Eksklusif, Arief Nasrudin Jabarkan Digitalisasi Ekonomi di Pasar Tradisional Jakarta
Arief Nasrudin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

Digitalisasi sudah mulai terjadi di berbagai sektor, tak terkecuali dalam dunia perdagangan. Transaksi dengan dengan dompet digital dan pembayaran online sudah jamak terjadi. Arief Nasrudin selaku Direktur Utama PD Pasar Jaya  mengungkapkan kalau digitalisasi pelan-pelan sudah terjadi di lingkungan pasar tradisional mereka.  Potensi pasar yang demikian besar menarik perhatian banyak pihak untuk terlibat di sini. Seperti apa program digitalisasi ekonomi yang terjadi di pasar tradisional yang berada di bawah naungan BUMD milik Pemprov DKI Jakarta itu? Arief  menjabarkannya secara khusus kepada tim VOI.

***

Peribahasa lama ada gula ada semut, sepertinya masih relevan untuk menggambarkan situasi pasar-pasar di bawah naungan PD Pasar Jaya kini di tengah arus digitaliasi. Dengan 154 pasar besar dan kecil, lebih dari 105.000 lebih pedagang serta jumlah pengunjung yang mencapai 1,5 juta lebih di masa pandemi ini, adalah potensi yang amat besar. Ketika digitalisasi mulai dipraktikkan banyak pihak yang tertarik untuk bekerjasama. Mulai dari sektor perbankan, marketplace, pembayaran digital dan sebagainya, mereka seperti tak mau ketinggalan ingin mencicipi manisnya gula-gula di pasar tradisional yang ada di Jakarta.

Pihak PD Pasar Jaya, sebagai tuan rumah, kata Arief Nasrudin memberikan kesempatan yang sama kepada siapa pun dan pihak mana pun untuk ikut terlibat dalam program digitalisasi yang terjadi di lingkungan PD Pasar Jaya. “Kami tidak akan mengikat kerja sama eksklusif ke salah satu pihak dalam program digitaliasi ekonomi di lingkungan Pasar Jaya. Semua boleh ikut dan semua bisa terlibat,” katanya.

Kalau Anda berbelanja di salah satu pasar tradisional di Jakarta sudah bisa melakukan pembayaran secara digital.  “Saat ini di pasar-pasar kita sudah bisa berbelanja dengan dompet digital. Tinggal pindai barcode dan masukkan nominal pembayaran dan pembayaran pun terjadi. Kita sudah pasang penguat signal di pasar agar transaksi berjalan lancar. Pedagang kami sudah bereaksi dengan digitalisasi seperti ini,” terangnya.

Memang bukan perkara mudah untuk mempraktikkan digitalisasi di pasar tradisional ini. Karena itu edukasi kepada para pedagang terus dilakukan agar mereka bisa mengikuti transaksi secara digital. Uniknya meski sistemnya sudah digital ciri khas pasar tradisional yang masih memberlakukan tawar-menawar antara pembeli dan penjual masih tetap dipertahankan.

Soal pasar tradisional dianggap sebagai pasar becek, menurut  pria yang sudah berkutat di dunia ritel dan bergabung di salah satu peritel terkemuka sebelum akhirnya berlabuh di PD Pasar Jaya, pelan-pelan akan mereka hilangkan dan kini sudah berkurang.  Tapi kadang-kadang masyarakat malah pengennya pasar becek, karena dianggapnya lebih murah dan ramai, terutama oleh pedagang. “Image pasar tradisional itu memang  pasar basah walaupun secara pengelolaan harusnya lebih profesional dan modern,” terang Arief Nasrudin kepada Iqbal Irsyad, Edy Suherli, Savic Rabos, dan  Irfan Meidianto yang menemuinya di kantor PD Pasar Jaya, di bilangan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat belum lama ini. Inilah petikan wawancara selengkapnya.

Arief Nasrudin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Arief Nasrudin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Pasar tradisional  itu identik dengan pasar kumuh, bagaimana anda mengubah image tersebut?

