Bagikan:

Konflik yang terjadi di Timur Tengah setelah ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran berdampak pada perjalanan jemaah umrah, termasuk dari Indonesia. Namun, menurut Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), H. Firman Muhammad Nur, M.Sc., meski situasi belum mereda, rencana penyelenggaraan ibadah haji 2026 masih sesuai jadwal (on schedule). Sampai saat ini, dipastikan tidak ada pembatalan ibadah haji.

***

Perang yang berkecamuk di Timur Tengah memang berdampak luas. Sejumlah wilayah udara dan bandara di kawasan tersebut sempat ditutup, yang mengakibatkan perjalanan udara terhambat. Hal ini berdampak langsung pada jemaah umrah yang menggunakan rute transit di kota-kota seperti Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan lainnya.

Situasi ini, menurut Firman, memang tidak terhindarkan. Namun, untuk penerbangan langsung (direct flight) dari Indonesia menuju Jeddah dan Madinah masih bisa dilakukan secara aman. Hal ini dikarenakan rute penerbangan tersebut relatif jauh dari wilayah udara yang ditutup untuk penerbangan sipil.

“Untuk penerbangan langsung, rutenya memang melintasi bagian selatan sehingga lebih aman,” ungkap Firman.

Ia dan banyak pihak lainnya berharap eskalasi di Timur Tengah segera mereda agar seluruh jalur penerbangan bisa kembali dibuka normal. “Yang membuat kami tenang, Pemerintah Dalam Negeri Arab Saudi menegaskan bahwa meski terjadi konflik di Timur Tengah, situasi di dua kota suci, Makkah dan Madinah, tetap kondusif,” terangnya.

Meski kondisi yang tidak kunjung reda dikhawatirkan mengancam pelaksanaan haji 2026, Firman menegaskan bahwa hingga saat ini Pemerintah Arab Saudi tetap berkomitmen pada rencana awal.

“Belum ada pembatalan penyelenggaraan ibadah haji 2026. Pemerintah Arab Saudi masih berkomitmen dengan lini masa (timeline) yang sudah dipublikasikan selama ini,” tegas Firman Muhammad Nur kepada Edy Suherli, Bambang Eros, dan Irfan Meidianto saat berkunjung ke Kantor VOI di Tanah Abang, Jakarta, 10 Maret 2026.

Pemerintah kata Ketum AMPHURI Firman Muhammad Nur memang mengimbau masyarakat untuk tidak berangkat umrah dulu karena pertimbangan keamanan, tapi kalau yakin mau berangkat juga tidak dilarang. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Pemerintah kata Ketum AMPHURI Firman Muhammad Nur memang mengimbau masyarakat untuk tidak berangkat umrah dulu karena pertimbangan keamanan, tapi kalau yakin mau berangkat juga tidak dilarang. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)

Situasi di Timur Tengah masih panas pasca serangan Israel dan AS ke Iran. Bagaimana AMPHURI memotret kondisi keamanan di kawasan tersebut saat ini bagi penyelenggaraan ibadah umrah?

Umrah di bulan Ramadan ini nilainya setara dengan ibadah haji, itulah sebabnya animo jemaah dari seluruh dunia amat besar. Namun, serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari lalu berdampak pada jadwal keberangkatan dan kepulangan jemaah umrah, termasuk dari Indonesia. Semua penerbangan transit di Timur Tengah sempat membatalkan jadwalnya. Jemaah yang berangkat mulai 28 Februari terdampak, namun untuk penerbangan langsung (direct flight) dari Indonesia ke Jeddah atau Madinah masih bisa dilakukan.

Mengapa penerbangan langsung tidak terdampak?

Karena rute tersebut tidak melintasi area yang menjadi medan konflik antara Iran di satu sisi, serta Israel dan Amerika di sisi lain. Penerbangan langsung mengambil rute yang melintasi bagian selatan. Dalam situasi seperti ini, kami sebagai penyelenggara terus membangun komunikasi dengan pihak KBRI di Riyadh dan Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Jeddah. Kami terus berkomunikasi dan melakukan mitigasi jika ada keadaan mendesak di Tanah Suci.

