Eksklusif, Bukan Mitos, Lestari Moerdijat Perjuangkan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional   
Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Foto: Dok Pribadi, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

Tantangan terbesar saat Wakil Ketua MPR RI, Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M., dan tim ketika hendak membantu mengusulkan sosok Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional adalah pertanyaan apakah dia sosok nyata atau cuma legenda. Untuk menjawab pertanyaan ini bukan perkara mudah, karena minimnya bukti-bukti empiris soal keberadaan sang ratu. Setelah berkelana ke sana kemari akhirnya ditemukan sumber primer dari Portugis yang bisa menjadi landasan ilmiah kalau Ratu Kalinyamat adalah sosok yang nyata, bukan mitos.

***

Lestari Moerdijat sebagai anggota legislatif Partai Nasdem, daerah pemilihan Jawa Tengah II (Kab. Kudus, Jepara dan Demak) terpanggil untuk mengangkat sosok Ratu Kalinyamat yang pernah diusulkan sebagai Pahlawan Nasional namun kandas.

Sosoknya yang gagah perkasa sebagai seorang perempuan bisa diteladani. Dan semangatnya menjaga Nusantara dari intervensi asing dalam hal ini Portugis bisa menjadi contoh untuk masa kini dan nanti. Inilah yang melandasi Lestari lewat Yayasan Dharma Bhakti Lestari (YDBL), menginisiasi kembali hal ini.

Ratu Kalinyamat dengan kepiawainya berdiplomasi, menurut Lestari, bisa menggalang kerjasama  strategis antarkerajaan pesisir dari Aceh hingga Maluku untuk bersatu-padu melawan kolonialisme bangsa Eropa yang sudah merambah Nusantara kala itu.

“Saat itu Portugis memang tidak bisa dikalahkan oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara. Namun Portugis tak bisa masuk ke Nusantara dan hanya bertahan di Malaka. Setelah Ratu Kalinyamat tiada barulah mereka bisa menjelajah ke Nusantara,” katanya.

Karena minimnya data empiris dari dalam negeri, tim yang dibentuk Lestari sampai harus berkelana hingga ke Portugis. Catatan tentang Ratu Kalinyamat ini masih tersimpan rapih di gereja-geraja tua Portugis. Dari catatan itulah diketahui secara lebih jelas seperti apa sosok Sang Ratu yang amat ditakuti. Ratu Kalinyamat digambarkan sebagai sosok ratu yang kaya raya, berkuasa dan sangat pemberani.

Dia kata Lestari, memiliki armada perang yang luar biasa. Kengerian pasukan Portugis digambarkan secara metapora seperti seramnya orang saat ini melihat kapal induk milik Amerika yang besar dan memiliki persenjataan yang komplit.

Berdasarkan temuan catatan dari Portugis itu Lestari menandaskan kalau sosok Ratu Kalinyamat nyata dan bukan legenda atau mitos.

“Temen-temen kami luar biasa, berhasil membuat komunikasi dengan kawan-kawan di Portugis. Akhirnya bisa menemukan beberapa sumber yang ditulis misionaris yang tersimpan di gereja Katolik soal kebesaran Ratu Kalinyamat,” ujarnya kepada Edy Suherli dari VOI yang melakukan wawancara daring belum lama berselang.  Inilah petikan selengkapnya. 

Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Foto: Dok Pribadi, DI: Raga/VOI)

Apa yang melandasi Anda begitu gigih memperjuangkan Ratu Kalinyamat untuk menjadi Pahlawan Nasional?

Sebetulnya (keinginan mengusulkan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional) adalah inisiatif dari masyarakat Jepara beberapa waktu yang lalu sekira tahun 2008 – 2009. Waktu itu sudah pernah ada usul dari Pemerintah Daerah Kabupaten Jepara kepada Pemerintah Pusat agar Ratu Kalinyamat  dapat diberikan gelar Pahlawan Nasional. Saat itu ada penolakan dari pemerintah pusat. Yang menjadi alasan penolakan itu ada ada dua hal. Pertama apakah Ratu Kalinyamat ini tokoh sesungguhnya atau legenda. Yang kedua, dalam legenda itu Ratu Kalinyamat ini dikenal orang dalam konteks yang negatif. Di antaranya dengan tapa telanjang-nya, sumpahnya untuk membunuh Arya Penangsang. Kemudian dia juga digambarkan melakukan praktek-praktek yang mungkin dianggap melanggar kesusilaan.

