Eksklusif, Kepala RSPAD Gatot Soebroto Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS, Bocorkan Kesiapan Vaksin Nusantara Diproduksi Massal
Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

Vaksinasi adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk menanggulangi sebaran COVID-19. Vaksin yang disuntikkan dapat menambah kekebalan atau imunitas. Negara-negara adidaya dalam bidang kesehatan berlomba membuat vaksin. Ilmuwan di Indonesia juga tak mau ketinggalan dengan vaksin Nusantara dan Vaksin Merah Putih yang masih dalam proses pengembangan. Sejauh mana proses pengembangan vaksin Nusantara saat ini? Kepala RSPAD Gatot Soebroto Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS, membagikan cerita soal progres vaksin yang dikembangkan oleh dr. Terawan Agus Putranto ini.

***

Di tengah pandemi corona ini vaksinasi terus digalakkan pemerintah dengan menggandeng berbagai pihak. Tujuan yang diinginkan dari pemberian vaksin ini adalah kekebalan pada  individu yang  disuntik vaksin. Saat sebagian besar masyarakat sudah menerima vaksin diharapkan akan terbentuk kekebalan kelompok atau biasa disebut herd immunity.

Menurut  Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS, dengan semangat dan dispilin sejatinya COVID-19 bisa dilawan. “Kita bisa melawan COVID-19 ini dengan senjata Trisula. Yaitu 5M (menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan), 3T (testing, tracing dan treatment) dan vaksinasi,” tegasnya.

Saat ini  beragam merek vaksin sudah masuk ke Indonesia. Namun ada vaksin yang dikembangkan anak bangsa yang perlu didukung dan diapresiasi yaitu vaksin Nusantara yang dikembangkan dr. Terawan Agus Putranto dan vaksin Merah Putih yang dikembangkan Universitas Airlangga.  

Memang sampai saat ini vaksin Nusantara masih dalam tahap penelitian berbasis pelayanan. Artinya kata, pria kelahiran Gunung Kidul, Yogyakarta, 10 Maret 1967 ini, vaksin ini sudah bisa diberikan namun dalam konteks pelayanan terbatas. “Untuk produksi vaksin Nusantara secara massal memang belum diatur dan juga belum dibicarakan. Pendapat saya pribadi, kalau MoU ini dilaksanakan, kita kan mendapatkan data soal perolehan imunitas setelah dilakukan pemberian dendritic cell therapy. Kemudian bisa dilanjutkan dengan sebuah penelitian lagi yang bisa diarahkan pada produksi massal. Harapannya demikian untuk vaksin Nusantara ini,” katanya.

Ia berharap proses pengembangan vaksin Nusantara ini bisa selesai dan bisa membantu masyarakat dalam menghadapi COVID-19 yang terus bermutasi menjadi berbagai macam varian. Kepada Edy Suherli, Savic Rabos dan Irfan Medianto dari VOI, Albertus Budi Sulistya bercerita banyak  soal peran RSPAD sebagai Rumah Sakit Rujukan Tertinggi di lingkungan TNI, Rumah Sakit Kepresidenan dan kiprah di masa pandemi corona ini. Inilah petikan selengkapnya yang dilakukan di kantornya RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat belum lama berselang.

Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Selama masa pandemi ini seperti apa peran RSPAD?

Kami memperoleh penunjukan dari Kementerian Kesehatan untuk menjadi rumah sakit rujukan nasional untuk kasus COVID-19 sejak awal pandemi di bulan Januari 2020 tepatnya 24 Januari. Kami melakukan konsolidasi dan gladi-posko. Siapa saja yang akan terlibat penanganan kasus ini. Waktu itu Namanya belum COVID-19, masih penyakit yang pneumonia yang disebabkan oleh novel coronavirus. Kami memperbaiki standar prosedur operasional serta alat-alat yang dimiliki RSPAD Gatot Soebroto.