Yang membuat kami tenang, Pemerintah Arab Saudi menegaskan bahwa meski terjadi konflik di Timur Tengah, situasi di dua kota suci, Makkah dan Madinah, tetap kondusif. Kami terus memantau keadaan di sana secara real-time melalui Makkah Live dan Madinah Live. Bisa disaksikan aktivitas 10 malam terakhir di bulan Ramadan masih normal; salat Tahajud dan iktikaf di sana berlangsung lancar. Artinya, jemaah di dua kota suci ini sama sekali tidak terdampak secara fisik oleh konflik tersebut.

Berdasarkan pantauan Anda, berapa banyak jemaah umrah yang terdampak?

Batas ibadah umrah untuk tahun ini adalah awal bulan Syawal. Tercatat sekitar 57.616 jemaah yang ingin melaksanakan umrah di 10 malam terakhir bulan Ramadan. Perlu dipahami bahwa jika ada pembatalan sepihak dari pihak penyelenggara umrah atau jemaah (bukan karena faktor teknis maskapai), biasanya tidak ada refund atau pengembalian tiket.

Sampai saat wawancara ini, bagaimana penanganan jemaah yang terdampak dan apakah mereka masih di Tanah Suci?

Sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), meski kondisinya sedang tidak kondusif, kami tetap berkewajiban melindungi, melayani, serta memberikan fasilitas bagi jemaah yang terdampak. Setelah PPIU berkoordinasi dengan maskapai, jemaah mendapatkan akomodasi selama mereka belum bisa diterbangkan.

Apresiasi untuk teman-teman PPIU yang terus membersamai jemaah dalam kondisi sulit ini. Sebenarnya, kondisi perang masuk dalam kategori force majeure, sehingga biasanya tidak dicakup (cover) oleh asuransi. Namun, koordinasi terus berjalan; bahkan ada pihak maskapai yang proaktif bertanya kepada saya apakah masih ada jemaah yang belum terfasilitasi.

Saat konflik meletus, jelas  Ketum AMPHURI Firman Muhammad Nur yang terganggu adalah penerbangan transit di beberapa kota di negara Timur Tengah, sedangkan penerbangan langsung dari Indonesia ke Jeddah atau Madinah masih bisa. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Saat konflik meletus, jelas Ketum AMPHURI Firman Muhammad Nur yang terganggu adalah penerbangan transit di beberapa kota di negara Timur Tengah, sedangkan penerbangan langsung dari Indonesia ke Jeddah atau Madinah masih bisa. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)

Apakah jemaah yang terdampak sudah kembali semua ke tanah air?

Saya tidak memiliki data rincinya secara pasti, namun informasi yang saya terima menyebutkan bahwa sebagian besar sudah kembali ke Indonesia.

Untuk maskapai, apakah mereka memiliki alternatif rute selain kembali ke negara asal?

Aturannya memang harus kembali ke negara asal. Namun, ada maskapai yang berkreasi dengan menerbangkan penumpang melalui negara terdekat, misalnya dari Muscat (Oman). Semoga pihak-pihak yang telah berupaya membantu jemaah ini mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT.

Tadi Anda bilang pemerintah Arab Saudi menyatakan dua kota suci, Makkah dan Madinah, sampai saat ini aman. Namun, bagaimana saran Pemerintah Indonesia atau Kementerian Agama soal keberangkatan umrah?

Kementerian Luar Negeri dan kementerian terkait memang sempat menyerukan untuk menunda keberangkatan umrah dengan alasan faktor keamanan yang kurang mendukung di kawasan tersebut. Namun, saya ingin katakan bahwa menunda adalah salah satu pilihan, tetapi tidak menunda pun juga pilihan.

Pasalnya, keberangkatan umrah yang menggunakan penerbangan langsung dari Indonesia ke Jeddah atau Madinah masih berjalan normal, dan ada jaminan keamanan dari pemerintah Arab Saudi. Kalau ditunda, kasihan jemaahnya karena tiket tidak bisa dikembalikan (non-refundable). Jadi, pemerintah menyarankan untuk menunda, tetapi jika jemaah tetap ingin berangkat pun tidak dilarang. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah, syarikah di Arab Saudi, dan pihak maskapai.