Saya yang kebetulan anggota DPR RI terpilih dari Dapil Jateng 2 yang meliputi Jepara, Kudus dan Demak, jauh sebelum terpilih bersahabat baik dengan alm. Bapak Subroto, Wakil Bupati Jepara. Saat berkenalan dia menceritakan soal Ratu Kalinyamat. Setelah itu saya dan beberapa kawan dari Jepara mencoba mencari informasi lebih lanjut soal sosok Ratu Kalinyamat ini. Ketika saya terpilih menjadi anggota dewan, momentum ini seperti muncul lagi. Perjuangan untuk mengusung Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional harus diperjuangkan lagi. Saya bersama Yayasan Dharma Bhakti Lestari (YDBL), menginisiasi kembali hal ini.

Harus saya sampaikan ini adalah perjuangan seluruh rakyat Jepara. Jadi bukan miliknya Lestari Moerdijat atau Partai Nasdem saja, tapi ini milik bangsa ini. Kami mengajak semua pihak, baik individu masyarakat maupun organisasi yang merasa memiliki dan berkeinginan bersama-sama untuk meluruskan kembali sejarah, yuk sama-sama bergerak. Atas dasar itulah tim ini terbentuk. Kami didukung oleh Pusat Studi Ratu Kalinyamat,  Unisnu Jepara, Yayasan Lembayung, lembaga masyarakat dan Pemerintah Daerah Jepara. Nanti yang bertugas mengajukan usulan ini Pemerintah Daerah Jateng.

YDBL mempersiapkan data, seperti yang dikemukakan sejak awal, ini tokoh betulan atau legenda. Untuk itu harus dilakukan pembuktian secara akademis. Di sinilah peran yang diambil oleh YDBL. Kami menyiapkan tim ahli terdiri dari sejumlah pakar yang diketuai oleh Prof. Ratno, yang telah melakukan kajian selama tiga tahun lebih. Dan berhasil menemukan sumber primer di Portugis yang kemudian bisa dijadikan dasar untuk menjawab pertanyaan yang timbul sebelumnya.

Jadi Ratu Kalinyamat ini bukan legenda?

Ya, Ratu Kalinyamat itu bukan legenda. Selama ini Ratu Kalinyamat dikenal oleh masyarakat bahkan makam beliau dan suami  termasuk salah satu makam yang sampai hari ini masih ramai dikunjungi oleh peziarah.

Kalau kita pelajari sejarah, memang ketika terjadi pemindahan kekuasaan dari kerajaan-kerajaan pesisir ke  pedalaman,  ada periode yang terputus. Kemudian menghilang sama sekali peran dari Ratu Jepara ini. Sekarang ini kita hanya tahu bahwa di Jepara ada perempuan luar biasa berkuasa dan ditakuti itu hanya dari catatan yang dibuat oleh Portugis. Dari catatan-catatan sejarah nasional kita tak ditemukan, seperti hilang.

Yang juga menyulitkan tim kami, ketokohan Ratu Kalinyamat ini selalu dikaitkan dengan mitos.  Perannya harus betul-betul bisa dibuktikan dan sayang sekali saat ini peninggalan-peninggalannya sendiri enggak ada kecuali makamnya. Apa yang dikatakan bahwa Jepara memiliki galangan kapal, memiliki industri pertahanan dan lain-lain itu nyaris tidak ada. Jadi bukti-bukti secara arkeologis kami tidak mendapatkan.

Tapi sudah ada penelitian yang dilakukan dan ada hasilnya dalam bentuk buku soal Ratu Kalinyamat.  Buku Ratu Kalinyamat Sejarah atau Mitos, ini adalah buku pertama yang dibuat berdasarkan sumber tutur. Kemudian setelah 4 tahun tim peneliti bekerja keras akhirnya berhasil mengumpulkan bukti dari laporan penelitian empiris. Yang pada akhirnya bisa dijadikan dasar dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, menjadi bukti primer bahwa keberadaan  Ratu Kalinyamat ini adalah nyata dan perannya juga dapat ditelusuri sebagaimana catatan sejarah yang ada di Portugis.

Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Foto: Dok Pribadi, DI: Raga/VOI)
Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Foto: Dok Pribadi, DI: Raga/VOI)

Bagaimana repson warga Jepara untuk usul Ratu Kalinyamat jadi Pahlawan Nasional?