Pada bulan Februari 2020 RSPADA Gatot Soebroto memperoleh mandat Kementerian Kesehatan untuk menyelenggarakan Table Top exercise di mana kami mengundang para stakeholder terkait dengan penanganan novel coronavirus yang seandainya (prediksi saat itu) mewabah bisa dikendalikan. Namun dalam perkembangan waktu virus ini amat luar biasa. Pada tanggal 8 Maret 2020 WHO mengumumkan bahwa novel coronavirus menjadi pandemi corona atau COVID-19.

Berapa daya tampung untuk pasien COVID-19 di RSPAD Gatot Soebaroto?

Di awal pandemi kami hanya memiliki 9 tempat tidur untuk pasien COVID-19. Namun karena kasus ini melonjak drastis pertambahan jumlah tempat tidur juga meningkat. Sempat mencapai 330 tempat tidur pada bulan Desember 2020. Setelah itu sempat turun sampai Idul Fitri 2021. Waktu itu BOR kami hanya 20 persen. Namun dua pekan pasca Idul Fitri, kasus Kembali meningkat. Di awal Juli semakin tinggi RSPAD menambah jumlah tempat tidur menjadi 478. Kalau dihitung kita memiliki 750 tempat tidur, jadi 478 itu sekitar 56 persen  dari jumlah tempat tidur yang ada.

Bagaimana dengan Rumah Sakit lapangan di RSPAD? 

Panglima TNI ikut concern dan ingin berperan membantu pasien pasien COVID-19 yang semakin bertambah. Karena itulah lahan parkir RSPAD diubah menjadi rumah sakit lapangan sejak 1 Maret 2021. Waktu itu kapasitas tempat tidur baru 46. Karena penambahan pasien COVID-19 makin meningkat, awal Juli 2021 Bapak Kepala Staf Angkatan Darat dan Panglima TNI memutuskan perlunya dibuat Rumah Sakit lapangan yang baru dalam hal ini dari Yonkes 1 Kostrad. Di sini sebenarnya bisa memuat 110 tempat tidur, tapi disesuaikan menjadi 80 tempat tidur.

Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Untuk melayani sekian banyak pasien berapa tenaga kesehatan yang ada?

Saat ini kita ada 1.338 tenaga kesehatan yang terlibat baik itu dokter, tenaga perawat maupun tenaga kesehatan yang lainnya. Jumlah itu termasuk relawan dari Kementerian Kesehatan sebanyak  297 orang. Kemudian BKO atas perintah Pak Kasad ada dokter 30 orang, tenaga perawat ada 30 orang,  kemudian analis kesehatan 9 orang, tenaga farmasi 12 orang, distribusi oksigen 12 orang, runner untuk pengisian oksigen 8 orang, dan ada juga tenaga pemulasaran dari Yonkes 1 Kostrad.

Berapa banyak pasien COVID-19 yang bisa diterima setiap hari di sini?

Yang masuk melalui IGD ada sekitar 30 sampai 60 pasien perhari itu tergantung juga pada ketersediaan tempat tidur yang ada. Belum lagi yang  rawat jalan kenakan pintunya bisa rawat jalan bisa gawat darurat. Untuk tingkat kesembuhan pasien COVID-19 yang masuk sekitar 90 persen. Sampai saat ini  ada 36.227 pasien ditangani. Rawat inap 5.249 dan sisanya 29.823 pasien rawat jalan.

Ok sekarang soal Vaksin Nusantara yang digagas oleh dr. Terawan Agus Putranto, bagaimana progresnya?

Perlu kita sampaikan bahwa vaksin Nusantara, atau dalam memorandum of understanding disebutkan sebagai dendritic cell therapy yang membranding dengan vaksin Nusantara. Vaksin ini masih dalam proses penelitian. Seperti kita ketahui bersama bahwa pemerintah dalam hal ini Bapak Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy telah menginisasi MoU yang ditandatangani oleh Menteri Kesehatan, Kepala BPOM, Kasad sebagai Dewan Pengawas RSPAD Gatot Soebroto, dalam MoU itu disampaikan, bahwa dendritic cell therapy masih dalam tahap penelitian berbasis pelayanan. Artinya kita bisa memberikan treathment dalam konteks pelayanan.