Seperti apa antusiasme jemaah untuk berangkat dalam situasi konflik ini?

Antusiasme jemaah luar biasa, bahkan hampir tidak ada yang membatalkan. Keyakinan mereka yang besar ini menambah semangat kami untuk terus memfasilitasi. Kami berharap dan terus berdoa semoga eskalasi ini menurun dan semua kembali normal.

Bagaimana dengan kesiapan haji 2026?

Nah, inilah tantangan terbesar kita. Setelah umrah, kita langsung bersiap untuk ibadah haji. Sekitar kurang dari dua bulan lagi jemaah haji harus berangkat. Sampai saat ini belum ada gangguan terkait persiapan haji, semua masih berjalan sesuai rencana (on schedule). Saat ini proses finalisasi visa pun terus berjalan.

Artinya, pernyataan salah satu anggota DPR RI yang sempat menyebutkan kemungkinan pengiriman jemaah haji 2026 ditiadakan perlu dikaji kembali?

Haji adalah ibadah setahun sekali yang masa tunggunya sangat panjang. Jemaah sudah menyiapkan ini sejak lama, ada yang menunggu 20 hingga 30 tahun. Meski situasi Timur Tengah seperti sekarang, semoga tidak ada penundaan ibadah haji. Sampai saat ini, pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanda-tanda akan adanya penundaan.

Harapannya, penyelenggaraan haji 2026 bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Sejak 2025, pemerintah Arab Saudi sudah menggunakan aplikasi Nusuk untuk mengakses berbagai fasilitas ibadah umrah dan haji. Selain itu, cuaca diprediksi akan lebih sejuk dibandingkan tahun lalu karena berada di pengujung musim panas dengan temperatur sekitar 40 derajat Celsius.

Jadi, sampai saat ini bagi penyelenggara umrah, apakah konflik di Timur Tengah ini sudah terasa dampaknya?

Dampak tersebut terasa bagi penyelenggara yang menggunakan maskapai transit, bukan yang menggunakan penerbangan langsung (direct flight). Ada biaya tambahan (extra cost) yang ditimbulkan akibat memanasnya konflik tersebut.

Apa harapan Anda kepada pemerintah untuk pelaksanaan umrah dan haji sehubungan dengan situasi Timur Tengah yang panas?

Sebagai penyelenggara haji dan umrah, kami sangat taat pada arahan pemerintah. Harapan kami, sebelum menyampaikan sesuatu ke publik, ada baiknya dikomunikasikan terlebih dahulu agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Meski penyelenggaraan haji dan umrah ini mengandung unsur bisnis, faktor keselamatan tetap menjadi acuan utama kami.

Keselamatan adalah prioritas; jangan sampai ibadah yang bermaksud mendekatkan diri kepada Allah justru memiliki risiko keselamatan. Kami memerlukan arahan agar jemaah bisa tenang dan khusyuk melaksanakan ibadahnya. Inti dari ibadah adalah kekhusyukan dan kesempurnaan sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Seperti apa sikap dan tindakan KJRI di Jeddah saat ketegangan meletus di Timur Tengah?

Kami memberikan apresiasi yang tinggi untuk KJRI di Jeddah. Mereka sangat proaktif membantu jemaah yang terdampak. Mereka juga turun langsung ke Makkah dan Madinah untuk memantau jemaah yang masih berada di sana. Jadi, pemerintah benar-benar hadir saat warga negara membutuhkan.

Selama ini sudah ada atase ekonomi dan pendidikan, apakah menurut Anda sudah urgensi untuk membentuk atase haji dan umrah?

Dalam setahun, jumlah jemaah kita sekitar 1,7 juta orang dan ini akan terus tumbuh. Lima tahun ke depan bisa mencapai 5 juta orang. Pemerintah Arab Saudi memiliki Visi 2030, yang di dalamnya termasuk transformasi urusan haji dan umrah. Mereka menargetkan 2,6 juta orang Indonesia untuk perjalanan haji dan umrah. Ini bukan jumlah yang sedikit.