Masyarakat Jepara sudah pasti mendukung. Ratu Kalinyamat ini kan ada dendamnya kepada Arya Panangsang, yang kemudian di dalam cerita atau mitologi dikatakan Sang Ratu meninggalkan kerajaan dan bersumpah tidak akan berpakaian sebelum dendamnya terbalas. Dia akan mencuci rambutnya dengan darah Arya Penangsang. Oleh masyarakat yang berada di bawah naungan kekuasan Arya Penangsang, persepsi pada Ratu Kalinyamat tentu berbeda. Ada juga penafsiran lain soal meninggalkan kerajaan, menanggalkan busana bukan berarti telanjang. Tapi maknanya meninggalkan kebesaran.

Menurut Anda mengapa sosok Ratu Kalinyamat ini terdapat mis-persepsi di wilayah Pantura (Pantai Utara Jawa) sampai ada lakon ketoprak yang sedikit mengurangi makna kebebesaran Ratu Kalinyamat ini?

Saya memang baru tahu dari teman-teman Ketoprak Balekambang waktu ngobrol dengan mereka. Jadi di Pantura itu ada lokon ketoprak yang judul lakonnya Ratu Kalinyamat Lonte. Ini kan menyedihkan sekali bisa sampai seperti ini. Katanya lakon ini digemari sekali.

Mengapa ini bisa terjadi? Kalau kita  pelajari sejarah, saat ada dinasti baru muncul, ada proses untuk menafikan dinasti sebelumnya. Di jaman kolonial Belanda bisa juga ada proses ini, untuk menafikan perannya dikembangkanlah cerita-cerita fitnah ini.

Dan itu bertahan sampai sampai sekarang. Engga usah jauh-jauh rekan saya sendiri Mas Sugeng Suparwoto Ketua Komisi VII DPR RI dari Partai Nasdem masih punya pandangan negatif soal Ratu Kalinyamat. Teman-teman saya di MetroTV, Agus Mulyadi melakukan riset kecil-kecilan soal Ratu Kalinyamat. Dari delapan orang di Jawa (selain Jepara) yang ditanya tujuh orang jawabannya negatif tentang Ratu Kalinyamat.

Kalau di Jepara ketokohan Ratu Kalinyamat ini diakui. Di pintu masuk Jepara ada tiga patung tokoh perempuan; Ratu Kalinyamat, Raden Ajeng Kartini dan Ratu Shima. Karena di lokasi yang strategis orang saat masuk Jepara pasti melihat. Sedangkan di luar Jepara persepsinya amat menyedihkan; Ratu Kalinyamat  dianggap mitos dan punya stigma buruk.

Jadi terdapat perbedaan yang amat mencolok antara Jepara dan daerah luar Jepara soal kesan pada Ratu Kalinyamat ini. Apa rencana selanjutnya?

Tugas kita semua kalau mau mengajukan kembali Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tadi. Yang kedua melakukan komunikasi publik untuk meluruskan kembali sejarah. Itulah yang kami inisiasi. Dan alhamdulillah seminggu lalu secara formal pemerintah Jepara sudah mengajukan surat kepada Pemerintah Provinsi untuk diteruskan kepada Pemerintah Pusat. Dukungan dari tokoh masyarakat, budayawan, tokoh agama juga sangat luar biasa. Habib Lutfi sendiri berkenan melakukan “gerakan” membersihkan nama Ratu Kalinyamat.

Dalam tim kami ada pendapat dari seorang pengamat militer; Ibu Connie Rahakundini Bakrie memberikan masukan kepada saya soal Ratu Kalinyamat ini, sebetulnya kalau ditarik pada konteks masa kini sangat relevan, luar biasa. Jadi bagaimana Ratu Kalinyamat itu sudah punya visi pemikiran poros maritim dunia. Bagaimana Ratu Kalinyamat sudah memiliki pemikiran bahwa kalau mau menjaga wilayah kita, menjaga wilayah Jepara, wilayah pesisir dari Aceh sampai Timur dengan menjaga laut. Bahkan  Ratu Kalinyamat berhasil membuat Pakta Pertahanan yang kemudian bersama-sama mulai dari Aceh sampai Hitu di Timur. Dia  mempersiapkan armada maritim dan memblokade laut. Jadi tentara Portugis enggak bisa masuk. Memang Portugis tidak kalah, tapi mereka bertahan di Malaka dan masuk setelah zaman Ratu Kalinyamat tiada. Tapi pada waktu itu secara luar biasa kekuatan ini berhasil menghalau Portugis untuk kembali ke Malaka.

