikan dengan cara yang sehat, bahkan katarsis, dilansir Psychology Today, Rabu, 8 Februari. Meski tak dapat diterima kalau Anda membentak orang, tetapi mungkin sangat bermanfaat mengeluarkan jeritan frustasi sesekali ketika itu aman dan pantas dilakukan.

cara sehat melampiaskan kemarahan
Ilustrasi cara sehat melampiaskan kemarahan (Freepik/Wayhomestudio)

Penelitian juga menunjukkan bahwa meneriakkan kata-kata makian secara khusus dapat membantu mengurangi rasa sakit fisik. Meskipun ada juga bukti bahwa memukul karung tinju hanya dapat meningkatkan kemarahan daripada melepaskannya. Artinya, selama kemarahan itu juga tidak membahayakan diri sendiri atau orang lain, tak ada masalah dengan melampiaskannya.

Pesan penutup Young, emosi yang mendasari kemarahan biasanya perlu diakses dan diproses. Dengan begitu, seseorang tidak menyangkal kemarahan, tetapi menyadari pemicu, memproses diri, dan melampiaskan secara sehat.