Apa saja kendala dalam pengembangan vaksin Nusantara ini?

Kalau kendala ada saja, namun sejauh ini masih bisa dilalui. Di lapangan kendala yang dihadapi relatif tidak ada. Artinya kalau semua penelitian dilakukan sesuai dengan prinsip good-clinical practice saya kira bisa diselesaikan dengan baik.

Estimasinya kapan vaksin Nusantara bisa diproduksi massal?

Sesuai dengan MoU tadi, dendritic cell therapy ini masih dalam basis pelayanan. Untuk produski vaksin Nusantara secara massal memang belum diatur dan juga belum dibicarakan. Pendapat saya pribadi, kalau MoU ini dilaksanakan, kita kan mendapatkan data soal perolehan imunitas setelah dilakukan pemberian dendritic cell therapy. Kemudian bisa dilanjutkan dengan sebuah penelitian lagi yang bisa diarahkan pada produksi massal. Harapannya demikian untuk vaksin Nusantara ini.

Berapa lama itu Pak estimasinya?

Kalau ini amat tergantung pada semua sistem yang terlibat di dalamnya, seperti tim peneliti, sponsor dan goodwill dari pemerintah untuk mendukung program ini. Jadi begitu.

Sudah banyak tokoh yang menjadi relawan untuk vaksin Nusantara ini, seperti apa Anda melihatnya?

Kita perlu apresiasi atas dukungan yang sudah diberikan. Saat ini terasa sekali  pentingnya vaksin produksi dalam negeri. Ini yang menarik dan semoga menjadi tantangan kita bersama untuk berbuat, lewat jalur mana pun silahkan. Boleh lewat vaksin Nusantara atau lewat vaksin Merah Putih. Yang penting semuanya memiliki prinsip good-clinical practice. Semoga hal ini bisa segera terwujud.

Apa saran dan harapan Anda untuk masyarakat yang masih abai pada protocol Kesehatan?

Memang susah sama kalaua masih ada yang abai pada protokol kesehatan. Kalau kita baca memang ujungnya pada tiga pilar penting yaitu Trisula. Tentang 5M (menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan), 3T (testing, tracing dan treatment) dan vaksinasi. Dengan senjata Trisula ini semoga kita bersama-sama bisa untuk mengatasi pandemi COVID-19.

Tiga Resep Keseimbangan Hidup dr. Albertus Budi Sulistya

Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Dalam melakoni hidup dr. Albertus Budi Sulistya menerapkan tiga keseimbangan yang harus dijalankan. Keseimbangan istirahat, keseimbangan nutrisi dan berolahraga. Inilah tips yang dijalankannya bersama keluarga.

Olahraga bagi dia apa aja yang bisa dilakukan, tidak harus dengan olahraga yang berongkos mahal. “Untuk olahraga saya sering jalan kaki atau menggunakan treadmill atau mesin yang digunakan untuk berlari di tempat atau jalan. Kebetulan di RSPAD Gatot Soebroto juga tersedia treadmill,” ungkapnya.

Namun lagi-lagi untuk berlolahraga ini suami dari dr. Krismini Dwi Irianti, MARS ini tak harus menyengajakan diri, ternyata hal itu bisa dilakukan sembari melakoni aktivitasnya sebagai seorang dokter. “Jadi tidak selalu murni berolahraga, jalan di kantor sembari membesuk pasien. Itu juga sudah olahraga,” katanya.

Nah dalam urusan lari ini, diapunya target untuk menyelesaikan 7.000 langkah setiapharinya. “Target saya setiap hari memang 7.000 langkah. Tapi kalau tidak tercapai paling tidak dalam sepekan bisa 4 sampai lima kali  tembuh 7.000 langhkah,” kata pria yang juga hobi bermain tenis lapangan ini.

