Anak Suka Bermain? Ketahui 5 Manfaatnya untuk Perkembangan Emosional dan Sosial
Ilustrasi manfaat bermain untuk anak usia dini (Unsplash/Shirohata Yuri)

Bagikan:

JAKARTA – Pada anak usia dini, bermain adalah belajar. Meskipun banyak orang tua yang tak menyadari tentang manfaat bermain, tetapi ternyata bisa membantu buah hati mengembangkan kemampuan emosional dan sosialnya.

Belajar kerap sekali dikaitkan dengan keterampilan akademis, seperti menghitung, menghafal huruf, menulis, dan lain sebagainya. Padahal, bermain bisa lebih dari itu lho.  Bermain bagi anak-anak tidak hanya aktivitas yang menyenangkan, namun berdasarkan penelitian anak-anak belajar dengan cara bermain akan lebih efektif.

Dilansir laman Parenting For Brain, Kamis, 23 Desember, terdapat 8 manfaat bermain untuk anak-anak usia dini. Apa saja? Berikut daftar manfaatnya.

1. Merangsang perkembangan otak

Bermain bisa membantu merangasang perkembangan otak. Pada bayi, otak terkoneksi dengan sinapsis. Semakin banyak produksi sinapsis, kemungkinan besar daya tangkap informasi semakin baik. Permainan yang melibatkan aspek sensorik dibutuhkan untuk meraih manfaat tersebut.

Seperti rekomendasi seorang ahli saraf, bahwa bermain dapat mengubah kimia dan fisiologi otak. Area otak terkait dengan pemrosesan kognitif lebih tinggi ketika buah hati bermain di lingkungan rumah.

2. Meningkatkan kecerdasan

Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Arkansas, menunjukkan bahwa memberikan mainan pada bayi berkaitan dengan meningkatnya kecerdasan. Selain itu, psikolog Edward Fisher yang telah menganalisis 46 studi tentang bermain pada anak, ia menemukan bahwa bermain dapat meningkatkan kognitif, linguistik, dan perkembangan sosial anak.

manfaat bermain pada anak usia dini
Ilustrasi studi tentang bermain pada anak usia pra sekolah (Unsplash/George Bakos)

 

3. Menajamkan cara berpikir kreatif

Kreativitas berkaitan erat dengan pemikiran divergen atau menyebar, yang mengeksplorasi banyak kemungkinan solusi. Biasanya semakin kaya pemikiran semakin banyak ide-ide kreatif lahir. Peneliti menguji hubungan antara kekayaan berpikir dan kreativitas dengan menguji 52 anak secara acak. Anak usia 6-7 tahun dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, anak-anak diminta menyalin teks dari papan tulis. Kelompok lainnya diminta bermain adonan garam.

Kedua kelompok tersebut, pada tugas kedua, sama-sama diminta melakukan proyek kreatif. Hasilnya menemukan bahwa anak-anak yang diminta bermain adonan garam memiliki kualitas kreativitas lebih tinggi.

Ahli kemudian merekomendasikan, bermain bebas adalah permainan tidak terstruktur yang mendorong anak untuk bereksplorasi dan merancang permainannya sendiri.

4. Memperkaya kosakata dan bahasa

Kosakata yang tersusun secara terstruktur merupakan media komunikasi. Proses untuk meningkatkan kemampuan komunikasi bisa dengan bermain. Ini dibuktikan pada sebuah studi yang berusaha memahami apakah komunikasi berkaitan dengan bermain. Peneliti mengamati apa yang terjadi ketika seorang bayi mulai bermain dengan mainan.

Studi tersebut menemukan bahwa jika ibu merespons dengan memanipulasi atau menamai mainan, bayi yang berusia 3 bulan akan memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik.

Studi lain dilakukan oleh University of Georgia, mengamati 65 anak TK di ruang kelas selama 4 minggu. Mainan peran atau bermain pura-pura, ditemukan bisa meningkatkan kinerja dalam membaca, bahasa, dan menulis.

5. Mengembangkan kontrol impuls dan regulasi emosi

Pengaturan diri adalah salah satu keterampilan yang sangat penting sebelum anak-anak siap masuk sekolah. Anak-anak diatur dengan baik sehingga bisa mengendalikan emosi negatif dan bertahan berada dalam kegiatan baru.

Sebuah penelitian yang dilakukan psikolog di Selandia baru, meneliti bagaimana anak-anak menangani peristiwa negatif selama bermain. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang lebih banyak bermain lebih bisa mengatur emosinya untuk terus bermain dalam kelas.

Regulasi emosi pada anak tidak hanya dibutuhkan untuk kesuksesan akademik, tetapi juga memprediksi kesuksesan sosial anak. Di kelas pra sekolah, anak-anak yang menunjukkan kotrol emosi lebih baik lebih disukai dan kompeten secara sosial.

Selain 5 manfaat bermain di atas, dengan memberikan anak waktu bermain selain bermain gawai, juga bisa berkontribusi meningkatkan kompetensi empati, kesehatan mental yang lebih baik, dan memperkuat hubungan dengan teman sebayanya.