Ketika saya bergabung dengan PD Pasar Jaya 4 atau 5 tahun lalu  pembangunan sudah  dilakukan. Tapi masih ada pasar yang perlu dilakukan percepatan. Kita memang sedang merapikan dan melakukan revitalisasi pasar yang jumlahnya tidak sedikit di Jakarta ini. Mungkin jumlah pasar tradisional-nya terbesar di Indonesia atau bahkan di Asia. Karena dalam suatu kota terdiri dari 154 pasar dengan 105.000 pedagang. Kami juga diminta oleh Pak Gubernur dan Pemprov DKI Jakarta agar pembangunan pasar yang dilakukan tetap mengikuti tata aturan. Sampai saat ini kita sedang merapikan proses administrasi, agar pembangunan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Berikutnya yang sudah terbangun kita  perbaikan konsepnya  sehingga pasar ini nantinya bisa juga menghadapi beberapa tantangan zaman yang memang semakin berkembang, termasuk salah satunya tentang digital ekonomi. Tentang image pasar pasar tradisional itu becek sebenarnya sudah berkurang. Tapi kadang masyarakat malah pengennya pasar becek, karena dianggapnya lebih murah dan ramai, terutama oleh pedagang. Image pasar tradisional itu memang  pasar basah walaupun secara pengelolaan harusnya lebih profesional dan modern.

Beberapa pasar sudah berubah, menurut Anda mana pasar tradisonal yang sudah bisa jadi contoh? 

Ke depan kita akan melakukan sebuah proses optimalisasi lahan. Jadi mengintegrasikan pasar dengan berbagai macam pendukung.  Kita bisa melakukan integrasi dengan membangunan gedung  tinggi untuk hunian dan juga perkantoran yang bisa menciptakan market untuk pasar yang ada di bawahnya. Model yang sudah dibangun adalah Pasar Rumput (Manggarai), walaupun memang masih dalam proses pengisian. Selain itu Pasar Mayestik yang sudah direnovasi juga bagus dan bersih. Tapi  tetapi di atasnya masih konvensional bentuknya. Konsumen malas ke atas dan akhirnya kiosnya kosong juga banyak yang tutup. Ini sangat disayangkan sebenarnya.  Ke depan kita harus bedah benar potensi pasar yang lokasinya cukup strategis harus di lakukan optimalisasi dengan melakukan integrasi dengan berbagai macam pendukung termasuk hunian yang konsepnya one stop living.  

Untuk pasar Senen, ketika saya gabung di PD Pasar Jaya juga sudah diperbaiki. Salah satunya  ada integrasi dengan hotel.  Harapannya nanti ketika pandemi selesai hotelnya bisa berfungsi dengan baik. Jadi hotel itu bisa jadi tempat untuk singgah bagi mereka yang akan belanja di pasar Senen. 

Jadi konsepnya  membuat pasar menjadi one stop living?

Sebenarnya ini bertolak belakang, harusnya dengan pemaksimalan dan optimalisasi lahan harganya harusnya lebih kompetitif, karena terjadi sebuah cross-margin kalau bicara bisnis. Jadi harusnya yang atas mensuport yang bawah, bukan terbalik. Sejauh ini pasar kita alhamdulillah masih cukup kompetitif karena kita juga perbaiki jalur distribusi pangan. Sehingga kita bisa memotong jalur distribusi makanan yang cukup panjang menjadi lebih sederhana. Jika pedagang di pasar modern banyak terpengaruh karena pandemi ini, semoga di pasar tradisional  turbulensinya tidak terlalu berlebihan dan bisa tetap melayani konsumen, sehingga mereka tetap bertahan.

Beberapa waktu lalu  memang ada program satu juta rumah yang dilakukan oleh pemerintah pusat.  Ini memerlukan lahan atau tempat yang cukup strategis di dalam kota, satu-satunya yang punya lahan ya Pasar Jaya yang pemiliknya Pemprov 100 persen.   Jadi kita melakukan sinergitas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dan saya pikir ini sebenarnya sebuah sinergi yang sangat positif yang harus dikembangkan walaupun aturan birokrasinya cukup panjang. Dan harapan saya sebenarnya kita juga melakukan simplifikasi atas itu.

Arief Nasrudin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Arief Nasrudin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Bicara soal kompetitor, siapa sebenarnya kompetitor pasar tradisional itu?

Kompetitor kita ya pasar yang dikelolah swasta dan juga pasar online. Perda perpasaran sudah kita bentuk memang ada beberapa aturan yang mengatur keberadaan pasar modern atau swasta yang membangun pasar tradisional.  Tapi kami pikir kita harus berani berani berkompetisi agar pedagang kami tidak berada di zona nyaman.