Seperti apa data yang didapat dari Portugis soal Ratu Kalinyamat ini?

Temen-temen kami luar biasa, berhasil membuat komunikasi dengan kawan-kawan di Portugis. Akhirnya bisa menemukan beberapa sumber yang ditulis misionaris yang tersimpan di gereja soal kebesaran Ratu Kalinyamat.

Dalam data-data yang ada atau laporan perjalanan yang dituliskan misionaris Portugis dikatakan bahwa ada perempuan luar biasa kaya dan berkuasa di Jepara. Dan ini membuat tentara Portugis saat itu ciut. Kalau kata Bu Connie, mereka menggambarkan kebesaran itu seperti melihat kapal induk Amerika yang besar sekali. Seperti itulah ketakutan mereka melihat kapal-kapal Jepara.

Itu ada di dalam catatan dan laporan yang berhasil ditemukan, data-data itulah yang akhirnya digunakan oleh tim ahli dan pakar untuk bisa menjawab bahwa Ratu Kalinyamat bukan mitos, tapi Ratu Kalinyamat adalah tokoh yang nyata yang perannya bisa dibuktikan dari berbagai macam sumber primer, mulai dari catatan perjalanan orang-orang Portugis seperti yang tadi saya sampaikan dan kemudian juga beberapa sejarawan sejarawan Barat yang memang sempat membuat catatan.

Jadi menurut Anda peran Ratu Kalinyamat ini sudah cukup untuk dijadikan alasan menjadi Pahlawan Nasional?

Menurut undang-undang nomor 20 tahun 2009 tentang Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, jelas syarat untuk seseorang diberikan tanda jasa atau kehormatan sebagai pahlawan. Syaratnya warga negara yang secara jelas berjuang melawan penjajah di wilayah Indonesia. Ratu Kalinyamat juga sudah menunjukkan bagian peran bela negara di sini. Dia juga melahirkan semangat antikolonialisme pada waktu itu. Dan tindakan pencegahannya jelas-jelas menunjukkan kepeloporan dan kepahlawanan. Pikiran-pikirannya kalau di bawah pada saat ini masih sangat relevan.

Adakah target untuk menuntaskan rencana ini?

Proses kami membantu mensukseskan gelar kepahlawanan ini sudah dimulai sejak 2018. Jadi tim YDBL yang saya bentuk sudah menyelesaikan tugasnya. Yang pertama tentu berhasil menemukan sumber-sumber primer yang bisa menjadi dasar pengajuan. Ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dan kegalauan soal Ratu Kalinyamat ini mitos atau bukan. Yang kedua serangkaian proses uji publik dan akademik sudah kami lakukan karena setiap kali ada temuan selalu membuat pertemuan terbuka. Apakah itu diskusi ilmiah di Universitas, diskusi publik jadi serangkaian diskusi ilmiah, seminar dan lain sebagainya. Dan hasilnya sudah kami serahkan kepada Pemerintah Jepara. Dan mereka sudah mengirimkan surat ke Pemda Jawa Tengah. Kita tunggu saja prosesnya.

Saya bersyukur semua pihak bergandengan tangan untuk mendukung upaya ini. Sekarang kita doakan semoga niat baik ini mendapat jawaban dari pemerintah. Ini perjuangan bersama masyarakat Jepara dan sekitarnya untuk meluruskan sejarah. Siapa pun yang pernah berjuang dan menorehkan sejarah dalam perjuangan kita melawan kolonialisme untuk mencapai kemerdekaan perlu mendapat perhatian dan tempat. Dan Ratu Kalinyamat layak untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional.

 

Kiat Lestari Moerdijat Menjalani Hidup yang Kedua

Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Foto: Dok Pribadi, DI: Raga/VOI)
Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Foto: Dok Pribadi, DI: Raga/VOI)

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M., membuktikan semua itu ketika dirinya divonis mengidap kanker. Sejak masih duduk di banku SMP hingga kuliah, dia sudah menemani mendiang sang ibu yang harus bertarung menghadapi kanker yang menggerogoti raganya. “Saya sebagai seorang penyintas kanker, dapat kesempatan untuk hidup yang kedua. Saya selalu bilang, kita harus merayakan kehidupan, tapi kita juga harus berdamai dengan kematian. Ya sudah jalanin saja,” katanya.