Banyak orang yang malu mengakui kalau dirinya sempat mengalami persoalan dalam berat badan. Namun Budi Sulistya mengakui kalau dia pernah mengalami obesitas. Dan karena itu dia melakukan terapi dan konsultasi khusus dengan ahli gizi untuk membuat berat badannya seimbang. “Saya konsultasi dengan dokter ahli gizi. Untuk mengatasi obesitas yang ada pada saya, saya disarankan untuk mengurangi asupan lemak, minyak, gorengan dan sejenisnya,” ungkapnya.

Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Selain lemak, karbohidrat juga harus dikontrol. “Meskipun saya tidak ada diabetes miloitus asupan karbohoidrat juga harus dibatasi untuk menjaga kesehatan. Ini juga disarankan oleh dokter ahli gizi tempat saya berkonsultasi,” lanjutnya. “Yang disarankan kepada saya memperbanyak asupan  sayuran dan buah,” katanya.

Bukan perkara muda bagi bapak dari dr. A. Listianakristi Prabawati dan Y. Krisnanto Adi Pirandito, S.Ked untuk mengurangi asupan makanan yang selama ini sudah menjadi kegemarannya itu. Namun dengan tekad yang kuat pelan-pelan ia bisa menurunkan bobot tubuhnya. “Awalnya bisa memenuhi target penurunan bobot satu kilogram perpekan. Namun di masa pandemi corona saya agak longgar. Karena saya ingin asupan makan cukup agar bisa tetap fit di di masa pandemi ini,” katanya.

Setelah berhasil menurunkan 8 kilogram, bobot badanya stagnan. Lalu berapa sebenarnya target penurunan yang disarankan dokter ahli gizi?  “Dokter ahli gizi saya menyarankan untuk menca;ai target 5 kilogram lagi harus turun bobot saya. Doakan semoga saya bisa memenuhi target itu,” pintanya.

Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Di sela-sela kesibukannya sebagai dokter dan juga pimpinan tertinggi di RSPAD Gatot Soebroto, Budi Syulistya juga senang bernyanyi dan berdansa. Kebetulan ia memiliki hobi yang  sama dengan istri tercinta dalam bernansa. “Karena kami punya hobi dansa yang sama dengan istri, kami sering melakukan couple dance dengan istri. Jadi interaksinya bertemu saat sama-sama bernyanyi, olahraga dansa,” ungkapnya.

Satu hal yang bisa dilakukan oleh Budi agar tidak dilupakan oleh sejarah, yaitu dengan menulis. “Sebuah pembaharuan dimulai dengan riset ini himbauan untuk  generasi muda dan juga saya saya. Kemudian menulislah agar tidak dilupakan oleh sejarah. Kembangkan talenta sesuai dengan hobi yang kita miliki. Eksplore-lah diri kita agar menemukan talenta yang di miliki secara optimal. Mulailah dari sesuatu yang disukai atau hobi,” kata alumni Sepamilsuk  ABRI 189 dan Fakultas Kedokteran UGM tahun 1992 ini.

Kepada generasi muda penerus perjuangan bangsa ini pesan yang  disampaikan Albertus Budi Sulistya. “Saya yakin setiap masa ada pahlawannya dan setiap pahlawan akan ada masanya. Saya yakin generasi muda sekarang akan menjadi pahlawan di masanya nanti. Yang penting salurkan hobi anda pada koridor yang tepat. Dari sana bisa berkreasi sehingga hobi itu dapat berkembang dan menjadi sesuatu yang layak untuk dibanggakan,” kata pria yang pernah menjalani penugaasan militer di berbagai negara seperti Peru (2015), Turki (2016), Timor Leste (2017), Hong Kong (2017) dan Timor India (2017).

 

“Kita perlu apresiasi atas dukungan yang sudah diberikan. Saat ini terasa sekali  pentingnya vaksin produksi dalam negeri. Ini yang menarik dan semoga menjadi tantangan kita bersama untuk berbuat, lewat jalur mana pun silahkan. Boleh lewat vaksin Nusantara atau lewat vaksin Merah Putih. Yang penting semuanya memiliki prinsip good-clinical practice. Semoga hal ini bisa segera terwujud.”

Letjen TNI dr. Albertus Budi Sulistya, Sp.THT-KL., MARS