Sudah saatnya kita memikirkan terobosan diplomatik untuk keterwakilan pejabat kita di Arab Saudi dalam memberikan perlindungan bagi WNI yang beribadah. AMPHURI sudah merekomendasikan untuk meningkatkan nomenklatur Kantor Urusan Haji di Arab Saudi menjadi Atase Haji dan Umrah.

Selama ini, seperti apa penanganan urusan haji dan umrah tersebut?

Selama ini ada Kantor Urusan Haji (KUH) yang dipimpin oleh seorang staf teknis. Dengan kebutuhan yang begitu kompleks sekarang, memang dibutuhkan atase khusus haji dan umrah di Arab Saudi. Saatnya kita membentuk posisi tersebut.

Konflik di Timur Tengah masih berlangsung, apa skenario terburuk jika keadaan tak jua mereda?

Pertama, kita harus tetap melaksanakan perencanaan ibadah haji sesuai dengan lini masa (timeline) yang telah ditetapkan oleh Kementerian Haji Arab Saudi. Urusan visa untuk 221.000 jemaah haji asal Indonesia harus diselesaikan. Kedua, secara simultan kami berkoordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah serta syarikah yang ada di Arab Saudi. Fasilitas di Arafah dan Mina sudah disiapkan; puncaknya pada 15 Syawal nanti semua proses persiapan diharapkan sudah selesai.

Perlu ada mitigasi agar proses haji tahun ini tetap terlaksana dan jemaah haji Indonesia bisa berangkat. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah maskapai pengangkut jemaah memilih rute yang jauh dari pusat konflik. Jika perubahan rute tersebut mengakibatkan penambahan biaya bahan bakar, hal itu bisa dibicarakan. Membatalkan keberangkatan haji 2026 akan berdampak sangat luas bagi banyak pihak. Semoga tahun ini eskalasi menurun, haji sukses, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia memenuhi target. Semoga Kementerian Haji dan Umrah (RI) juga sukses menjalankan tugas di tahun pertama keberadaannya.

Firman Muhammad Nur dan Ramadan yang Penuh Kejutan

Indahnya suasana Ramadan di  Mekkah dan Madinah, kenang Firman Muhammad Nur selalu bikin rindu. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Indahnya suasana Ramadan di Mekkah dan Madinah, kenang Firman Muhammad Nur selalu bikin rindu. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)

Bagi Firman Muhammad Nur, Ramadan 1447 H ini penuh dengan kejutan, namun ia menjalaninya dengan penuh hikmah. “Ramadan tahun ini memang penuh dengan kejadian yang mengejutkan. Alhamdulillah, di Jakarta terasa lebih sejuk karena sering hujan. Kepulangan dan keberangkatan jemaah yang sempat tertunda untuk penerbangan transit kini sudah mulai kembali normal, terutama untuk penerbangan langsung dari Indonesia ke Arab Saudi,” katanya.

Firman mengakui bahwa keberangkatan dan kepulangan jemaah umrah kini sudah lebih lancar dari sebelumnya. “Meski demikian, saya terus memantau situasi dan kondisi di Tanah Suci, terutama di Makkah dan Madinah, melalui siaran langsung (live) yang disediakan oleh saluran YouTube resmi Pemerintah Arab Saudi,” lanjutnya.

Berdasarkan pantauannya, kondisi di Makkah terlihat sangat semarak. “Kemarin saya lihat suasana tawaf menjelang Magrib di Masjidil Haram luar biasa. Semangat para jemaah terlihat tak kendur. Area tawaf tetap padat, mereka sangat antusias,” kata Firman yang terakhir kali menjalankan ibadah puasa di Tanah Suci pada tahun 2024.

Suasana di Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah, menurutnya juga tak kalah menarik. “Di bulan Ramadan ini, keramahan (hospitality) penduduk Madinah sangat menonjol. Mereka berebutan mengajak jemaah menikmati hidangan buka puasa. Mereka paham bahwa memberikan iftar bagi orang yang berpuasa akan mendatangkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut. Jadi, sejak keluar dari hotel, kita sudah diajak berbuka oleh mereka,” tuturnya.