Bukan hanya Indonesia, namun seluruh dunia gagap menghadapi pandemi COVID-19  yang pertama muncul dari Timur Jauh (Wuhan China). “Kita juga tidak pernah menduga (COVID-19) sampai selama ini. Tiba-tiba COVID-19 sudah mau ulang tahun kedua,” katanya.

Dengan realitas ini, kata Rerie –begitu dia biasa disapa—keberadaan corona ini akan terus ada. “Akhirnya kita tersadar bahwa rasanya ya dia (COVID-19) akan terus ada, dan tinggal bersama kita. Tinggal sekarang bagaimana kita melihat ini? Kita sudah mulai menjalankan kenormalan baru. Sejak jaman purba hingga sekarang manusia selalu beradaptasi dengan keadaan. Akhirnya menemukan teknologi dari yang sederhana sampai yang sangat maju dewasa ini,” kata perempuan kelahiran Surabaya, 30 November 1967 ini.

Pandemi ini kata Rerie bukan yang terakhir, akan ada lagi bentun-bentuk berikutnya. Kata kuncinya bagaimana kita harus mempelajari dan menjadikan pengalaman masa lalu sebagai cara untuk bisa beradaptasi menghadapi masa depan.

Kita tidak mungkin berkurung di rumah selamanya, kehidupan harus kembali normal. “Marilah kita beradaptasi sambil tentu tidak boleh lupa dan terus-menerus berdoa supaya Allah Subhanahu Wa Ta'ala Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan jalan. Kita terima keadaan ini dengan hati terbuka, dengan keikhlasan dan kerelaan akan lebih mudah kita jalani. Namanya kematian semua orang akan mengalami, jalannya saja yang berbeda.  Kalau diizinkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, kita minta diberikan umur yang panjang, diberikan kesehatan, diberikan jalan yang tidak menyakitkan dan jalan yang mudah,” paparnya.

Apalagi dia sebagai seorang penyintas kanker dan komorbid. “Kalau saya ini kan komorbid yang masih sebagai seorang penyintas kanker. Saya sendiri terus terang baru dianggap penyintas ini Februari 2022 ini. Sebelumnya masih masuk kategori warrior karena belum 5 tahun. Memang berat karena pengobatan saya belum selesai, pada saat pertama kali COVID-19 dan kemudian tiba-tiba ada lockdown kita juga tidak bisa melakukan kegiatan ataupun travelling. Itu memang menyulitkan ke saya karena ada periode pengobatan saya yang belum selesai dan harus diselesaikan tidak di sini. Saya terakhir berobat Januari 2019. Jadi pengobatan saya terhenti,” ungkapnya.

Yang membuat Rerie bersyukur ada beberapa proses pengobatan meski tidak semua bisa dilakukan di Jakarta. “Alhamdulillah tahun lalu berhasil ada beberapa pengobat yang bisa dilakukan meski tidak semuanya. Namun ya mau nggak mau yang harus dilakukan penyesuaian,” akunya.

Diakuinya mobilitas orang seperti dirinya jauh lebih sulit dibandingkan orang yang tidak komorbid berbeda. “Tapi makin ke sini setelah pengetahuan dan  lebih banyak tentang COVID-19,  kemudian setelah kita mendapatkan banyak resources dan perkembangan ilmu juga cepat rasanya bisa melewati hal ini,” katanya optimis.

Secara berseloroh ia mengambarkan kondisinya yang sehari harus mandi sampai delapan kali setelah bertemu dengan orang lain. “Saya ini sudah  melebihi peragawati saja, kalau ada pertemuan sehari bisa delapan kali mandi. Apa boleh buat, ya paling masuk angin,  tapi enggak COVID-19. Itu yang harus saya jalani,” katanya.

 

Merayakan Kehidupan

Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Foto: Dok Pribadi, DI: Raga/VOI)
Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Foto: Dok Pribadi, DI: Raga/VOI)

Buat Rerie yang seorang penyintas menganggap salah satu kunci penyembuhan adalah penerimaan.  “Kalau saya sebagai seorang penyintas kanker, saya ini dapat kesempatan untuk hidup yang kedua. Saya selalu bilang kita harus merayakan kehidupan, tapi kita juga harus berdamai dengan kematian. Ya sudah jalanin saja,” katanya.