Ini adalah tantangan yang harus dihadapi karena yang lebih sulit lagi menghadapi digitalisasi dengan infrastruktur yang saat ini kita miliki. Enggak cuma hanya edukasi tapi infrastruktur fisik juga perlu. Nah itu yang memang  perlu kita hadapi bersama. Tetapi saya yakin perbaikan-perbaikan ini sudah banyak dilakukan dan saya mengerti sekali dan kemudian menangkap respon dari masyarakat bahwa kalau ibu rumah tangga tak akan pernah lari dari pasar tradisional.

Jika dibandingkan dengan pasar modern seperti yang ada di mal, visitor pasar tradisional jauh lebih banyak di saat pandemi ini. Pengunjungnya lebih banyak kami kamu itu sampai mencapai satu setengah juta orang itu orang itu per hari. Untuk pasar terkenal di Jakarta seperti pasar Tanah Abang, walaupun dalam masa pandemi tapi tetap ada pengunjung. Namun menurut saya pasar tradisional dengan pasar modern itu bisa saling melengkapi satu sama lain.

Apakah termasuk dalam optimalisasi lahan saat ada lapangan futsal atau sarana olah raga lainnya di lahan Pasar Jaya?

Untuk kegiatan olahraga banyak, ada futsal dan lapangan bulutangkis. Ke depan ini akan masuk dalam pelayanan. Namun saat ini lahannya baru disewakan kepada pihak ketiga. Tapi saya berharap bisa digunakan untuk masyarakat. 

Bagaimana pasar tradisonal menghadapi era 4.0?

Sebenarnya sebelum kita menghadapi era 4.0 kita memperkuat di daerah 3.0. Jadi masuknya 4.0 sebenarnya enggak cuma hanya digitalisasi tapi juga kolaborasi. Sejak 2017  melahirkan program Oyes. Itu kita bekerjasama dengan pihak ketiga,  untuk melakukan digitalisasi. Dan itu pertama kali pasar tradisional di Indonesia me-launching online shopping yang bisa langsung di-capture oleh masyarakat. Memang tantangan terbesarnya  edukasi pedagang, bagaimana mereka bisa aktif berdagang dengan berdampingan menggunakan teknologi terbaru.

Cuma yang menjadi problem adalah regenerasi pedagang. Kadang anak-anak pedagang atau cucu pedagang yang sukses tak mau meneruskan usaha yang sudah membawa kesuksesan orang tua mereka. Padahal saya sudah minta mereka untuk meneruskankan usaha orang tua mereka untuk tidak meninggalkan pasar.

Saat ini di pasar-pasar kita sudah bisa berbelanja dengan payment atau dompet digital. Kita sudah pasang penguat signal di pasar agar transaksi berjalan lancar. Kemarin kita mau kerjasama dengan beberapa  bank nasional, kemudian Bank DKI sendiri, Bank BJB  juga mau masuk. Pedagang kami sudah bereaksi dengan digitalisasi seperti ini. Kemudian yang diperlukan sekarang gadget mereka itu perlu diakomodasi dengan berbagai macam fitur yang mendukung. Kami juga membuka  online yang memang langsung bisa memberikan bantuan kepada pelanggan.

Kebijakan Pasar Jaya membuka pasar seluas-luasnya kepada pihak-pihak yang ingin bekerjasama. Tidak akan ada kerja sama eksklusif dengan salah satu perusahaan payment atau marketplace tertentu. Jadi kekuatan kita pada anggota (pedagang), nanti akan masuk juga instrument guru, ASN, pensiunan dan sebagainya. Kita akan edukasi pedagang dan UMKM yang ingin masuk dan terlibat dalam e-order yang ada di kita.  Program ini sudah jalan tapi belum maksimal. Makanya inflasi kita bagus, kita termasuk pengendali inflasi terbaik se-Jawa dan Bali sebelum pandemi.

Marketplace juga masuk ke pasar tradisional?

Marketplace seperti Tokopedia juga bagian dari proses ini. Mereka bisa jadi player juga. Jadi saat ini member kita untuk Jakpreneur  250.000 lebih. Nanti akan menjadi member kita sudah ada beberapa tokoh atau toko semi modern tapi tetep warung konsepnya.  Karena memang enggak ada brand-nya brand-nya mereka punya. Kita cuma supporting untuk sistem dan barangnya. Jadi  sinergitas  itu sudah luar biasa sekali. 