Dulu, menu buka puasa yang diberikan warga Madinah dan Makkah bervariasi. Namun, menurut Firman, sekarang menu tersebut sudah diseragamkan. “Jadi tidak ada lagi perbedaan antara yang di kiri dan kanan. Hidangan iftar-nya sama; ada kurma, yogurt, dan roti. Pengalaman berpuasa di Tanah Suci itulah yang tampaknya membuat orang selalu ingin kembali ke sana,” katanya.

Iktikaf Sampai Akhir Ramadan

Masyarakat kota Madinah dan Mekkah di bulan Ramadan ungkap Firman Muhammad Nur berebut dan bersaing memberikan jamuan iftar untuk mereka yang berpuasa. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Masyarakat kota Madinah dan Mekkah di bulan Ramadan ungkap Firman Muhammad Nur berebut dan bersaing memberikan jamuan iftar untuk mereka yang berpuasa. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)

Sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan menjadi pengalaman yang sangat berkesan baginya saat berada di Tanah Suci. “Suasananya sangat damai dan tenang. Saya benar-benar fokus beribadah, mulai dari sahur, puasa, iftar, Tarawih, hingga iktikaf. Begitu seterusnya siklus sepuluh hari terakhir di sana,” ungkapnya.

Tahun ini, karena berada di tanah air, Firman menghabiskan sepuluh malam terakhir Ramadan di Kampung Maghfirah, Caringin, Bogor, Jawa Barat. “Di sana kami membangun Masjid Iktikaf Maghfirah yang dirancang khusus untuk kenyamanan beriktikaf. Lokasinya di lereng Gunung Pangrango. Sampai saat ini, sudah seribu jemaah yang mendaftar,” jelasnya.

Berbeda dengan di Jakarta, di Bogor jemaah bisa lebih fokus. “Kalau di Jakarta mungkin kita masih bisa pulang ke rumah lalu kembali lagi ke masjid. Kalau di Kampung Maghfirah, jemaah lanjut terus sampai akhir Ramadan,” terangnya.

Sebagai tuan rumah, Firman Muhammad Nur merasa berkewajiban memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah yang datang bukan hanya dari Jabodetabek, tapi juga daerah lain. “Kegiatannya penuh; mulai dari tadarus, tarawih, bimbingan, hingga pengajian. Imamnya luar biasa, kualitas bacaannya setara Imam Sudais di Tanah Suci. Setiap salat Tarawih, bacaan ayatnya mencapai satu juz,” ujarnya.

Pulang Setelah Salat Idulfitri

Untuk sepuluh malam terakhir di Ramadan tahun ini Firman Muhammad Nur melewatinya di Kampung Maghfirah, Caringin, Bogor, Jawa Barat. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Untuk sepuluh malam terakhir di Ramadan tahun ini Firman Muhammad Nur melewatinya di Kampung Maghfirah, Caringin, Bogor, Jawa Barat. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)

Firman menambahkan bahwa banyak jemaah di Kampung Maghfirah menjalankan iktikaf hingga tuntas. “Jadi mereka langsung melaksanakan salat Idulfitri di sana dan baru pulang ke rumah setelahnya,” katanya.

Ada juga program iktikaf selama 40 hari. “Ada yang sudah mulai beriktikaf sejak 10 hari menjelang Ramadan, lalu lanjut sebulan penuh. Ternyata peminatnya cukup banyak,” ungkapnya.

Satu lagi program yang diminati jemaah adalah Pesantren Husnul Khatimah. “Awalnya yang tertarik adalah mereka yang sudah pensiun atau lansia. Tapi sekarang, banyak anak muda yang ikut. Persiapan menuju hari akhir tidak harus menunggu usia senja,” katanya.

Firman Muhammad Nur percaya bahwa mereka yang memiliki pola pikir sukses akhirat, kehidupan duniawinya juga akan tertata dengan baik. “Orang yang punya mindset sukses akhirat ternyata lebih produktif dan integritasnya tidak perlu diragukan lagi,” pungkasnya.

"Yang membuat kami tenang, Pemerintah Arab Saudi menegaskan meski terjadi konflik di Timur Tengah, situasi di dua kota suci, Makkah dan Madinah, masih sangat kondusif,"

Firman Muhammad Nur