Untuk sampai pada level penerimaan dan sikap yang legowo yang demikian, Rerie mengalami sejarah panjang yang penuh warna. “Saya dibesarkan dari keluarga yang kanker pada kesehatan,  ayah saya dokter. Tetapi ibu saya  meninggal di usia 51 tahun. Beliau divonis menderita kanker ketika umurnya 40 tahun. Dia bisa hidup 11 tahun sebelum pergi untuk selamanya. Jadi lebih muda dari usia saya sekarang. Ketika ketika beliau terkena kanker saya masih SMP,” ungkapnya.

Sang bunda menjalani pengobatan kanker di Belanda. Dan Rerie sebagai anak tertua mendapat tugas untuk menemani saat ibunya menjalan pengobatan di Negeri Kincir Angin itu pada tahun 1980-an. Meski hal itu berat, namun itu dilakukan dengan fun. “Dia membuat pengobatan itu menjadi sesuatu yang fun dan sembari mengajak kami jalan-jalan.  Padahal tugas saya menemani ibu yang berobat. Selama hampir tiga tahun menjalani hal itu,” katanya.

Ketika Rerie menginjak dewasa dan sudah kuliah sang bunda sudah mengajaknya berdiskusi. “Saya mulai paham dan pada saat saya kuliah, almarhumah bukan menebar kegundahan tapi mengajak berdiskusi soal apa yang akan dihadapinya hari demi hari setelah menjalani beragam tindakan kedokteran,” katanya.

Ketika suatu hari Rerie juga mendapat vonis kanker seperti yang dialami ibunya dulu, ia langsung ingat dengan pengalaman yang dialami mendiang ibunya. “Saya bersyukur melalui semuanya, saya teringat pada langkah-langkah yang dilakukan oleh ibu saya. Dia itu seperti tidak pernah menunjukkan sama sekali kesakitannya. Satu yang saya baru sadar, sebelum meninggal ibu diminta bicara di acara kongres dokter onkologi di Malang tahun 1990 untuk menceritakan pengalamannya,” katanya.

Ibu saya bilang begini, “Saya menyanyi bukan karena bahagia, tapi saya bahagia karena menyanyi. Di situ saya faham. Saat itu ibu saya sering mengajak bernyanyi, ternyata itu cara dia untuk melepaskan kesakitannya. Pengalaman menemani ibu saya itu amat membantu saya saat juga terkena kanker. Termasuk dia mengajarkan metode self healing,” ungkap Lestari Moerdijat.

 

Periksa Dini

Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Foto: Dok Pribadi, DI: Raga/VOI)
Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M. (Foto: Dok Pribadi, DI: Raga/VOI)

Dalam momentum bulan Februari yang disebut bulan kanker. Rerie menekankan bahwa kanker payudara dan kanker serviks yang banyak diderita kaum perempuan sejatinya bisa disembuhkan. “Sebagai perempuan saya ingin menyampaikan kanker banyak didapati  yaitu kanker payudara dan kanker serviks kanker itu bisa disembuhkan dengan deteksi dini,” katanya.

“Saya ingin mengajak semua orang, untuk mari mengajak sekeliling kita, saudara kita, ibu kita, tante kita, teman kita untuk melakukanlah deteksi dini. Lakukan pemeriksaan diri sendiri dan pada orang-orang yang memiliki potensi tinggi seperti saya, untuk memeriksa dini dan melakukan pemeriksaan berkala,” katanya.

Dengan mengetahui lebih awal, kita katanya, bisa lebih awal menyelesaikan dan menangani semuanya dengan lebih baik. “Itu kuncinya, salam sehat untuk semuanya,” kata Lestari Moerdijat menyudahi perbincangan.

 

“Empat tahun tim peneliti bekerja keras akhirnya berhasil mengumpulkan bukti dari laporan penelitian empiris. Dan ini bisa dijadikan dasar dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, menjadi bukti primer bahwa keberadaan  Ratu Kalinyamat ini adalah nyata dan perannya juga dapat ditelusuri sebagaimana catatan sejarah yang ada di Portugis," 

Dr. Lestari Moerdijat, S.S., M.M.