Berapa total  transaksi yang terjadi di pasar tradisional di bawah naungan PD Pasar Jaya?

Transaksional nya cukup besar tapi memang kita kesulitan untuk mengatur secara real karena ini cash keras yang beredar di pasar. Saya pernah luncurkan  sistem transaksi digital dengan gadget. Tapi kendalanya para pedagang takut transaksi mereka ketahuan karena takut pajak,padahal pajak UMKM itu kecil sekali. Transaksi yang ada di pasar tradisional jadi saat ini angkanya saya tidak bisa gambarkan  secara real, karena saat ini perputaran kas kerasnya cukup apa cukup beranomali. Contoh sederhana pasar Tanah Abang itu transaksi saat ini memang agak sedikit menurun kondisi normal bisa sampai Rp400 miliar perhari. Pasar Induk Kramatjati mungkin di walaupun masa pandemi  berkurang. Tapi enggak jauh dari angka 100 miliar perhari. Satu hal meski marketplace sudah masuk dan transaksi sudah dengan digital, namun karakter pasar tradisional yang bisa tawar-menawar tidak akan dihilangkan.  

Begini Cara Arief Nasrudin Menyeimbangkan Otak Kanan dan Kiri 

Arief Nasrudin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Arief Nasrudin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Menjalani hidup ini harus seimbang. Ada kalanya beraktivitas seperti bekerja, olahraga atau melakoni kegiatan lainnya, namun kali lain harus menyisihkan waktu untuk beristirahat. Inilah yang dilakukan oleh Arief Nasrudin agar kehidupannya bisa seimbang.

Sebagai pucuk pimpinan di PD Pasar Jaya, perusahaan daerah milik Pemprov DKI Jakarta yang menaungi beragam pasar tradisional di seantero DKI Jakarta dia juga mengarahkan kepada timnya untuk tidak lupa memperhatikan waktu istirahat. “Waktu istirahat yang cukup amat diperlukan untuk memulihkan kembali kondisi fisik yang lelah usai melakukan aktivitas di kantor,” katanya.

Apalagi di masa pandemi corona dan penerapan PPKM Darurat seperti sekarang ini. Imunitas tubuh mutlak harus dijaga agar bisa kuat terhadap serangan virus dari luar tubuh yang tanpa permisi tiba tiba hinggap. Soalnya Arief sudah mengalami sendiri bagaimana rasanya terpapar COVID-19. Bersyukur dia bisa melewati masa-masa penyembuhan dan pemulihan dari serangan virus corona.

“Saya sempat terkena COVID-19 di masa awal pandemi masuk ke Indonesia sekitar bulan Maret 2020. Waktu itu saya amat bersemangat ikut menyalurkan bantuan buat mereka yang terdampak pandemi. Mungkin ketika itu ada saatnya saya lengah dan kemudian virusnya mampir. Ya sudah karena positif COVID-19 saya dirawat intensif di rumah sakit,” kenangnya.

Arief Nasrudin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Arief Nasrudin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama dua bulan dan dinyatakan sembuh, Arief diperbolehkan pulang ke rumah dan bisa kembali beraktivitas seperti semula. Namun sebagai penyintas COVID-19 dia kini lebih berhati-hati dan banyak memetik pelajaran saat terpapar virus dan menjalani penyembuhan.

Selain istirahat yang cukup, menurut Arief asupan makanan yang mencukupi kebutuhan gizi serta olahraga yang seimbang juga diperlukan. “Setiap orang  tentu berbeda-beda kebutuhan gizinya, yang penting apa yang kita konsumsi itu sebaiknya mengandung manfaat untuk tubuh. Bukan sebaliknya. Ingat tubuh kita ini bukan tempat untuk memasukkan segala macam makanan. Kalau yang tidak dibutuhkan tubuh sebaiknya diseleksi, yang benar-benar dibutuhkan saja yang boleh masuk,” kata pria yang dulunya gemar olahraga marathon.

Kini Arief memilih cabang olahraga yang bersifat individual dan minim  kerumunan. “Dulu saya sempat melakoni olahraga lari dan marathon namun karena cidera, saya diarahkan dokter untuk mengganti jenis olahraganya dengan yang lain, contoh gowes dan berenang,” terangnya.

Dia tidak sendirian saat bersepeda, anak-anaknya yang sudah beranjak remaja juga diajak serta. “Saya biasanya sepedahan dengan anak saya. Mereka sukanya sepeda balap,” ungkapnya.

Untuk di kantornya, iklim berolahraga sepertinya sudah terbentuk. Ini juga yang amat membanggakan Arief. Karyawan PD Pasar Jaya tak hanya melakoni olahraga untuk kesehatan. Namun mereka juga bisa berprestasi dengan meraih tropi dan piala dalam berbagai kejuaraan.

“Di PD Pasar Jaya itu yang paling menonjol olahraga futsal. Mereka tak sekadar berolahraga untuk kesehatan tapi langganan meraih tropi dan penghargaan. Paling sering itu juara  pertama, sesekali juara dua dalam berbagai turnamen futsal uang digelar di Jakarta dan sekitarnya. Di bawah bisa dilihat tropi apa saja yang sudah diraih tim kami,” katanya sembari menambahkan ada juga prestasi dalam cabor bulutangkis dan cabor lainnya yang ditorehkan oleh karyawan PD Pasar Jaya.

Arief Nasrudin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Arief Nasrudin. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Mantan Gitaris Band Sekolah

Diam-diam Arief adalah seorang gitaris band sekolah. “Dulu waktu masih SMA saya ikut band sekolah dan dipercaya memainkan gitar. Memang dari kecil saya senang bermusik dan bermain gitar. Karena itu bakat terpendam itu tersalurkan saat ikut band di sekolah,” kata Arief yang kerap membawakan lagu-lagu band kondang seperti The Beatles bersama band sekolahnya. Sedangkan untuk band lokal mereka kerap membawakan lagu dari group God Bless.

Cuma bakat bermusik itu tidak dilanjutkan menjadi seorang musisi profesional. Ia memilih berkarie di dunia kerja. Industri retail modern yang jaringannya seantero Indonesia. Namun akhirnya dia menerima ajakan untuk bergabung ke PD Pasar Jaya sekitar empat tahun silam. Dan Arief pun ikut membenahi manajemen perusahaan milik Pemprov DKI Jakarta ini hingga kini. Urusan seni kemudian tinggal menjadi hobi saja buat Arief.

Ternyata bakat seni yang ada pada dirinya menurun kepada anak-anaknya. “Mereka malah lebih jago dari saya dalam bermusik. Cuma memang tidak diseriusi. Mereka lebih mengutamakan sekolah. Sama seperti saya, anak-anak pun menjadikan musik sebagai selingan saat suntuk dengan kegiatan kuliah,” katanya.

Arief amat mendukung saat anak-anaknya juga menekuni musik meski tidak diseriusi sebagai profesi. Soalnya dengan bermusik kata dia, bisa menyeimbangkan fungsi otak kiri dan otak kanan. “Menekuni musik itu bagus untuk menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri. Jadi biar seimbang, tidak hanya  otak kanan saja yang dimaksimalkan, tapi otak kiri juga. Anak saya di sela-sela belajar biasanya mereka main keyboard yang ada di kamarnya. Ya itu bisa menjadi saluran agar tidak stres dari beban belajar yang berat,” kata Arief yang di rumahnya punya studio kecil bagi dirinya dan anak-anak dalam menyalurkan hobi bermusik.

Arief sama sekali tidak memaksakan anak-anaknya untuk bekerja atau berkarya pada bidang tertentu. Tetapi yang dia harapkan agar anaknya tidak berada di zona nyaman. “Saya menyarankan kepada anak-anak saya untuk tidak berada di zona nyaman seperti menjadi karyawan. Tapi kalau ada orang yang maunya seperti itu ya tak apa-apa, itu pilihan. Saya lebih menyarankan kepada mereka untuk menciptakan lapangan kerja. Berwirausaha itu menurut saya lebih bagus daripada menjadi karyawan yang terus bergantung pada orang lain,” tandasnya.

 

“Saya menyarankan kepada anak-anak saya untuk tidak berada di zona nyaman seperti menjadi karyawan. Berwirausaha itu menurut saya lebih bagus daripada menjadi karyawan yang terus bergantung pada orang lain,” 

Arief Nasrudin